Eksodus dari Kota Judi dan Scam Bavet, WNI Angkat Koper Menuju Phnom Penh

Eksodus dari Kota Judi dan Scam Bavet, WNI Angkat Koper Menuju Phnom Penh
Ilustrasi Human Trafficking - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID -  Koper-koper berjejer rapi di lantai Restoran Nongki-Nongki, Bavet, Kamboja. Aroma nasi campur dan masakan ala Padang memenuhi ruangan, tetapi suasana tidak seramai biasanya.

Sebagian besar pelanggan adalah orang Indonesia. Mereka makan dalam diam, berbicara pelan. Dari sudut lain terdengar umpatan dalam bahasa Indonesia, nama-nama hewan terselip di antara percakapan yang tegang.

Sabtu sore, 24 Januari 2026, menjadi hari yang berbeda. Mereka bersiap meninggalkan kota kasino di perbatasan Kamboja-Vietnam itu menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh. Penggerebekan besar-besaran aparat Kamboja terhadap kompleks penipuan daring memicu kepanikan. Ribuan pekerja meninggalkan Bavet, termasuk sejumlah warga negara Indonesia. Deretan koper di restoran-restoran Indonesia menjadi tanda paling nyata: eksodus telah dimulai.

Bavet berada di Provinsi Svay Rieng, sekitar 167 kilometer dari Phnom Penh. Perjalanan darat memakan waktu lebih dari tiga jam. Kota ini berbatasan langsung dengan Moc Bai, Vietnam, dan selama bertahun-tahun dikenal sebagai pusat kasino yang ramai. Dalam beberapa tahun terakhir, reputasinya berubah. Bavet disebut-sebut sebagai salah satu simpul operasi penipuan daring lintas negara.

Di tengah situasi itu, Faisal memilih mengamati dari atas sepeda motornya. Pria 23 tahun asal Medan, Sumatera Utara, itu sudah tinggal di Kamboja sejak Februari 2023. Ia bekerja sebagai kurir katering untuk sebuah restoran yang memasok makanan ke perusahaan-perusahaan yang belakangan diketahui terlibat praktik penipuan.

Kini, pesanan makanan merosot tajam.

“Dulu saya mengantarkan 1.000 sampai 1.500 boks makanan sehari. Bulan lalu bahkan tidak sampai setengahnya,” kata Faisal, Sabtu malam itu.

Di sampingnya duduk Agatha, 24 tahun, yang tengah hamil empat bulan. Sesekali ia mengusap perutnya, lalu bergantian bercerita tentang kehidupan mereka di kota perbatasan itu. Bagi mereka, Bavet bukan sekadar lokasi kerja, melainkan tempat membangun harapan baru, yang kini mendadak terasa rapuh.

Penggerebekan aparat membuat banyak perusahaan tutup mendadak. Sejumlah pekerja memilih kembali ke Indonesia atau mencari perlindungan ke KBRI. Kota yang biasanya hidup 24 jam mendadak berubah. Restoran lebih sepi, lalu lintas pekerja asing berkurang drastis, dan obrolan yang terdengar bukan lagi soal target kerja, melainkan rencana pulang.

Bavet tetap berdiri sebagai kota perlintasan strategis antara Phnom Penh dan Ho Chi Minh City. Namun bagi banyak pekerja Indonesia yang angkat koper akhir Januari itu, kota ini meninggalkan kesan berbeda: tempat yang menjanjikan penghasilan cepat, tetapi juga menyimpan risiko besar di balik gemerlap kasino dan gedung-gedung tinggi.

Di Restoran Nongki-Nongki, koper-koper itu perlahan diangkat satu per satu. Sebagian menuju Phnom Penh, sebagian lain mungkin akan melanjutkan perjalanan pulang ke Tanah Air. Sore itu, Bavet tidak lagi sekadar kota judi dan scam. Ia menjadi titik balik bagi banyak cerita yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE