Ekspor ke AS Anjlok 30%, Tiongkok Justru Cetak Rekor Surplus Perdagangan Tembus 1 Triliun Dolar AS

Ekspor ke AS Anjlok 30%, Tiongkok Justru Cetak Rekor Surplus Perdagangan Tembus 1 Triliun Dolar AS
- (Dok. istimewa).

NEW YORK - Sepanjang 2025, perekonomian dunia tercatat tumbuh sekitar 3 persen, sebuah capaian yang dinilai solid di tengah situasi penuh ketidakpastian. Tiongkok pun mampu menunjukkan ketahanan yang signifikan. Meski ekspor ke AS anjlok sekitar 30 persen akibat kebijakan proteksionisme, Tiongkok berhasil mengalihkan arus perdagangannya ke Eropa dan Asia Tenggara. Bahkan, untuk pertama kalinya, surplus perdagangan Tiongkok menembus angka lebih dari 1 triliun dollar AS.

Perekonomian Amerika Serikat (AS) dan global justru mencatat kinerja kuat sepanjang 2025, meskipun tahun tersebut dipenuhi berbagai tantangan ekonomi, geopolitik, dan kebijakan yang dinilai berisiko oleh banyak ekonom. Ketidakpastian yang muncul akibat perubahan arah kebijakan pemerintah AS, konflik geopolitik di berbagai kawasan, hingga lonjakan utang global, ternyata tidak mampu menahan laju pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.

Dikutip dari Channel NewsAsia, sepanjang 2025, pemerintah AS mengguncang tatanan ekonomi global dengan menerapkan tarif dagang secara luas, mengesampingkan peran lembaga internasional, serta mempertanyakan independensi bank sentralnya sendiri, Federal Reserve. Langkah-langkah tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi, lonjakan inflasi, hingga resesi global. Namun, skenario terburuk itu tidak sepenuhnya terwujud.

Ekonomi AS justru menunjukkan akselerasi pertumbuhan. Produk domestik bruto (PDB) riil AS tumbuh hingga 4,3 persen pada kuartal ketiga 2025. Di saat yang sama, kekhawatiran akan pembalasan dagang besar-besaran dari negara lain relatif tidak terjadi, sehingga tekanan terhadap perdagangan internasional dapat diredam.

Lonjakan ekonomi juga didorong oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan derasnya aliran dana dari pasar modal. Saham-saham teknologi melonjak tajam, dengan indeks Nasdaq menguat sekitar 21 persen dan S&P 500 naik 17 persen sepanjang tahun. Perusahaan chip Nvidia mencetak sejarah sebagai perusahaan pertama di dunia dengan valuasi menembus 5 triliun dollar AS, sementara OpenAI mengumumkan kerja sama bernilai miliaran dolar AS dengan Disney.

Pasar modal tampak sangat longgar dalam membiayai ekspansi sektor AI, bahkan bagi perusahaan yang belum memiliki model bisnis dan pendapatan yang kuat. Fenomena ini juga diikuti dengan kembalinya praktik pembiayaan mandiri, seperti ketika Nvidia secara tidak langsung membiayai pembelian produknya sendiri oleh OpenAI.

Gejolak Fiskal

Di sisi lain, pasar keuangan global tetap mampu menyerap pembiayaan utang dan defisit besar negara-negara maju. Kekhawatiran akan lonjakan biaya pinjaman tidak sepenuhnya terjadi. Sebaliknya, suku bunga justru berakhir lebih rendah dibandingkan awal tahun. Gejolak fiskal di sejumlah negara seperti Prancis dan Inggris sempat memicu kegelisahan pasar, namun dampaknya relatif terbatas setelah pemerintah masing-masing negara mengambil langkah penenangan.

Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa kinerja impresif tersebut belum tentu berkelanjutan. Tantangan struktural, risiko geopolitik, serta potensi koreksi di sektor teknologi dan AI masih membayangi perekonomian global pada tahun-tahun mendatang. Keberhasilan 2025 dinilai lebih sebagai kemenangan awal, sementara ujian sesungguhnya baru akan dimulai pada periode berikutnya. SB/New York Times/and

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE