Florian Wirtz Belum Bersinar, Liverpool Kalah Lagi
JAKARTA, GENVOICE.ID - Musim ini menjadi ujian berat bagi Liverpool. Setelah sempat dikenal sebagai "raja gol telat" di awal musim, tim asuhan Arne Slot kini justru harus menelan pahitnya kekalahan akibat gol-gol di menit akhir. Dua kekalahan beruntun di Premier League dan satu di Liga Champions membuat sang juara bertahan tergelincir dari puncak klasemen.
Liverpool sebelumnya kerap mengandalkan keajaiban menit-menit terakhir untuk mengamankan kemenangan atas lawan seperti Bournemouth, Newcastle, Arsenal, Burnley, hingga Atletico Madrid. Namun, strategi itu terbukti rapuh. Dalam sepekan terakhir, mereka justru menjadi korban kebiasaan mereka sendiri.
Kekalahan 1-2 dari Chelsea terjadi lewat gol menit ke-95 yang dicetak Estevao Willian, sementara kekalahan pertama di Premier League musim ini datang dari gol Eddie Nketiah di menit ke-97 ketika menghadapi Crystal Palace. Di antara dua hasil itu, Galatasaray juga mempermalukan Liverpool 1-0 di Istanbul dalam ajang Liga Champions.
Slot mencoba tetap optimis. Ia menilai kekalahan timnya disebabkan oleh "fine margins" atau faktor kecil yang tidak berpihak pada mereka. "Dalam dua pertandingan terakhir, kami menciptakan lebih banyak peluang, tapi hanya bisa mencetak satu gol. Lawan kami justru mencetak dua," ujarnya kepada BBC.
Namun, data menunjukkan masalah yang lebih dalam. Dari 11 pertandingan musim ini, sudah ada 10 gol tercipta setelah menit ke-80, dan hampir semuanya mengubah hasil akhir pertandingan. Itu menandakan betapa rapuhnya konsentrasi Liverpool di menit-menit krusial.
Masalah juga muncul dari komposisi tim. Setelah belanja besar senilai £450 juta, termasuk mendatangkan Florian Wirtz (£116 juta) dan Alexander Isak (£125 juta), Liverpool justru tampil tidak seimbang. Perubahan di lini belakang dengan hadirnya dua full-back ofensif, Jeremie Frimpong dan Milos Kerkez, membuat pertahanan semakin mudah ditembus lewat serangan balik.
Slot sempat mencoba kembali ke formula lama dengan menurunkan trio Ryan Gravenberch, Dominik Szoboszlai, dan Alex Mac Allister di lini tengah. Meski permainan sedikit lebih stabil, performa keseluruhan tetap datar.
Mohamed Salah, ikon klub sekaligus mesin gol andalan, juga tampak kehilangan sentuhan terbaiknya. Ia beberapa kali gagal memanfaatkan peluang emas dan terlihat frustrasi di lapangan. Sementara Wirtz, yang diharapkan menjadi playmaker baru, masih kesulitan beradaptasi dan kerap berada di pinggir permainan, bukan di pusat serangan.
Setelah jeda internasional, Liverpool diharapkan bisa bangkit. Dengan investasi besar di lini serang dan reputasi Slot sebagai pelatih progresif, fans tentu menunggu respon mereka. Namun untuk saat ini, sang juara bertahan terlihat rapuh - dari tim yang dulu dikenal pantang menyerah hingga kini menjadi korban dari "kutukan gol telat" mereka sendiri.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!