Jeju Diguncang Kasus Orang Hilang, Wisatawan Mulai Takut dan Batalkan Perjalanan

Serangkaian penemuan jasad warga yang sebelumnya dilaporkan hilang dalam tiga hari membuat calon wisatawan mempertimbangkan ulang rencana perjalanan ke Pulau Jeju.

Jeju Diguncang Kasus Orang Hilang, Wisatawan Mulai Takut dan Batalkan Perjalanan
Pulau Jeju. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pulau Jeju, Korea Selatan, tengah menjadi perhatian setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam rentang tiga hari. Rentetan kasus tersebut membuat sejumlah wisatawan mulai khawatir dan memilih membatalkan atau mempertimbangkan kembali rencana perjalanan mereka ke pulau wisata tersebut.

Kekhawatiran wisatawan muncul bersamaan dengan mencuatnya kontroversi mengenai penanganan laporan orang hilang oleh kepolisian setempat. Situasi ini dikhawatirkan semakin menekan sektor pariwisata Jeju yang sebelumnya sudah menghadapi penurunan jumlah kunjungan wisatawan domestik.

Wisatawan Mulai Ragu Berkunjung ke Jeju

Salah seorang wisatawan bermarga Kang, 29 tahun, memutuskan membatalkan rencana tinggal di Jeju pada musim gugur tahun ini. Sebelumnya, ia rutin menghabiskan waktu sekitar satu minggu di pulau tersebut dengan memilih kawasan yang tenang dan menikmati perjalanan tanpa menggunakan mobil.

Namun, pemberitaan mengenai sejumlah orang hilang yang ditemukan meninggal membuatnya merasa tidak nyaman untuk kembali melakukan perjalanan seorang diri. Kekhawatiran tersebut menunjukkan bahwa kasus yang terjadi mulai memengaruhi persepsi sebagian wisatawan terhadap keamanan Jeju.

Perdebatan mengenai rencana liburan ke Jeju juga bermunculan di berbagai komunitas daring Korea Selatan. Sebagian pengguna mengaku tetap memiliki jadwal perjalanan dalam beberapa bulan mendatang, tetapi mulai mempertanyakan apakah mereka sebaiknya tetap berangkat atau membatalkannya.

Ada pula keluarga yang mulai mengkhawatirkan perjalanan ke pulau tersebut karena anak mereka merasa takut setelah mengetahui rangkaian kasus yang terjadi. Sementara itu, calon wisatawan lain memilih meminta anggota keluarganya menunda perjalanan hingga situasi keamanan dianggap lebih jelas.

Empat Korban Ditemukan dalam Tiga Hari

Kekhawatiran publik meningkat setelah empat jasad orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan di berbagai lokasi di Jeju dalam periode 22 hingga 24 Agustus 2026. Salah satu korban yang menjadi perhatian utama adalah Jang Mi-ran, perempuan berusia 37 tahun yang dilaporkan hilang sejak Mei.

Jasad yang diyakini sebagai Jang ditemukan pada 24 Agustus di sebuah perkebunan dekat tempat ia sebelumnya tinggal dalam jangka panjang. Lokasi tersebut berada sekitar 400 meter dari akomodasinya, sementara korban ditemukan setelah 104 hari sejak laporan kehilangan dibuat.

Kasus Jang menjadi semakin kontroversial karena laporan orang hilangnya diduga ditutup secara tidak semestinya oleh petugas yang menangani perkara tersebut. Polisi berinisial Bu disebut mengklaim telah menghubungi Jang dan memastikan kondisinya aman, tetapi penyelidikan selanjutnya tidak menemukan catatan komunikasi yang mendukung klaim tersebut.

Korban lainnya adalah seorang pria berusia 60-an yang jasadnya ditemukan di kawasan Gujwa pada 22 Agustus. Kasus tersebut juga diduga pernah ditutup menggunakan cara serupa oleh petugas yang menangani laporan Jang.

Dalam dua hari berikutnya, polisi kembali menemukan jasad yang diyakini sebagai orang hilang lainnya di wilayah Jocheon dan Aewol. Penemuan empat jasad dalam waktu berdekatan tersebut kemudian memicu sorotan luas terhadap sistem penanganan laporan orang hilang di Jeju.

Penginapan Ikut Merasakan Dampaknya

Kekhawatiran wisatawan mulai dirasakan oleh pelaku usaha akomodasi di sekitar lokasi kasus. Sejumlah pemilik penginapan mengaku menerima lebih banyak pertanyaan dari calon tamu mengenai kondisi keamanan wilayah mereka setelah pemberitaan mengenai penemuan jasad menyebar.

Meski demikian, para pelaku usaha lokal menilai kawasan tempat mereka beroperasi selama ini relatif aman. Salah seorang pemilik penginapan di Hallim menyebut area tersebut memiliki penerangan yang cukup, termasuk lampu tambahan yang dipasang secara berkala, sehingga wisatawan yang bepergian sendirian sebelumnya tidak menjadi persoalan.

Pemilik penginapan lainnya mengatakan kawasan tersebut sebelumnya tidak dikenal sebagai wilayah yang bermasalah dari sisi keamanan. Namun, sejak kasus terbaru mencuat, ia mulai menerima banyak telepon dari calon wisatawan yang menyampaikan kekhawatiran sebelum memutuskan berkunjung.

Jumlah Wisatawan Domestik Sudah Menurun

Rangkaian kasus tersebut menjadi perhatian karena sektor pariwisata Jeju sedang menghadapi tantangan berupa penurunan kunjungan wisatawan domestik. Berdasarkan data yang dikutip media Korea Selatan, jumlah wisatawan domestik yang datang ke Jeju pada Juli 2026 mencapai 963.401 orang, turun 12,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut menjadi yang pertama sejak pandemi Covid-19 pada 2020 ketika jumlah wisatawan domestik bulanan ke Jeju berada di bawah satu juta. Penurunan juga masih terlihat pada Agustus berdasarkan data kunjungan hingga 23 Agustus.

Data resmi platform pariwisata Jeju menunjukkan bahwa pada 23 Agustus 2026 jumlah wisatawan domestik yang masuk ke pulau tersebut mencapai 34.559 orang dalam sehari. Sementara itu, jumlah wisatawan asing pada hari yang sama tercatat 6.828 orang.

Polisi Evaluasi Penanganan Kasus

Kasus tersebut kini tidak hanya menjadi persoalan keamanan, tetapi juga berkembang menjadi evaluasi besar terhadap kepolisian Korea Selatan. Polisi melakukan peninjauan ulang terhadap ratusan laporan orang hilang yang sebelumnya ditangani oleh petugas yang diduga melakukan penutupan kasus secara tidak sah.

Petugas yang diduga terlibat menghadapi sejumlah sangkaan terkait kelalaian tugas dan dugaan pemalsuan catatan resmi. Kepolisian juga mulai memperketat prosedur penutupan laporan orang hilang dengan mewajibkan pemeriksaan serta persetujuan dari pejabat yang lebih senior.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung turut menyerukan peningkatan akuntabilitas kepolisian setelah rangkaian kasus di Jeju memicu kemarahan publik. Pemerintah dan kepolisian kini menghadapi tuntutan untuk memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Jeju selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer Korea Selatan berkat panorama alam, pantai, jalur pendakian, hingga budaya lokalnya. Namun, munculnya kekhawatiran terkait keamanan dapat menjadi tantangan baru bagi industri pariwisata pulau tersebut apabila persepsi negatif wisatawan terus berkembang.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE