JAKARTA, GENVOICE.ID - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) memang membuka banyak kemudahan, termasuk dalam urusan mencari dukungan emosional. Tapi, di balik kemudahan itu, ada risiko yang patut diwaspadai.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa menjadikan AI sebagai tempat curhat bisa menimbulkan dampak negatif, terutama jika dilakukan terus-menerus.
"Memang, interaksi dengan AI bisa memberikan ketenangan dalam jangka pendek. Tapi jika dijadikan satu-satunya tempat mencari dukungan emosional, ini bisa mengarah pada bentuk ketergantungan," ujar Phoebe dikutip dariAntara, Selasa (14/10).
Ia menjelaskan, ketergantungan semacam ini bisa muncul saat seseorang mulai merasa lebih nyaman berbicara dengan AI dibandingkan dengan orang-orang terdekat di dunia nyata. Bahkan, AI bisa dianggap sebagai pengganti pasangan, sahabat, atau keluarga. Ketika tidak bisa berinteraksi dengan AI, tak sedikit yang justru merasa cemas atau gelisah.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko membuat kemampuan sosial-emosional seseorang jadi kurang terlatih. Akibatnya, ketika harus berinteraksi langsung dengan orang lain, mereka jadi lebih canggung dan tidak percaya diri.
Phoebe juga menyoroti adanya ekspektasi yang tidak realistis dalam hubungan sosial, karena pengguna AI terbiasa mendapatkan respons yang selalu sesuai harapan.
"Ini juga bisa meningkatkan rasa kesepian, karena seseorang jadi makin terasing dari interaksi sosial yang nyata," tambahnya.
Namun, Phoebe memahami bahwa bagi sebagian orang, membuka diri kepada orang lain bukan perkara mudah. Rasa takut dihakimi atau ditolak kerap menjadi penghalang. Tapi, membangun kebiasaan itu bisa dimulai dari langkah kecil.
"Salah satu cara yang bisa dicoba adalah memulai obrolan ringan dengan orang terdekat yang bisa memberi rasa aman. Dari situ, perlahan bisa membangun kepercayaan untuk cerita hal-hal yang lebih dalam," jelasnya.
Selain itu, bergabung dalam komunitas yang memiliki minat sama juga bisa jadi jalan untuk membangun interaksi yang hangat dan menyenangkan. Misalnya komunitas penggemar band, hobi, atau kegiatan sosial tertentu.
Kalau merasa butuh ruang yang aman dan profesional, mencari bantuan dari psikolog juga merupakan langkah penting.
"Psikolog bisa memberikan tempat yang aman untuk mengekspresikan emosi dan membahas masalah tanpa rasa takut dihakimi," pungkasnya.
Phoebe saat ini berpraktik di lembaga konsultasi psikologi Personal Growth, dan aktif memberikan edukasi seputar kesehatan mental, khususnya di era digital yang semakin kompleks.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!