Ironi Jakarta: Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Tapi Air Bersih Belum Menjangkau Semua Warga

Peringkat Jakarta dalam World's Best Cities 2026 melonjak ke posisi ke-53. Namun, di balik pengakuan internasional itu, sekitar 35 persen warga ibu kota masih belum menikmati layanan air bersih perpipaan.

Ironi Jakarta: Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Tapi Air Bersih Belum Menjangkau Semua Warga
Warga Jakarta Mengantre Air Bersih - (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Prestasi Jakarta yang berhasil masuk dalam daftar 53 kota terbaik dunia versi World's Best Cities 2026 menjadi kabar menggembirakan bagi ibu kota. Peringkat tersebut menunjukkan Jakarta semakin diakui sebagai salah satu kota yang memiliki daya saing global di bidang ekonomi, investasi, hingga pembangunan.

Namun, di balik capaian tersebut, masih ada pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Salah satunya adalah layanan air bersih perpipaan yang hingga kini belum dapat dinikmati seluruh warga Jakarta.

Data terbaru menunjukkan sekitar 35 persen penduduk ibu kota masih belum mendapatkan akses air bersih melalui jaringan perpipaan, sehingga masih bergantung pada air tanah, sumur, atau sumber air alternatif lainnya.

Jakarta Naik Pesat dalam Peringkat Kota Terbaik Dunia

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa Jakarta terus berkembang menjadi kota global.

Ia mengungkapkan, saat mulai menjabat sebagai gubernur, Jakarta berada di posisi ke-74 dalam daftar kota terbaik dunia. Dalam waktu kurang dari satu tahun, posisi tersebut meningkat menjadi peringkat ke-71, sebelum akhirnya melonjak ke urutan ke-53 berdasarkan pemeringkatan terbaru yang dirilis Resonance Consultancy, lembaga konsultan yang berbasis di Brussel, Belgia.

Dengan posisi tersebut, Jakarta bahkan berada di atas sejumlah kota besar dunia, termasuk Washington DC dan Abu Dhabi.

Menurut Pramono, pencapaian ini mencerminkan meningkatnya daya tarik Jakarta sebagai pusat bisnis, investasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonomi Jakarta Terus Tumbuh

Selain kenaikan peringkat internasional, Jakarta juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup positif.

Pada triwulan pertama 2026, ekonomi ibu kota tumbuh 5,59 persen, sementara kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 16,67 persen.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Jakarta masih menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia sekaligus terus berbenah menjelang usia ke-500 pada 2027.

Masih Ada 35 Persen Warga yang Belum Menikmati Air Bersih Perpipaan

Meski berbagai indikator makro menunjukkan perkembangan positif, layanan dasar bagi masyarakat masih menjadi tantangan.

Salah satu yang paling sering dikeluhkan adalah akses terhadap air bersih.

Berdasarkan data yang tersedia, cakupan layanan air minum perpipaan yang dikelola PAM JAYA baru mencapai sekitar 65 persen dari total target layanan.

Artinya, sekitar 35 persen warga Jakarta hingga kini belum terhubung dengan jaringan air bersih perpipaan.

Sebagian masyarakat masih mengandalkan sumur bor, air tanah, maupun sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga Masih Mengeluhkan Layanan Air Bersih

Di sejumlah wilayah, persoalan air bersih masih menjadi keluhan masyarakat.

Beberapa warga mengaku belum terjangkau jaringan perpipaan, sementara sebagian lainnya mengeluhkan tekanan air yang tidak stabil hingga kualitas pasokan yang belum konsisten.

Padahal, akses terhadap air minum yang aman merupakan salah satu kebutuhan dasar sekaligus indikator penting dalam kualitas hidup masyarakat perkotaan.

Pemerintah Terus Perluas Jaringan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PAM JAYA menyatakan terus memperluas jaringan distribusi air bersih.

Targetnya adalah meningkatkan cakupan layanan hingga seluruh wilayah Jakarta dalam beberapa tahun ke depan sehingga seluruh warga dapat menikmati akses air minum perpipaan.

Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan air tanah yang selama ini juga menjadi salah satu penyebab penurunan muka tanah di Jakarta.

Predikat Kota Terbaik Dinilai Perlu Diimbangi Pelayanan Dasar

Keberhasilan Jakarta masuk dalam jajaran kota terbaik dunia memang menjadi pencapaian yang patut diapresiasi.

Penilaian World's Best Cities mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari ekonomi, investasi, mobilitas, inovasi, hingga daya tarik kota bagi wisatawan maupun pelaku usaha.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai pengakuan internasional tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Selain air bersih, aspek lain seperti sanitasi, transportasi umum, ruang terbuka hijau, hingga kualitas lingkungan juga dinilai menjadi indikator penting yang langsung dirasakan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari posisi dalam pemeringkatan global, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan mampu meningkatkan kualitas hidup seluruh warganya secara merata.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE