Dari Penyair Besar hingga Perkosa Perempuan, Ini Profil Sitok Srengenge yang Lagi Rame!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama Sitok Srengenge kembali mengemuka di ruang publik setelah sebuah foto dirinya bersama penyanyi Sal Priadi viral di media sosial.
Bagi sebagian orang, foto itu mungkin hanya potret pertemuan lintas generasi seniman. Namun bagi banyak netizen, momen tersebut justru membuka kembali luka lama: kasus dugaan pelecehan seksual yang pernah menyeret nama sastrawan senior itu dan hingga kini tak pernah benar-benar tuntas.
Sitok Srengenge, atau bernama asli Sunarto, lahir di Demak, Jawa Tengah, pada 22 Agustus 1965. Ketertarikannya pada dunia seni tumbuh sejak remaja, ketika ia aktif berteater sejak duduk di bangku SMP dan SMA. Selepas lulus SMA pada 1985, Sitok merantau ke Jakarta dengan mimpi menempuh pendidikan seni secara formal. Keterbatasan ekonomi membuatnya gagal masuk Institut Kesenian Jakarta, tetapi kegagalan itu justru mengarahkannya ke jalur lain yang kelak membentuk reputasinya.
Ia memilih belajar langsung di lapangan dengan bergabung bersama kelompok teater besar dan berguru pada tokoh-tokoh penting seperti Arifin C Noer, Putu Wijaya, Teguh Karya, dan WS Rendra. Perjalanannya bersama Bengkel Teater Rendra membuka akses akademik yang kemudian mengantarkannya menyelesaikan studi di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Jakarta. Di luar itu, Sitok juga memperdalam pemikiran filsafat melalui kursus di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Karier Sitok berkembang pesat, bahkan menembus panggung internasional. Ia tercatat sebagai alumni International Writing Program University of Iowa dan Hong Kong Baptist University. Sejak akhir 1990-an, ia aktif mengikuti festival sastra dunia di Eropa, Amerika, dan Australia. Karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa, salah satunya kumpulan puisi berbahasa Inggris Secrets Need Words yang terbit pada 2001. Di dalam negeri, Sitok dikenal luas sebagai penyair, penulis esai, aktor, sutradara teater, pengajar, editor jurnal kebudayaan, hingga pendiri penerbit independen.
Namun reputasi panjang itu runtuh ketika pada akhir 2013 namanya terseret kasus dugaan pelecehan seksual. Seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berinisial RW melaporkannya ke Polda Metro Jaya atas dugaan kejahatan seksual. Tuduhan tersebut mencakup relasi kuasa dan dugaan persetubuhan yang menyebabkan korban hamil. Pihak Sitok membantah tuduhan tersebut dan menyatakan hubungan terjadi atas dasar suka sama suka, tetapi perkara terus berkembang.
Tak lama berselang, muncul pengakuan dari korban lain, seorang mahasiswi asal Bandung, yang mengaku mengalami percobaan pelecehan seksual setelah acara peluncuran buku Sitok pada 2012. Pengakuan ini memperkuat tekanan publik terhadap proses hukum yang berjalan. Pada Oktober 2014, Sitok Srengenge resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan jeratan pasal berlapis terkait persetubuhan dan pencabulan dalam relasi kuasa.
Meski telah berstatus tersangka, proses hukum berjalan lambat. Berkas perkara berulang kali dikembalikan oleh kejaksaan karena dinilai belum lengkap. Hingga bertahun-tahun kemudian, kasus tersebut tak kunjung mencapai kepastian hukum. Situasi ini memicu protes mahasiswa dan aktivis yang menilai lambannya penanganan justru memperpanjang penderitaan korban.
Kini, lebih dari satu dekade sejak kasus itu mencuat, nama Sitok Srengenge kembali diperbincangkan publik. Foto kebersamaannya dengan Sal Priadi memantik perdebatan baru tentang etika, sensitivitas, dan relasi kuasa di dunia seni. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar soal satu foto, melainkan refleksi tentang bagaimana rekam jejak masa lalu terus membayangi figur publik, terutama ketika kasus besar belum pernah benar-benar menemukan titik akhir.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!