Gadis 18 Tahun di Bengkulu Bunuh Ibu Kandung Pakai Cobek, Alasannya Bikin Merinding!

Tragis! Remaja perempuan di Bengkulu tega menghabisi nyawa ibu kandungnya dengan cobek usai salat zuhur, diduga alami gangguan kejiwaan.

Gadis 18 Tahun di Bengkulu Bunuh Ibu Kandung Pakai Cobek, Alasannya Bikin Merinding!
Foto rumah tempat kejadian perkara (TKP) di Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu, lokasi tragis di mana seorang gadis 18 tahun diduga membunuh ibu kandungnya menggunakan cobek. - (Dok. antaranews.com).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabar menghebohkan datang dari Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu. Seorang remaja berinisial NR (18) diduga kuat menghabisi nyawa ibu kandungnya, YT (49), dengan cara brutal. Korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi berlumuran darah usai melaksanakan salat zuhur di rumah mereka, Sabtu (2/8/2025).

Tragisnya, NR mengaku pada tetangga bahwa ia sedang kerasukan saat melakukan aksi tersebut. Bahkan yang lebih mengejutkan, dia baru tiga hari pulang dari perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSKJ) sebelum kejadian nahas ini terjadi.

Tetangganya yang bernama Ice jadi saksi awal. Ia menceritakan bahwa NR datang tergopoh-gopoh sambil membawa dua adiknya, lalu mengaku telah membunuh ibunya. Warga pun langsung mendatangi rumah korban dan menemukan YT sudah tak bernyawa.

Pihak kepolisian bergerak cepat. NR kini sudah ditetapkan sebagai tersangka setelah dua alat bukti berhasil dikumpulkan. Namun karena ada riwayat gangguan kejiwaan, proses hukum tetap dibarengi dengan observasi kejiwaan selama 14 hari di RSKJ Soeprapto Bengkulu.

"Dari hasil pemeriksaan penyidik, kami sudah kantongi dan menetapkan tersangka kepada bersangkutan. Namun, untuk prosesnya, kami tetap melakukan koordinasi dan melakukan cek kejiwaannya, apalagi bersangkutan sudah mengantongi kartu kuning," jelas Kompol Sujud Alif Yulam Lam, Kasat Reskrim Polresta Bengkulu.

NR juga disebut pernah mengantongi kartu kuning (tanda pasien gangguan kejiwaan), dan saat kejadian, ia mengaku mendapat "bisikan" untuk melakukan pembunuhan. Hal ini yang membuat proses hukumnya akan sangat bergantung pada hasil evaluasi kejiwaan.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, proses observasi kejiwaan masih berlangsung untuk memastikan kondisi mental pelaku saat kejadian. Kasus gadis 18 tahun bunuh ibu kandung di Bengkulu ini menyisakan duka dan tanda tanya besar.

Apakah benar karena kerasukan? Atau murni karena gangguan mental yang tak terkendali? Pihak kepolisian masih menunggu hasil observasi medis. Semoga tragedi ini jadi pengingat pentingnya pemantauan kesehatan mental di lingkungan keluarga.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE