Mengenal KH Hasan Abdullah Sahal, 41 Tahun Pimpin Gontor hingga Jadi Tokoh Penting
Putra KH Ahmad Sahal ini telah memimpin Pondok Modern Darussalam Gontor sejak 1985, sekaligus menjadi bagian dari kesinambungan kepemimpinan pesantren yang didirikan oleh generasi Trimurti.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama KH Hasan Abdullah Sahal kembali menjadi perhatian publik setelah menyampaikan pidato dalam Peringatan 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Dalam acara yang turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto tersebut, Hasan menyampaikan pidato yang diwarnai humor sekaligus sejumlah kritik.
Hasan bukan sosok baru dalam perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Ia merupakan putra salah satu pendiri Gontor dan telah mengemban amanah sebagai pimpinan pondok sejak 1985, sehingga masa kepemimpinannya telah berlangsung lebih dari empat dekade.
Putra KH Ahmad Sahal
KH Hasan Abdullah Sahal lahir di Desa Gontor pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga tokoh yang dikenal sebagai Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.
Pendidikan Hasan dimulai di lingkungan Gontor sejak usia muda. Ia menyelesaikan pendidikan dasar pada 1959 dan bahkan telah diterima sebagai santri Kulliyyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor tiga bulan sebelum menyelesaikan pendidikan tersebut.
Setelah menamatkan KMI pada 1965, Hasan melanjutkan pendidikan di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD). Pada periode yang sama, ia juga mengabdikan diri sebagai pengajar di KMI selama sekitar dua setengah tahun.
Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke luar negeri. Pada 1967, Hasan mendapat kesempatan memperdalam ilmu di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi.
Perdalam Ilmu hingga Al-Azhar
Pengembaraan akademik Hasan tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di Arab Saudi. Pada 1992, ia kembali memperdalam keilmuan dengan mengambil spesialisasi hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Pengalaman pendidikan di sejumlah lembaga tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Hasan dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah. Ia juga aktif mengajar dan membangun berbagai lembaga pendidikan yang memiliki keterkaitan dengan kiprahnya di dunia pesantren.
Di luar kegiatan kepemimpinan pesantren, Hasan tercatat telah mengabdikan diri di bidang akademik sejak 1977. Ia menjadi dosen di Institut Studi Islam Darussalam (ISID), lembaga pendidikan yang berada dalam lingkungan Gontor.
41 Tahun Memimpin Gontor
Hasan mulai mengemban amanah sebagai pimpinan PMDG pada 1985. Saat itu, ia memimpin bersama KH Shoiman Luqmanul Hakim dan KH Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
Kepemimpinan tersebut menempatkan Hasan sebagai bagian dari mata rantai pengasuhan Gontor setelah generasi Trimurti. Hingga kini, ia mengasuh Gontor bersama Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi dan Drs. KH Muhammad Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed.
Selain memimpin Gontor, Hasan juga terlibat dalam pendirian sejumlah lembaga pendidikan. Pada 1989, ia mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah di Coper, Jetis, Ponorogo.
Tiga tahun setelahnya, Hasan mendirikan sekaligus mengasuh Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah di Nglumpang, Mlarak. Kiprah tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam pengembangan pendidikan pesantren di luar lingkungan PMDG.
Aktif Berdakwah hingga Mancanegara
Perjalanan Hasan juga diwarnai kegiatan dakwah dan kunjungan ilmiah ke berbagai negara. Ia tercatat pernah melakukan perjalanan ke Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Brunei Darussalam, Australia, kawasan Timur Tengah, hingga sejumlah negara di Eropa.
Selain aktivitas pendidikan dan dakwah, Hasan juga menghasilkan sejumlah karya yang tercantum dalam profil resmi Gontor. Beberapa di antaranya adalah Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qari, Obsesi Hasan Abdullah Sahal, dan Ceramah-ceramah Kontemporer.
Ia juga menulis seri Allamatni al-Hayah atau Kehidupan Mengajariku yang terdiri dari tiga bagian. Karya-karya tersebut menjadi bagian lain dari kiprah Hasan dalam menyampaikan pemikiran dan pengalaman selama menjalani aktivitas pendidikan serta dakwah.
Dengan perjalanan kepemimpinan selama lebih dari empat dekade, Hasan Abdullah Sahal menjadi salah satu tokoh yang memiliki hubungan panjang dengan perkembangan Gontor. Kiprahnya tidak hanya berkaitan dengan pengasuhan pesantren, tetapi juga pendidikan, kaderisasi, dakwah, pendirian lembaga, serta kesinambungan warisan yang dibangun oleh generasi pendiri Gontor.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!