Sering Dianjurkan, Tapi Benarkah? Ini Fakta Sesungguhnya Soal Berbuka Puasa dengan Makanan Manis
Benarkah Sunnah Berbuka Harus Selalu yang Manis?
JAKARTA, GENVOICE.ID- Setiap Ramadan, anjuran berbuka puasa dengan yang manis sering digaungkan di masyarakat. Banyak orang langsung menyiapkan kolak, sirup, atau teh manis karena dianggap mengikuti sunnah. Namun, pemahaman ini ternyata perlu diluruskan agar tidak menjadi salah kaprah.
Dijelaskan pula bahwa Rasulullah SAW memang menganjurkan menyegerakan berbuka, tetapi tidak secara khusus memerintahkan berbuka dengan makanan manis secara umum seperti yang populer saat ini.
Yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah berbuka dengan kurma atau air. Kurma memang memiliki rasa manis alami, tetapi tujuan utamanya bukan sekadar karena manisnya. Kurma dipilih karena mudah dicerna dan cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Sunnah Berbuka yang Sering Disalahpahami
Banyak orang kemudian menyimpulkan bahwa semua makanan manis otomatis menjadi sunnah untuk berbuka. Padahal, ini adalah penyederhanaan yang kurang tepat.
Dalam penjelasan tersebut, Rasulullah SAW berbuka dengan kurma segar (ruthab). Jika tidak ada, beliau menggunakan kurma kering (tamr). Bila keduanya tidak tersedia, beliau cukup minum air. Dari sini terlihat bahwa yang ditekankan adalah menyegerakan berbuka dengan sesuatu yang ringan dan mudah.
Artinya, tidak ada kewajiban khusus harus mengonsumsi makanan manis berlebihan seperti yang sering terjadi sekarang. Bahkan, terlalu banyak gula saat perut kosong justru bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang.
Menu Takjil yang Diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam
Pada prinsipnya, umat Islam tidak dilarang berbuka puasa dengan menu takjil apa pun selama makanan dan minuman tersebut halal. Baik memulai dengan semangkuk kolak, segelas es campur, maupun secangkir kopi, semuanya diperbolehkan. Namun, bagi yang ingin meraih kesempurnaan dalam menjalankan ibadah, sekadar halal dan boleh tentu belum cukup.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam telah memberikan tuntunan mengenai apa yang sebaiknya diprioritaskan sebagai santapan pertama setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Ajaran ini menjadi pedoman penting bagi umat Islam yang ingin mengikuti sunnah secara lebih optimal sekaligus menjaga adab dalam berbuka puasa.
Dengan memahami panduan ini, momen berbuka tidak hanya menjadi waktu melepas dahaga, tetapi juga kesempatan meraih pahala dengan meneladani kebiasaan Nabi.
Sebuah hadis memaparkan anjuran Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam ketika berbuka.
عن النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلى تَمْرٍ، فَإِنْ لَمْ يَجدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَإِنَّه طَهُورٌ (روَاهُ أَبو دَاودَ والترمذي، وقالَ: حديثٌ حَسَنٌ صحيحٌ)
"Diriwayatkan dari Baginda Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam beliau bersabda, 'Jika salah satu dari kalian berbuka maka hendaknya berbuka dengan kurma, jika tidak menemukan kurma maka hendaknya berbuka dengan air karena sesungguhnya air adalah suci dan menyucikan.'"
Ada juga hadis lainnya yang menjelaskan hal serupa.
كانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيراتٌ، فإِنْ لمْ تَكُنْ تُميراتٌ حَسَا حَسَواتٍ مِنْ ماءٍ (رواه أَبو داود والترمذي، وَقالَ: حديثٌ حسنٌ)
"Baginda Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam berbuka sebelum melakukan shalat (Magrib) dengan kurma-kurma segar (ruthab), jika tidak menemukan maka dengan kurma, jika tidak menemukan kurma maka dengan air." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa ini hadis hasan)
Berdasarkan hadis yang sudah dicantumkan di atas, dapat dipahami bahwa Baginda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassalam memulai berbuka puasa dengan kurma. Jenis yang didahulukan adalah kurma segar (ruthab) maupun kurma kering (tamr). Apabila keduanya tidak tersedia, maka beliau berbuka dengan air putih.
