Siapa Owner Hanania Travel? Ini Sosok Suami Istri di Balik Dugaan Penipuan Umrah Rp60 Miliar
Jerat Hukum Hanania Travel: Pasutri CEO dan Komisaris Utama Jadi Sorotan Kasus Penggelapan Dana Umrah
JAKARTA, GENVOICE.ID -Agen perjalanan umrah Hanania Travel yang sebelumnya dikenal sangat populer di kalangan milenial kini tengah menjadi sorotan tajam publik.
Travel yang aktif memanfaatkan strategi pemasaran digital dan promosi kekinian lewat media sosial ini dilaporkan ke pihak berwajib atas dugaan penipuan besar-besaran yang merugikan ribuan calon jemaah.
Seiring mencuatnya kasus ini, publik pun mempertanyakan siapa sosok pemilik utama di balik operasional Hanania Travel.
Profil Pemilik Utama Hanania Travel
Operasional agen perjalanan umrah dan haji ini dikendalikan oleh pasangan suami istri yang menjadi figur sentral perusahaan:
-
Ahmad Syah Farhan Rachman (Ahmad Farhan): Menjabat sebagai Direktur Utama sekaligus CEO Hanania Travel. Ia merupakan sosok yang aktif mempromosikan paket-paket umrah dengan harga kompetitif sejak tahun 2019.
-
Fitriatun Nisa Bahri (Nisa Bahri): Merupakan istri dari Ahmad Farhan yang memegang posisi sebagai Komisaris Utama Hanania Group. Nisa dikenal cukup vokal di media sosial dalam membangun citra perusahaan sebagai agen travel modern dan tepercaya.
Di balik citra positif dan modern yang mereka bangun, pasangan ini kini harus berhadapan dengan hukum akibat adanya dugaan kesalahan pengelolaan keuangan yang fatal.
Kronologi Terbongkarnya Dugaan Penipuan
Kasus ini mulai mencuat ke permukaan pada akhir Mei 2026 melalui rangkaian peristiwa berikut:
-
Janji Keberangkatan Palsu: Ribuan jemaah telah mendaftar dan melunasi biaya paket umrah sejak awal tahun 2026. Namun, mendekati tanggal keberangkatan yang dijanjikan, pihak manajemen terus menunda dengan dalih adanya masalah teknis serta situasi geopolitik global.
-
Akomodasi Belum Dipesan: Kecurigaan jemaah terbukti setelah dilakukan pengecekan mandiri. Korban menemukan fakta bahwa tiket pesawat dan akomodasi hotel di Arab Saudi ternyata belum dipesan sama sekali oleh pihak travel.
-
Pengakuan Pengelolaan Keuangan yang Buruk: Sempat dilakukan upaya mediasi antara pihak Hanania Travel dan calon jemaah. Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Farhan selaku CEO dikabarkan mengakui adanya kesalahan dalam pengelolaan dana jemaah.
-
Penggerebekan Kantor dan Laporan Polisi: Karena tidak mendapatkan kepastian, puluhan korban mendatangi kantor Hanania Travel di kawasan Kuningan/Casablanca, Jakarta Selatan, pada 28 Mei 2026. Kejadian ini berbuntut pada pelaporan resmi ke Polda Metro Jaya pada akhir Mei 2026.
Dampak Kerugian dan Status Hukum Tersangka
Berdasarkan laporan resmi dari para korban, total estimasi kerugian dalam kasus ini diperkirakan mencapai Rp60 miliar, di mana masing-masing jemaah kehilangan uang mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Dampak kerugian tidak hanya menimpa masyarakat biasa yang telah menabung bertahun-tahun demi ibadah suci, tetapi juga menyeret sejumlah mitra bisnis perusahaan yang ikut merugi hingga miliaran rupiah.
Pihak kepolisian bergerak cepat dengan menerima laporan terkait dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
Saat ini, Ahmad Syah Farhan telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani penahanan di Rutan Polda Metro Jaya. Kasus ini tercatat sebagai salah satu skandal penipuan travel umrah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Pelajaran Penting dari Kasus Ini
Tragedi yang menimpa para jemaah Hanania Travel menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh paket umrah murah yang dipromosikan secara masif menggunakan jasa tokoh terkenal (endorsement) di media sosial.
Validasi rekam jejak, izin resmi Kementerian Agama, serta kepastian tiket dan hotel harus selalu diperiksa secara mendalam sebelum melakukan pelunasan biaya ibadah.
Pihak berwenang saat ini terus melakukan penelusuri aliran dana (asset tracing) guna melacak aset-aset berharga milik Hanania Group. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang adanya pengembalian dana (refund) atau ganti rugi materiil bagi ribuan korban yang gagal berangkat ke tanah suci.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!