Tantri Kotak Akui Dana Pendidikan Anak Ikut Hilang, Kerugian Investasi Capai Miliaran Rupiah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Penyanyi Tantri Kotak mengungkap dampak besar yang dirasakannya setelah menjadi korban dugaan penipuan investasi yang dilakukan oleh seseorang yang dikenalnya. Vokalis band Kotak tersebut mengaku kehilangan uang dalam jumlah miliaran rupiah yang selama ini dipersiapkan untuk masa depan anak-anaknya.
Tantri menjelaskan bahwa dana yang diinvestasikan bukan sekadar uang tabungan biasa. Sebagian besar dana tersebut disiapkan sebagai biaya pendidikan kedua anaknya, mengingat profesinya sebagai musisi tidak memiliki jaminan dana pensiun.
Ia mengaku awalnya percaya karena pelaku merupakan teman sendiri. Kedekatan tersebut membuatnya merasa aman untuk menempatkan dana yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
"Awalnya berpikir, dana tabungan pendidikan anak bisa diputar. Aku percaya karena dia teman sendiri," ujar Tantri.
Namun, kepercayaan tersebut justru berujung pada kerugian besar. Tantri mengaku merasa sangat terpukul karena uang hasil kerja keras selama puluhan tahun hilang begitu saja.
Menurutnya, rasa kehilangan yang dirasakan bukan hanya soal nominal uang, melainkan juga perasaan dikhianati oleh orang yang selama ini dikenal baik.
"Rasanya seperti dikhianati dari belakang," katanya.
Meski tidak mengungkap jumlah kerugian secara rinci, Tantri memastikan nilai dana yang hilang mencapai miliaran rupiah. Ia juga menyebut total kerugian yang dialami sejumlah korban lain diduga mencapai puluhan miliar rupiah.
Kasus ini disebut melibatkan banyak korban yang sama-sama menaruh kepercayaan kepada pelaku. Tantri mengatakan para korban berasal dari lingkungan yang saling mengenal sehingga tingkat kepercayaan menjadi faktor utama.
Pelantun lagu-lagu Kotak itu juga mengungkap cara pelaku meyakinkan para korban. Menurutnya, setiap kali ada pencairan dana, pelaku justru menawarkan kontrak atau investasi baru agar uang kembali diputar.
Situasi tersebut membuat para korban terus menanamkan modal karena percaya keuntungan yang dijanjikan akan terus berjalan.
Tantri mengaku sempat ingin menghentikan investasinya karena membutuhkan dana untuk kebutuhan sekolah anak. Namun, pelaku disebut kembali meyakinkannya dengan alasan yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga.
"Ketika saya bilang mau berhenti karena butuh biaya anak sekolah, dia justru semakin meyakinkan," ungkapnya.
Kasus yang menimpa Tantri menjadi pengingat bahwa penipuan investasi dapat terjadi bahkan di lingkungan pertemanan sendiri. Faktor kedekatan dan rasa percaya sering kali membuat korban tidak menyadari risiko yang ada.
Kini, Tantri berharap persoalan tersebut dapat diproses secara hukum sehingga para korban memperoleh kejelasan atas dana yang hilang. Di sisi lain, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih berhati-hati dalam mengelola investasi, terutama yang berkaitan dengan masa depan keluarga dan pendidikan anak.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!