Waspada! BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Lebih Kering di 451 Wilayah
Peralihan Monsun: Mengapa Musim Hujan Berakhir Lebih Cepat?
JAKARTA, GENVOICE.ID -Waspada kekeringan, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dan bersifat lebih kering dari biasanya.
Meskipun curah hujan masih tinggi di awal Maret, fenomena El Niño kategori lemah hingga moderat membayangi pertengahan tahun ini.
Dengan perkiraan puncak kemarau yang jatuh pada Agustus mendatang, penting bagi masyarakat untuk memahami pergeseran zona musim agar dapat melakukan persiapan lebih dini. Simak rincian wilayah yang terdampak serta jadwal lengkap peralihan musim menurut data terbaru BMKG berikut ini.
Jadwal Masuknya Musim Kemarau di Berbagai Wilayah
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini akan tiba lebih awal dari biasanya di hampir separuh wilayah Indonesia (46,5% Zona Musim). Berikut adalah rincian waktunya:
-
April 2026: Memasuki wilayah pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
-
Mei 2026: Menyusul di 184 Zona Musim (ZOM) lainnya.
-
Juni 2026: Mencakup 163 ZOM tambahan.
Secara umum, wilayah yang akan mengalami kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Kapan Puncak Musim Kemarau 2026?
BMKG memproyeksikan puncak kondisi kering akan terjadi secara bertahap:
-
Juli 2026: Meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan tengah dan utara, sebagian Jawa, Nusa Tenggara, hingga Papua Barat.
-
Agustus 2026 (Puncak Utama): Menjadi puncak kemarau bagi 61,4% wilayah Indonesia, termasuk Sumatra bagian selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, seluruh Bali, Nusa Tenggara, serta mayoritas Kalimantan dan Sulawesi.
-
September 2026: Puncak kemarau masih berlangsung di Lampung, NTT, Sulawesi bagian utara, Maluku, dan sebagian kecil Papua.
Waspada Kemarau Lebih Panjang dan Lebih Kering
Sifat musim kemarau tahun ini diprediksi akan berada di kategori Bawah Normal (lebih kering dari biasanya) pada 64,5% wilayah Indonesia. Hanya sebagian kecil wilayah di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau yang lebih basah (Atas Normal).
"Durasi musim kemarau di lebih dari separuh wilayah Indonesia diprediksi akan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normalnya," tegas Faisal. Masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air dan mewaspadai potensi kekeringan serta kebakaran hutan di wilayah-wilayah kritis.
Perubahan pola cuaca yang cenderung lebih kering dan durasi kemarau yang lebih panjang menuntut kesiapsiagaan kita semua. Dengan data dari BMKG ini, diharapkan sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga penanggulangan bencana dapat mengambil langkah mitigasi yang tepat.
Tetap pantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG untuk mengantisipasi dampak anomali iklim di wilayah kamu. Semoga persiapan yang matang dapat meminimalisir risiko kekeringan di tahun 2026 ini.
0 Comments
- Lisa Mariana Bongkar ‘Cinta Satu Malam’ Safa Marwah dan Ridwan Kamil, Sebut Si Selebgram Tukang Bohong!
- Berita Viral Balita Tewas di Sukabumi Picu Ketakutan Gen Z, Sampai Borong Obat Cacing di Apotek
- Profil dan Biodata Diva Azzura: Mantan Artis Cilik yang Kini Dikabarkan Dekat dengan Na Daehoon Usai Cerai dari Jule
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!