Jakarta Bukan Impian Lagi! Setengah Juta Orang Pilih Kabur dari Ibu Kota, Ini Alasannya
Fenomena Urban Sprawl dan Hidup Mahal Bikin Ratusan Ribu Warga Tinggalkan Jakarta
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dulu, jadi perantau ke Jakarta itu ibarat pencapaian hidup. Bisa kerja di Ibu Kota, hidup mandiri, dan kirim duit ke kampung halaman. Itu impian banyak orang, bukan?
Tapi sekarang, tren sudah berubah. Kini, Jakarta makin ditinggalkan. Data dari BPS yang dirilis lewat Statistik Migrasi Indonesia Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang justru pergi dari Jakarta ketimbang datang.
Bayangin aja, di tahun 2020, lebih dari 797 ribu orang minggat dari Jakarta, sementara yang datang hanya sekitar 212 ribuan. Artinya, Jakarta "kehilangan" lebih dari setengah juta orang. Wilayah yang paling banyak ditinggalkan? Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Cuma Kepulauan Seribu yang pendatangnya masih lebih banyak daripada yang pergi.
Apa sih faktornya? Banyak alasan, tapi yang paling kelihatan karena Jakarta semakin nggak nyaman untuk ditinggalin.
Ini nggak heran sih, karena menurut Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno alias Bang Doel, sekarang banyak perantau yang lebih memilih tinggal di daerah penyangga seperti Depok, Tangerang, atau Bekasi, tapi tetap kerja di Jakarta. Ini yang bikin istilah "kerja di Jakarta, tinggal di pinggiran" makin relevan.
Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana juga mengatakan, fenomena ini namanya urban sprawl dan commuter belt. Intinya, orang pindah ke luar Jakarta karena biaya hidup di Ibu Kota semakin nggak masuk akal, sementara Jakarta tetap jadi pusat ekonomi.
Tapi ya tetap aja, kualitas hidup di Jakarta semakin berat. Polusi makin parah, ancaman banjir dan penurunan tanah makin nyata, dan hidup di sini semakin mahal.
Untuk kelas menengah ke bawah, tinggal di Jakarta tuh makin nggak logis. Selain susah mencari tempat tinggal yang layak, mereka juga harus tahan banting dengan tekanan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang semakin gak bersahabat.
Jadi, jangan heran kalau Jakarta sekarang bukan lagi primadona buat para perantau. Banyak yang mulai sadar, hidup tenang di kampung halaman, sambil bekerja atau bisnis, kadang jauh lebih worth it daripada harus "berperang" setiap hari di tengah padatnya Ibu Kota.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!