Rusia Geger! Pekerja Lab Antipes Tewas, Hampir 200 Orang Dikarantina Gegara Dugaan Pes
Kematian pekerja Institut Penelitian Antipes Irkutsk memicu kekhawatiran pes paru. Hampir 200 orang yang diduga kontak dengannya menjalani pemantauan, tetapi otoritas Rusia belum mengonfirmasi adanya wabah.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Warga wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, dibuat cemas setelah seorang pekerja Institut Penelitian Antipes meninggal dunia di tengah munculnya rumor dugaan infeksi pes paru. Kematian perempuan bernama Darya Shipilova tersebut kemudian diikuti langkah karantina dan pemantauan terhadap hampir 200 orang yang diduga pernah melakukan kontak dengannya.
Shipilova meninggal pada dini hari 2 Oktober 2026 setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit distrik Shelekhov dengan kondisi pneumonia berat. Laporan media lokal menyebut perempuan berusia 28 tahun itu diduga mengalami paparan bakteri pes setelah sebuah tabung reaksi yang berisi patogen pecah saat bekerja, tetapi cerita mengenai insiden tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas kesehatan Rusia.
Hampir 200 Orang Masuk Pemantauan
Kematian Shipilova membuat otoritas kesehatan melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang kemungkinan melakukan kontak dengannya. Sekitar 197 orang disebut telah ditempatkan dalam pemantauan atau karantina, sementara laporan lain menyebut 189 orang menjalani observasi di sejumlah fasilitas kesehatan.
Rumah sakit di wilayah Irkutsk juga dilaporkan menerapkan pembatasan selama situasi tersebut ditangani. Sejumlah rumah sakit bahkan disebut menjalani karantina selama sekitar tiga pekan, sementara langkah pencegahan lain diberlakukan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran penyakit.
Di Shelekhov, warga mengaku melihat sejumlah orang menggunakan pakaian pelindung, masker, dan sarung tangan. Masker juga dilaporkan dibagikan di sejumlah taman kanak-kanak, sedangkan pabrik aluminium Irkutsk memberlakukan kewajiban penggunaan masker sebagai langkah pencegahan.
Otoritas Rusia Sempat Hindari Istilah Pes
Respons pemerintah Rusia turut menjadi perhatian karena informasi mengenai penyebab kematian Shipilova sempat berubah-ubah. Gubernur wilayah Irkutsk Igor Kobzev pada awalnya hanya menyebut adanya dugaan "infeksi yang sangat berbahaya" dan mengatakan situasi berada dalam pengawasan ketat.
Kepala Rospotrebnadzor Anna Popova juga datang ke Shelekhov dan mengikuti rapat darurat komisi sanitasi serta antipenyebaran epidemi bersama pejabat wilayah. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah mengambil tindakan pencegahan serius meski diagnosis pes belum secara resmi ditetapkan.
Kepala Republik Buryatia Alexey Tsydenov sempat menyatakan bahwa perempuan tersebut meninggal akibat infeksi pes berdasarkan informasi dari otoritas kesehatan. Namun, pernyataan itu kemudian diubah menjadi lebih hati-hati dengan menyebut bahwa Shipilova "mungkin" meninggal akibat pes.
Perubahan informasi tersebut kemudian ikut memicu kepanikan di media sosial. Warga Irkutsk dan wilayah sekitarnya ramai memperbincangkan kemungkinan munculnya kembali penyakit yang dikenal secara historis sebagai Black Death tersebut.
Rospotrebnadzor Bantah Ada Wabah
Di tengah berbagai rumor, Rospotrebnadzor akhirnya memberikan keterangan bahwa kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, termasuk Kota Irkutsk dan Shelekhov, masih stabil. Lembaga tersebut menyatakan Shipilova didiagnosis mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
Rospotrebnadzor juga menyebut pemeriksaan terhadap sampel dari perempuan tersebut tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya di Institut Penelitian Antipes. Lembaga itu turut menyatakan tidak ada insiden terkait mikroorganisme patogen yang tercatat di institut tersebut.
Orang-orang yang ditempatkan dalam pemantauan juga disebut tidak menunjukkan gejala penyakit dan hasil pemeriksaan mereka dinyatakan negatif. Karena itu, jumlah orang yang menjalani observasi tidak dapat dianggap sebagai jumlah pasien yang terinfeksi pes.
Epidemiolog Minta Warga Tidak Panik
Mantan kepala Rospotrebnadzor sekaligus epidemiolog Rusia Gennady Onishchenko turut memberikan penjelasan untuk meredakan kekhawatiran masyarakat. Ia mempertanyakan dugaan bahwa kematian Shipilova berkaitan dengan pes dan mengingatkan bahwa hewan pengerat serta kutu yang menjadi pembawa bakteri pes di Siberia biasanya mulai memasuki masa dormansi pada awal Oktober.
Di sisi lain, dugaan mengenai tabung reaksi yang pecah juga masih menjadi bagian dari laporan media dan belum menjadi kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian. Rospotrebnadzor bahkan menyatakan tidak ada kecelakaan yang melibatkan mikroorganisme patogen di Institut Penelitian Antipes tersebut.
Pes sendiri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan memiliki beberapa bentuk, salah satunya pes paru atau pneumonic plague. Bentuk ini dapat menular melalui droplet pernapasan dan membutuhkan penanganan antibiotik secara cepat, tetapi kasus di Irkutsk saat ini belum dapat disebut sebagai wabah pes berdasarkan keterangan resmi terbaru.
Dengan demikian, kabar mengenai "Black Death" yang kembali merebak di Siberia masih perlu disikapi dengan hati-hati. Kematian seorang pekerja laboratorium memang memicu serangkaian tindakan pencegahan dan pemantauan terhadap hampir 200 orang, tetapi pemerintah Rusia menyatakan situasi tetap stabil dan belum mengonfirmasi adanya wabah pes di wilayah tersebut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!