Indonesia Lagi Suka yang Manis! Produksi Gula Melonjak, Tapi Kenapa Impor Masih Terus Jalan?
Produksi Gula Melonjak, Kok Indonesia Masih Impor?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Indonesia, negeri tropis yang kaya akan sumber daya alam, ternyata masih berjuang memenuhi kebutuhan gula nasional. Tren kenaikan konsumsi gula terus terjadi setiap tahun, menempatkan kapasitas produksi dalam negeri pada posisi yang sulit.
Meskipun pemerintah telah menggenjot produksi, nyatanya volume gula yang dihasilkan masih jauh dari kata cukup. Kondisi ini memaksa Indonesia untuk terus bergantung pada impor, sebuah realitas yang menjadi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada gula.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, kebutuhan gula naik 2-3% per tahun. Total kebutuhan gula nasional, baik untuk konsumsi, industri, sampai kawasan berikat, hampir nyentuh 6,5 juta ton per tahun.
Ini yang membuat Indonesia kewalahan, karena produksi dalam negeri hanya di angka 2,46 juta ton di tahun 2024. Alhasil, untuk menutupi kekurangan itu, pemerintah terpaksa harus impor gula rafinasi atau raw sugar, khususnya untuk kebutuhan industri.
Sektor Swasta dan BUMN Berpacu, Petani Tebu Beri Angin Segar
Walaupun demikian, produksi gula kita sebenarnya juga ikut naik, sekitar 5-6% per tahun. Kerennya lagi, kata Widiastuti dari Kemenko Pangan, pertumbuhan produksi gula dari BUMN lebih tinggi, yaitu 5,49%. Tapi, ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Terus, gimana nasib cita-cita swasembada gula yang diimpikan Presiden Prabowo? Widiastuti mengatakan, itu bukan hal mudah. Tantangan utamanya ada di lahan tebu dan pabrik yang terbatas.
Tapi, ada kabar baik dari para petani tebu. Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Nur Khabsyin, memprediksi tahun ini produksi gula konsumsi bakal lebih baik. Diperkirakan bisa tembus 2,6 juta ton. Hal ini karena, produktivitas tebu di tahun 2025 naik sampai 25% per hektare dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren Positif yang Harus Terus Diperhatikan
Meski ada naik turun, data dari APTRI menunjukkan tren positif dalam sembilan tahun terakhir. Luas tanam tebu terus bertambah, dari 440 ribu hektare di 2016 jadi 520 ribu hektare di 2024. Produktivitas per hektare juga mulai membaik. Nur Khabsyin optimis kalau produksi gula konsumsi dari tebu di tahun ini bisa mencapai 2,6-2,7 juta ton.
Jadi, meskipun tantangannya masih besar, terutama soal lahan dan pabrik, optimisme dari sektor pertanian ini bisa jadi modal penting untuk Indonesia menuju swasembada gula. Semoga aja, ke depannya kita tidak perlu lagi impor gula dan bisa menikmati manisnya gula buatan sendiri, ya Gen!
Gimana nih menurut kamu, kira-kira kapan ya Indonesia bisa swasembada gula sepenuhnya? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!