Jenius atau Kebetulan? Keputusan Liam Rosenior yang Buat Chelsea Berhasil Comeback 3-2 Lawan West Ham
JAKARTA, GENVOICE.ID - Awal karier Liam Rosenior sebagai manajer Chelsea di Premier League berjalan impresif. Dalam waktu kurang dari satu bulan sejak menggantikan Enzo Maresca pada awal Januari, pelatih berusia 41 tahun itu sudah membawa The Blues meraih tiga kemenangan liga beruntun. Yang terbaru, Chelsea bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menundukkan West Ham 3-2 dalam laga dramatis di akhir pekan.
Kemenangan tersebut terasa spesial karena Chelsea tampil buruk di babak pertama. Setelah melakukan tujuh perubahan dari laga Liga Champions melawan Napoli di tengah pekan, permainan The Blues jauh dari meyakinkan. West Ham yang tengah berjuang menjauh dari zona degradasi justru tampil lebih solid dan pantas unggul 2-0 hingga turun minum.
Namun, segalanya berubah setelah jeda. Rosenior mengambil keputusan berani dengan melakukan tiga pergantian pemain sekaligus di babak kedua. Hasilnya langsung terlihat. Marc Cucurella dan Joao Pedro, yang masuk dari bangku cadangan, masing-masing mencetak gol untuk menyamakan kedudukan sebelum Enzo Fernandez memastikan kemenangan lewat gol penentu di masa tambahan waktu.
Chelsea pun berbalik unggul 3-2 dan hasil itu membawa mereka naik ke posisi empat besar klasemen sementara Premier League.
Meski keputusan pergantian pemainnya terbukti krusial, Rosenior menolak disebut sebagai faktor utama kebangkitan tim. Ia justru menyoroti mentalitas para pemain sejak dirinya datang ke Stamford Bridge.
"Saya melihat ada semangat, daya juang, dan ketahanan yang sangat saya sukai dari grup ini," kata Rosenior seusai pertandingan. "Sejak hari pertama, saya menuntut respons yang positif terhadap situasi sulit. Itu yang terlihat di babak kedua."
Menurut Rosenior, peningkatan intensitas, energi, dan tekanan setelah jeda tidak semata-mata disebabkan oleh pergantian pemain. Ia menilai para pemain menunjukkan reaksi yang tepat setelah tampil mengecewakan di babak pertama, di mana Chelsea bahkan mendapat sorakan dari pendukungnya sendiri.
Kritik tetap mengarah pada pilihan starting XI Rosenior. Lini kiri Chelsea yang diisi Alejandro Garnacho, Jorrel Hato, dan Benoit Badiashile dinilai kurang solid dan terlibat langsung dalam dua gol West Ham melalui Jarrod Bowen dan Crysencio Summerville. Ketiganya ditarik keluar saat turun minum, menyusul pergantian lebih awal Jamie Gittens yang cedera dan digantikan Pedro Neto.
Rosenior menegaskan keputusan tersebut bukan bentuk hukuman individual. "Itu performa kolektif yang buruk, bukan kesalahan satu atau dua pemain," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa pergantian cepat adalah bagian dari gaya kepelatihannya, seperti yang juga ia terapkan sebelumnya di Strasbourg.
Pendekatan itu mendapat beragam respons. Mantan pemain sayap Chelsea, Pat Nevin, menilai Rosenior mengembalikan tim ke sistem dan komposisi yang lebih familiar bagi para pemain. "Sekarang terlihat seperti keputusan jenius karena Chelsea menang," ujarnya di BBC Radio 5 Live.
Namun, persoalan kedalaman skuad masih menjadi catatan. Mantan kiper Chelsea Rob Green menyebut kualitas pemain pelapis masih terpaut cukup jauh dari pilihan utama. Situasi ini sebelumnya juga menjadi keluhan Enzo Maresca, terutama saat Chelsea harus melakukan rotasi besar.
Terlepas dari kritik tersebut, catatan Rosenior sejauh ini sulit diabaikan. Ia menjadi manajer Inggris keempat yang mampu memenangkan tiga laga Premier League pertamanya. Dari tujuh pertandingan di semua kompetisi, Chelsea memenangi enam di antaranya, termasuk comeback pertama mereka dari tertinggal dua gol untuk menang di liga.
Ujian berikutnya sudah menanti. Chelsea harus kembali membalikkan keadaan saat bertandang ke markas Arsenal pada leg kedua semifinal Piala Liga tengah pekan ini, setelah kalah 2-3 di leg pertama. Jika kembali sukses, reputasi Rosenior sebagai pengambil keputusan berani akan semakin menguat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!