Ruthab sendiri merupakan kurma yang sudah matang dengan tekstur masih basah dan lembut, sedangkan tamr adalah kurma kering yang lebih umum dijumpai. Dari penjelasan ini, dapat disusun urutan prioritas dalam membatalkan puasa sebagai berikut:
-
Kurma segar (ruthab), ini merupakan pilihan paling utama.
-
Kurma kering (tamr), menjadi pilihan yang sangat dianjurkan jika ruthab tidak ada.
-
Air putih, tetap utama ketika tidak tersedia kurma.
Urutan ini menunjukkan sunnah yang dianjurkan untuk diikuti oleh umat Islam yang ingin meneladani cara berbuka Nabi dengan lebih sempurna.
Apabila Kurma dan Air Putih Tidak Tersedia
Sekilas, anjuran mendahulukan kurma saat berbuka sering disamakan dengan anjuran berbuka dengan makanan manis. Memang, kurma memiliki rasa manis dan kandungan energi yang cepat mengembalikan stamina setelah seharian berpuasa. Namun, yang lebih ditekankan dalam sunnah adalah nilai keutamaannya, bukan sekadar rasa manisnya.
Para ulama menjelaskan bahwa jika kurma maupun air putih tidak tersedia, masih ada urutan pilihan yang dapat diikuti agar tetap meraih keutamaan berbuka. Urutan yang disebutkan sebagian ulama adalah sebagai berikut:
-
Kurma segar (ruthab), paling utama. Bahkan disebutkan air zamzam memiliki kedudukan setara dengan ruthab untuk berbuka.
-
Kurma kering (tamr)
-
Kurma muda yang belum matang
-
Air putih
-
Makanan atau minuman manis yang tidak dimasak dengan api
-
Makanan atau minuman manis yang dimasak dengan api
Contoh makanan manis yang tidak diolah dengan api antara lain madu, susu, anggur, mangga, dan buah manis lainnya. Jika pilihan tersebut tidak ada, barulah diperbolehkan berbuka dengan makanan atau minuman manis yang dimasak.
Tetap Jaga Adab Saat Berbuka
Berbuka puasa tetap merupakan aktivitas makan dan minum yang memiliki adab khusus sebagaimana diajarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam. Karena itu, jangan sampai tergesa-gesa hingga melupakan etika yang dianjurkan.
Beberapa adab berbuka yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Membaca basmalah sebelum makan atau minum
-
Mencuci tangan terlebih dahulu
-
Menggunakan tangan kanan
-
Makan dan minum sambil duduk
-
Tidak berlebihan
-
Tidak makan dan minum sambil berdiri
-
Tidak bernapas di dalam wadah minum
-
Menutup mulut saat mengunyah
-
Mengambil makanan yang dekat dan dari pinggir
-
Mengakhiri dengan doa serta hamdalah
Khusus untuk minum, Nabi mencontohkan agar dilakukan dalam tiga jeda. Setelah membaca basmalah, minumlah dua atau tiga tegukan tanpa bernapas di dalam gelas, lalu lepaskan sebagai jeda. Ulangi hingga tiga kali dan tutup dengan hamdalah.
Hikmah di Balik Anjuran Berbuka
Secara kesehatan, pilihan Rasulullah SAW juga sangat logis. Setelah berpuasa, tubuh membutuhkan asupan yang cepat diserap namun tidak memberatkan pencernaan. Kurma memenuhi kriteria tersebut karena mengandung gula alami, serat, dan nutrisi penting.
Karena itu, yang lebih tepat adalah meneladani prinsipnya yaitu berbuka dengan yang sederhana, mudah dicerna, dan tidak berlebihan. Makanan manis boleh saja dikonsumsi, tetapi bukan berarti menjadi satu-satunya pilihan apalagi sampai berlebihan.
Memahami hal ini penting agar umat Muslim tidak hanya mengikuti tradisi, tetapi juga benar dalam meneladani sunnah.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!