Wuling Binguo EV Jadi Polemik, Pemilik Desak Kompensasi Rp 20-30 Juta

Wuling Binguo EV Jadi Polemik, Pemilik Desak Kompensasi Rp 20-30 Juta
- (Dok. Wikipedia).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kontroversi soal penurunan harga Wuling Binguo EV masih jadi perbincangan hangat di kalangan pemilik mobil listrik tersebut. Sejak awal tahun, harga jual kendaraan ini disebut turun drastis hingga Rp 180 juta hanya dalam kurun tujuh bulan. Kondisi itu membuat banyak konsumen merasa dirugikan, terutama mereka yang baru membeli mobil dengan harga penuh.

Petisi bertajuk "Kami dirugikan! Harga Wuling Binguo EV turun Rp 180 juta dalam 7 bulan!" yang digagas Zyovanni Satya Negara sudah ditandatangani ratusan orang. Petisi ini menuntut agar Wuling Motors memberikan bentuk kompensasi yang lebih konkret. Pertemuan pun digelar antara inisiator petisi, perwakilan Wuling Binguo Club Indonesia (WBCI), komunitas Binguo Owners Talk (BOT), serta pihak manajemen SGMW, perusahaan induk Wuling.

Sebagai respon, Wuling meluncurkan Wuling Loyalty Program. Program ini mencakup fasilitas pengisian daya gratis, penawaran adaptor dengan harga khusus, hingga sejumlah benefit tambahan. Namun menurut komunitas pemilik, program tersebut masih jauh dari kata memadai.

Zyovanni menilai langkah ini positif karena menunjukkan perusahaan mulai mendengar suara konsumen. Tetapi, menurutnya inti masalah belum disentuh. Misalnya, batas waktu program free charging belum ditetapkan secara jelas. Adaptor juga dianggap bukan bonus tambahan, melainkan perangkat penting agar kendaraan bisa mengakses jaringan charging publik. "Konsumen menginginkan adaptor diberikan gratis. Karena ini soal fungsi dasar kendaraan, bukan aksesoris opsional," tegasnya, dilansir dariKompas, Senin (1/9).

Poin paling krusial tentu kompensasi finansial. Komunitas Binguo EV menuntut SGMW memberikan penggantian Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per unit. Jumlah tersebut dinilai adil untuk mengimbangi selisih harga yang terlalu besar. Jika ditotal, potensi dana yang harus disiapkan Wuling bisa mencapai puluhan miliar rupiah, mengingat populasi Binguo EV di jalanan Indonesia kini sudah ribuan unit.

Hingga kini, pihak Wuling Motors Indonesia melalui Brand Communication Senior Manager, Brian Gomgom, belum memberikan pernyataan resmi. Absennya tanggapan ini membuat konsumen semakin gusar. Bagi mereka, harga mobil listrik yang tidak stabil bisa mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Ke depan, penyelesaian kasus ini akan menjadi ujian besar bagi Wuling sebagai salah satu pemain utama di pasar otomotif tanah air. Apakah mereka mampu menjaga loyalitas konsumen dengan solusi yang adil, atau justru kehilangan kepercayaan akibat dianggap abai pada suara pelanggan?

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE