Joe Biden Sebut AS Hadapi Pertarungan Eksistensial, Sindir Politisi yang ‘Bersorak’ Saat Deportasi Imigran

Joe Biden Sebut AS Hadapi Pertarungan Eksistensial, Sindir Politisi yang ‘Bersorak’ Saat Deportasi Imigran
- (Dok. BBC).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyampaikan pidato emosional dalam peringatan 100 tahun National Bar Association di Chicago, sebuah forum bergengsi bagi komunitas hukum kulit hitam AS. Di tengah sorotan soal kondisi kesehatannya, Biden menyampaikan peringatan serius: Amerika saat ini sedang menghadapi pertarungan eksistensial yang menyasar kelompok-kelompok terpinggirkan.

"Sejak era penuh gejolak di tahun 1960-an, belum pernah pertarungan ini begitu menyentuh jantung identitas bangsa," tegas Biden. "Banyak dari Anda yang telah berjuang untuk mewujudkan cita-cita tertinggi negara ini. Sekarang, kelompok rentan diserang secara dramatis."

Pidato Biden menekankan pentingnya sistem peradilan yang kuat dan independen dalam mempertahankan hak-hak sipil, khususnya bagi komunitas kulit hitam dan imigran. Ia menuding bahwa pemerintahan saat ini mencoba menghapus sejarah, kesetaraan, dan keadilan.

Tanpa menyebut nama, Biden menyinggung praktik keras terhadap imigran yang tinggal secara legal di AS. "Kita melihat politisi yang bersorak saat orang-orang yang tinggal secara sah di negara ini direnggut dari keluarganya, diborgol, dan dipaksa meninggalkan satu-satunya rumah yang mereka kenal," ujar Biden.

Kritik Terselubung ke Donald Trump

Pidato ini adalah bagian dari rangkaian penampilan publik Biden yang semakin vokal terhadap Presiden AS saat ini, Donald Trump. Dalam beberapa bulan terakhir, Biden telah menyisipkan kritik terhadap pemerintahan Trump, termasuk dalam perayaan Juneteenth di Texas dan konferensi SDM di San Diego.

Biden juga menyuarakan keprihatinannya terhadap meningkatnya tekanan terhadap firma hukum dan hakim federal. Ia menyebut adanya tekanan politik dan intimidasi yang membuat beberapa kantor hukum "menyerah pada tekanan dan tunduk pada penguasa, bukannya berdiri di atas prinsip keadilan."

Bayang-Bayang Kesehatan dan Masa Lalu Politik

Meski tak menyentuh langsung isu kesehatan yang telah menjadi perbincangan publik, Biden sempat menyinggung usianya-pernah menjadi senator termuda dan juga presiden tertua yang terpilih di AS. Ia juga menyatakan tengah "berjuang keras" menyelesaikan memoar masa jabatannya, sembari menjalani perawatan kanker prostat.

Sementara itu, penyelidikan kongres terhadap kemunduran kognitif Biden di akhir masa kepresidenannya terus bergulir. Tim penyidik dari Partai Republik mewawancarai dua mantan penasihat seniornya, Mike Donilon dan Steve Ricchetti, untuk menyelidiki keputusan-keputusan grasi yang dikeluarkan Biden di masa jabatan terakhir.

Biden sendiri menolak tudingan bahwa stafnya menyalahgunakan kekuasaan, termasuk penggunaan autopen (alat tanda tangan otomatis). Ia menyebut para pengkritiknya "pembohong" dan menegaskan bahwa semua keputusan grasi telah ia sahkan secara lisan.

Lewat pidatonya, Biden kembali menegaskan dirinya bukan sekadar mantan presiden - tapi juga suara yang terus mengingatkan Amerika tentang bahaya diam di tengah ketidakadilan yang terstruktur.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE