Cognition PHK 30 Karyawan dan Tawarkan Buyout Setelah Akuisisi Windsurf, Budaya Kerja Keras Jadi Sorotan

Cognition PHK 30 Karyawan dan Tawarkan Buyout Setelah Akuisisi Windsurf, Budaya Kerja Keras Jadi Sorotan
- (Dok. Tech Crunch).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Cognition, startup kecerdasan buatan (AI) yang tengah naik daun di bidang pemrograman otomatis, dilaporkan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 30 karyawan minggu lalu dan menawarkan skema buyout kepada sekitar 200 karyawan yang tersisa. Langkah mengejutkan ini datang hanya tiga minggu setelah Cognition resmi mengakuisisi Windsurf, salah satu rival terbesarnya di bidang AI coding tools.

Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh The Information berdasarkan email internal yang mereka akses.

Saat akuisisi diumumkan, Cognition secara terbuka menyatakan bahwa 100% karyawan Windsurf akan menerima kompensasi finansial sebagai bagian dari kesepakatan, dan menekankan pentingnya "talenta kelas dunia" dari Windsurf dalam pengembangan produk masa depan.

Namun kini, gelombang PHK dan skema buyout yang ditawarkan, setara 9 bulan gaji, mengindikasikan bahwa aset utama dalam akuisisi ini kemungkinan besar adalah kekayaan intelektual Windsurf, bukan tim manusianya.

Nasib Windsurf memang penuh gejolak dalam beberapa bulan terakhir. Sebelum akhirnya diakuisisi oleh Cognition, perusahaan ini sempat berada di ambang diakuisisi oleh OpenAI, kehilangan CEO, co-founder, dan tim riset utama dalam kesepakatan senilai 2,4 miliar dolar AS dengan Google,sebuah reverse-acquihire di mana Google merekrut talenta kunci tanpa membeli perusahaan.

Ketidakpastian yang berulang ini membuat akuisisi oleh Cognition semula dianggap sebagai peluang stabilisasi. Namun realitas pasca-akuisisi justru menunjukkan sebaliknya.

Dalam email yang dikirim oleh CEO Cognition Scott Wu, karyawan diberi tenggat waktu hingga 10 Agustus untuk memutuskan apakah akan mengambil buyout atau tetap tinggal dengan syarat kerja yang sangat berat.

Mereka yang memilih untuk bertahan diharuskan bekerja dari kantor enam hari seminggu dan menjalani jam kerja lebih dari 80 jam per minggu-sebuah standar yang kini menjadi "harga masuk" tak tertulis di perusahaan AI elit.

Wu secara eksplisit menyatakan dalam email:

"Kami tidak percaya pada work-life balance, membangun masa depan rekayasa perangkat lunak adalah misi yang begitu penting bagi kami hingga tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan pribadi."

Pernyataan ini langsung memicu perbincangan di komunitas teknologi, dengan sebagian pihak mempertanyakan keberlanjutan budaya kerja seperti ini di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan hak pekerja.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE