Pekerja Lab Rusia Tewas Usai Dugaan Paparan Bakteri Pes, Ini Kronologinya

Darya Shipilova meninggal setelah mengalami pneumonia berat. Dugaan dirinya terpapar bakteri pes di laboratorium memicu karantina dan pemantauan terhadap hampir 200 orang.

Pekerja Lab Rusia Tewas Usai Dugaan Paparan Bakteri Pes, Ini Kronologinya
Kronologi pekerja lab Rusia Darya Shipilova meninggal setelah pneumonia berat dan dugaan paparan bakteri pes. - (Dok. getty images).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kematian seorang pekerja perempuan di Institut Penelitian Antipes Irkutsk, Rusia, memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan munculnya wabah pes atau "Black Death". Perempuan bernama Darya Shipilova tersebut meninggal setelah mengalami pneumonia berat dengan penyebab yang hingga kini belum diketahui secara resmi.

Kasus tersebut menjadi perhatian karena Shipilova bekerja di lembaga penelitian yang menangani patogen berbahaya. Di tengah informasi yang simpang siur, otoritas Rusia menerapkan sejumlah langkah pencegahan, termasuk pemantauan medis terhadap hampir 200 orang yang diduga melakukan kontak.

Darya Shipilova Diduga Terpapar di Laboratorium

Darya Shipilova merupakan perempuan berusia 28 tahun yang bekerja sebagai asisten laboratorium di Institut Penelitian Antipes Siberia dan Timur Jauh. Ia disebut bekerja dengan bahan biologis hidup yang berkaitan dengan penelitian terhadap patogen berbahaya.

Berdasarkan keterangan rekan kerja dan laporan sejumlah media independen, Shipilova diduga tidak sengaja memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri Yersinia pestis pada 25 September 2026. Namun, dugaan tersebut belum dikonfirmasi sebagai penyebab penyakit maupun kematiannya oleh otoritas kesehatan Rusia.

Dua hari setelah dugaan insiden tersebut, kondisi kesehatan Shipilova dilaporkan memburuk secara tiba-tiba. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Distrik Shelekhov untuk mendapatkan perawatan medis.

Sempat Diduga Mengalami COVID-19

Saat pertama kali mendapatkan perawatan, dokter disebut belum mengetahui adanya dugaan insiden di laboratorium tempat Shipilova bekerja. Kondisinya kemudian diduga mengarah pada pneumonia berat sehingga ia sempat ditempatkan di unit khusus pasien COVID-19.

Kondisi Shipilova terus memburuk dalam waktu singkat. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan untuk mencari kemungkinan infeksi berbahaya dan pasien akhirnya membutuhkan bantuan ventilator.

Meski telah mendapatkan penanganan intensif, nyawa Shipilova tidak berhasil diselamatkan. Ia meninggal pada dini hari 2 Oktober 2026 di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Distrik Shelekhov.

Kematian Picu Karantina dan Pemantauan

Kabar mengenai kematian Shipilova kemudian memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan pes paru. Pes paru merupakan salah satu bentuk infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis dan dapat berkembang secara cepat apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Otoritas setempat kemudian melakukan langkah pencegahan terhadap orang-orang yang kemungkinan melakukan kontak dengan Shipilova. Hampir 200 orang dilaporkan menjalani pemantauan medis secara ketat untuk memastikan kondisi kesehatan mereka.

Sejumlah rumah sakit di wilayah Irkutsk juga dilaporkan menerapkan pembatasan dan karantina. Media lokal Baikal People melaporkan bahwa karantina tersebut diperkirakan berlangsung selama sekitar tiga pekan.

Langkah pencegahan juga diterapkan di luar fasilitas kesehatan. Pabrik aluminium Irkutsk di Shelekhov dilaporkan mewajibkan penggunaan masker, sementara warga setempat mengaku melihat orang-orang mengenakan pakaian pelindung, masker, dan sarung tangan di sejumlah lokasi.

Warga Mulai Cemas dan Informasi Sempat Simpang Siur

Situasi tersebut membuat warga Shelekhov dan wilayah sekitarnya semakin khawatir. Sejumlah orang tua bahkan menyebut masker dibagikan di beberapa taman kanak-kanak sebagai bagian dari langkah pencegahan.

Kepanikan semakin meningkat karena informasi mengenai penyebab kematian Shipilova sempat tidak disampaikan secara terbuka. Dalam 24 jam pertama setelah kematiannya, pejabat wilayah Irkutsk disebut tidak menggunakan istilah "pes" dan hanya menyebut adanya infeksi yang sangat berbahaya.

Kondisi tersebut membuat berbagai spekulasi berkembang di media sosial. Dugaan mengenai pes paru kemudian semakin ramai setelah muncul laporan bahwa Shipilova bekerja di lembaga penelitian antipes dan diduga mengalami insiden saat menangani bahan biologis.

Rospotrebnadzor Beri Penjelasan

Di tengah kekhawatiran masyarakat, Badan Pengawas Perlindungan Hak Konsumen dan Kesejahteraan Manusia Rusia atau Rospotrebnadzor memberikan keterangan pada Minggu (4/10/2026). Lembaga tersebut menyatakan kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk, termasuk Irkutsk dan Shelekhov, masih stabil.

Rospotrebnadzor menyebut Shipilova meninggal dengan diagnosis "pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui". Pemeriksaan lanjutan terhadap sampel yang diambil dari pasien juga disebut tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya di laboratorium.

Otoritas Rusia juga menyatakan tidak ada insiden yang melibatkan mikroorganisme patogen yang tercatat di Institut Penelitian Antipes tersebut. Selain itu, selama 10 hari terakhir tidak ada staf institut yang dilaporkan mencari pertolongan medis akibat penyakit infeksi.

Dugaan Wabah Pes Belum Terbukti

Keterangan resmi tersebut membuat dugaan bahwa kematian Shipilova merupakan bagian dari wabah pes perlu disikapi dengan hati-hati. Hingga informasi terbaru, belum terdapat konfirmasi resmi bahwa telah terjadi wabah pes di wilayah Irkutsk.

Langkah karantina dan pemantauan yang dilakukan pemerintah juga tidak otomatis berarti hampir 200 orang tersebut terinfeksi pes. Mereka ditempatkan dalam pemantauan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan deteksi dini setelah adanya kasus kematian yang dianggap membutuhkan penanganan khusus.

Kematian Shipilova memang menimbulkan sejumlah pertanyaan karena terjadi setelah dugaan insiden di laboratorium dan diikuti tindakan pencegahan oleh otoritas. Namun, penyebab pasti penyakit yang dialaminya masih menjadi bagian dari pemeriksaan dan berdasarkan keterangan Rospotrebnadzor, diagnosis yang disampaikan sejauh ini adalah pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

Dengan demikian, kronologi kasus ini bermula dari dugaan insiden di laboratorium pada 25 September, memburuknya kondisi Shipilova dua hari kemudian, hingga kematiannya pada 2 Oktober. Sementara rumor mengenai kembalinya "Black Death" menyebar luas, otoritas Rusia hingga kini menyatakan kondisi epidemiologi Irkutsk tetap stabil dan belum mengonfirmasi adanya wabah pes.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE