Krisis Air Bersih Jakarta Belum Usai, 35 Persen Warga Masih Bergantung pada Air Tanah
Layanan air bersih perpipaan di Jakarta baru menjangkau sekitar 65 persen warga. Di sisi lain, kualitas air tanah, sungai, waduk, hingga perairan Teluk Jakarta terus menjadi perhatian akibat tingginya tingkat pencemaran.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur dan ambisi menjadi kota global, Jakarta masih menghadapi persoalan mendasar yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, yakni akses terhadap air bersih.
Hingga kini, jutaan warga ibu kota belum dapat menikmati layanan air minum melalui jaringan perpipaan. Di saat yang sama, kualitas sumber air baku yang menjadi penopang penyediaan air bersih juga terus menghadapi ancaman pencemaran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan air bersih di Jakarta bukan hanya soal memperluas jaringan distribusi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya air yang semakin tertekan.
Masih Ada 35 Persen Warga Belum Terlayani Air Bersih
Berdasarkan data terbaru, layanan air minum perpipaan yang dikelola PAM JAYA baru mampu menjangkau sekitar 65 persen wilayah layanan.
Artinya, sekitar 35 persen warga Jakarta masih belum memperoleh akses air bersih melalui jaringan perpipaan.
Akibatnya, sebagian masyarakat masih mengandalkan air tanah, sumur, maupun sumber air alternatif lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Padahal, sumber-sumber air tersebut tidak selalu memiliki kualitas yang aman dan layak dikonsumsi.
Kualitas Air Jakarta Masih Memprihatinkan
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah kondisi sumber air baku di Jakarta yang terus mengalami penurunan kualitas.
Data Sekretariat Jakarta Berketahanan (2019) menunjukkan sekitar 97,5 persen air waduk di DKI Jakarta berada dalam kondisi tercemar.
Tak hanya itu, sekitar 88 persen air sungai, 68 persen air tanah, hingga 100 persen perairan Teluk Jakarta juga dilaporkan mengalami pencemaran.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar karena air baku merupakan bahan utama dalam proses pengolahan air bersih sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Semakin buruk kualitas air baku, semakin besar pula tantangan yang dihadapi dalam menghasilkan air minum yang aman.
Pasokan Air Jakarta Masih Bergantung pada Daerah Lain
Meski menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi nasional, Jakarta ternyata masih sangat bergantung pada daerah lain dalam memenuhi kebutuhan air bakunya.
Data menunjukkan sekitar 95 persen pasokan air baku Jakarta berasal dari luar wilayah DKI Jakarta.
Ketergantungan tersebut membuat penyediaan air bersih rentan terhadap berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim, gangguan distribusi, hingga meningkatnya kebutuhan akibat pertumbuhan jumlah penduduk.
Kebutuhan Air Terus Meningkat
PAM JAYA memperkirakan kebutuhan air bersih masyarakat Jakarta mencapai sekitar 150 liter per orang setiap hari.
Sementara itu, kapasitas produksi air bersih yang tersedia saat ini masih berada di kisaran 20.725 liter per detik.
Perbedaan antara kebutuhan dan kapasitas produksi menjadi salah satu penyebab belum meratanya layanan air bersih di seluruh wilayah ibu kota.
Ketergantungan pada Air Tanah Memunculkan Risiko Baru
Karena belum seluruh wilayah terjangkau jaringan perpipaan, penggunaan air tanah masih menjadi pilihan banyak masyarakat.
Namun, penggunaan air tanah secara masif juga membawa persoalan tersendiri.
Analisis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta pada 2020 menunjukkan kualitas rata-rata air tanah, terutama air tanah dangkal, berada dalam kategori tercemar berat.
Selain itu, pengambilan air tanah secara berlebihan juga telah lama dikaitkan dengan penurunan muka tanah yang masih menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di Jakarta.
Pemerataan Layanan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Penyediaan air bersih tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jaringan perpipaan, tetapi juga membutuhkan perlindungan terhadap sumber air baku, peningkatan kapasitas produksi, serta pengendalian pencemaran lingkungan.
Berbagai langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara lebih merata dan berkelanjutan.
Air Bersih Jadi Penentu Kualitas Hidup
Akses terhadap air bersih merupakan salah satu indikator utama kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Ketersediaan air yang aman tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga mendukung produktivitas, sanitasi, hingga keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, keberhasilan pembangunan Jakarta tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, gedung pencakar langit, atau proyek infrastruktur berskala besar. Yang tak kalah penting adalah memastikan seluruh warga memiliki akses yang setara terhadap layanan dasar, termasuk air bersih.
Dengan masih adanya sekitar 35 persen warga yang belum menikmati layanan air bersih perpipaan serta kondisi pencemaran air yang masih memprihatinkan, penyediaan air bersih diperkirakan masih akan menjadi salah satu tantangan utama Jakarta dalam beberapa tahun ke depan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!