Obesitas Anak Indonesia Meningkat Drastis, Gara-Gara Makanan Instan dan Iklan di Medsos?
Waspada, Makanan Ultra-Olahan dan Iklan Digital Jadi Pemicu Utama Obesitas Anak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Laporan terbaru dari Unicef mengejutkan banyak pihak. Organisasi PBB ini menemukan prevalensi obesitas pada anak dan remaja di Indonesia meningkat tajam selama dua dekade terakhir.
Menurut laporan Child Nutrition Report 2025, kenaikan ini disebabkan oleh maraknya paparan makanan tidak sehat seperti camilan ultra-olahan dan minuman manis. Selain itu, Unicef juga menyoroti peran strategi pemasaran digital yang menyasar remaja lewat media sosial, membuat akses ke makanan tidak sehat semakin mudah.
Ternyata, prevalensi anak dan remaja usia 5-19 tahun yang kelebihan berat badan di Indonesia naik tiga kali lipat antara tahun 2000 dan 2022. Angka ini bikin Indonesia masuk ke dalam sembilan negara dengan tingkat obesitas sedang (15% hingga kurang dari 25%).
Makanan Ultra-Olahan dan Toko Modern Jadi Biang Keladi
Menurut Unicef, penyebab utama melonjaknya obesitas ini adalah paparan makanan tidak sehat yang dijual bebas. Makanan ultra-olahan, camilan murah, dan minuman manis yang mudah diakses di toko-toko modern jadi "tersangka" utama.
Remaja disebut sangat rentan karena mereka punya kebebasan lebih besar untuk memilih makanan sendiri, seringkali tanpa pengawasan orang tua.
Penelitian di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa remaja paling sering membeli camilan manis dan asin dari supermarket atau toko swalayan. Lebih dari dua pertiga remaja (usia 13-19 tahun) di China, Indonesia, Filipina, dan Thailand membeli makanan dari gerai modern.
Ditambah lagi, pertumbuhan toko daring dan layanan pesan-antar makanan juga mempermudah akses ke makanan tidak sehat. Laporan Unicef menyebutkan lebih dari sepertiga remaja di beberapa negara, termasuk Indonesia, menggunakan platform belanja daring, dan separuh lainnya memesan lewat aplikasi pengiriman makanan.
Perusahaan Makanan 'Sasar' Remaja Lewat Iklan di Medsos
Yang bikin masalah ini makin rumit adalah strategi pemasaran digital. Unicef menemukan tingkat paparan iklan digital untuk makanan dan minuman tidak sehat sangat tinggi, apalagi di kalangan remaja Indonesia yang hampir 99%nya melek internet.
Perusahaan-perusahaan besar menggunakan berbagai teknik persuasif, mulai dari stiker, geotag, tagar, sampai daya tarik emosional di platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan X.
Mereka menggunakan gambar remaja atau orang dewasa yang sedang menikmati makanan, biar kelihatan "dekat" dan bikin audiens muda tertarik. Laporan Unicef juga mengungkap 85% dari 20 merek yang ditinjau mempromosikan produk yang melampaui ambang batas gizi yang direkomendasikan WHO.
Upaya Pemerintah Tangani Obesitas Anak
Meski angka obesitas remaja di Indonesia naik, ada kabar baik dari kelompok usia 5-12 tahun yang angkanya menunjukkan penurunan. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menyebut pemerintah sudah melakukan berbagai upaya.
Antara lain, ada kampanye Isi Piringku dan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak. Pemerintah juga menggalakkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), deteksi dini di sekolah, dan penguatan Usaha Kesehatan Sekolah. Selain itu, ada regulasi label gizi dan kerja sama lintas sektor untuk mengendalikan iklan makanan tidak sehat.
Semoga upaya pemerintah ini bisa menekan angka obesitas dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat buat anak-anak dan remaja di Indonesia, ya Gen!
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!