Pemprov DKI Pasang Saringan Sampah di 11 Sungai, Cegah Sampah Masuk ke Pusat Kota

Pemprov DKI Pasang Saringan Sampah di 11 Sungai, Cegah Sampah Masuk ke Pusat Kota
- (Dok. Detik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memperluas penggunaan sistem saringan sampah di sejumlah sungai untuk mencegah sampah terbawa aliran hingga ke kawasan perkotaan. Sistem tersebut rencananya diterapkan di 11 sungai di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pengembangan sistem saringan sampah itu dilakukan setelah Pemprov DKI melihat penerapan Sistem Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS) di Jakarta Selatan.

Saat meninjau fasilitas tersebut pada Senin, Pramono menyebut 11 sungai yang akan menjadi lokasi pengembangan sistem saringan sampah, yakni Kali Sunter, Cipinang, Jatikramat, Baru Timur, Baru Barat, Angke, Grogol, Krukut, Buaran, Kalimalang, dan Cakung.

"Yang akan kita tangani adalah Kali Sunter, Cipinang, Jatikramat, Baru Timur, Baru Barat, Angke, Grogol, Krukut, Buaran, Kalimalang, dan juga Cakung," kata Pramono.

Menurut Pramono, pemasangan saringan sampah tersebut menjadi bagian dari perubahan sistem pengelolaan sampah di Jakarta. Pemprov DKI tidak lagi hanya mengandalkan pola "angkut-buang", tetapi mulai menerapkan pendekatan "pilah-angkut-olah".

Selain menangkap sampah yang terbawa aliran sungai, Pemprov DKI juga menyiapkan fasilitas pengolahan sampah untuk mengurangi beban yang harus ditangani di tempat pembuangan akhir. Beberapa fasilitas yang disebut Pramono antara lain RDF Rorotan, RDF Bantar Gebang, dan TPS 3R.

"Kalau RDF Rorotan, RDF Bantar Gebang, kemudian TPS 3R berjalan dengan baik, dan tempat ini kemudian juga bisa mengurangi beban sampah yang ke Manggarai, saya yakin penanganan sampah di Jakarta relatif tertangani dengan baik," ujar Pramono.

Pramono menekankan penanganan sampah perlu dilakukan sejak dari hulu. Dengan begitu, sampah dapat ditahan dan diolah sebelum terbawa menuju kawasan tengah Jakarta.

Ia mencontohkan sistem saringan di TB Simatupang yang berfungsi menangkap sampah dari aliran Sungai Ciliwung sebelum mencapai Pintu Air Manggarai. Dari fasilitas tersebut, sampah yang terkumpul kemudian diproses agar tidak seluruhnya berakhir sebagai residu.

"Karena sampah ini ditangani dari ujung sebelum masuk ke Manggarai. Sehingga dari Sungai Ciliwung inilah kemudian hampir 30 persen sampah bisa diambil, diolah di sini," jelasnya.

Dalam peninjauan tersebut, Pramono melihat proses pengambilan sampah menggunakan ekskavator yang ditempatkan di tengah aliran sungai. Sampah yang tertahan oleh saringan dan trash boom kemudian diangkat untuk menjalani proses pemilahan.

Sebagian sampah yang telah dikumpulkan juga dicacah menggunakan mesin UNTHA shredder sebelum diangkut dengan truk. Menurut Pramono, sampah yang berhasil ditangkap tidak seluruhnya menjadi residu karena sebagian masih dapat dimanfaatkan.

Sampah yang terkumpul dapat diolah menjadi bahan organik, sementara sebagian lainnya dipres untuk memenuhi kebutuhan sejumlah industri. Dengan memperluas sistem saringan sekaligus fasilitas pengolahan, Pemprov DKI berharap volume sampah yang terbawa aliran sungai menuju kawasan perkotaan dapat ditekan.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE