Karhutla Bikin Warga Sesak, 5 Pernyataan Gubernur Kalimantan Ini Malah Bikin Geleng-Geleng Kepala

Pernyataan lima gubernur di Kalimantan terkait karhutla ramai diperbincangkan publik, mulai dari candaan hingga respons terhadap kritik soal penanganan kebakaran.

Karhutla Bikin Warga Sesak, 5 Pernyataan Gubernur Kalimantan Ini Malah Bikin Geleng-Geleng Kepala
Lima gubernur di Kalimantan menuai kritik terkait pernyataan soal karhutla, mulai dari “bercerai kawin lagi”, “tidak parah”, hingga respons soal keterlibatan mahasiswa. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Sejumlah pernyataan gubernur di Kalimantan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ramai diperbincangkan publik. Rudy Mas'ud, Agustiar Sabran, H. Muhidin, Ria Norsan, dan Zainal A. Paliwang menjadi perhatian setelah pernyataan mereka mendapat kritik di tengah kondisi masyarakat yang terdampak kebakaran dan kabut asap.

Pernyataan tersebut muncul ketika persoalan karhutla masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan. Kritik terhadap para kepala daerah juga datang dari anggota DPR RI Daniel Johan yang mengingatkan pentingnya empati dan komunikasi yang tepat ketika masyarakat sedang menghadapi bencana.

Berikut lima pernyataan gubernur di Kalimantan yang ramai diperbincangkan terkait persoalan karhutla:

1. Rudy Mas'ud: Kualitas Udara Disebut Aman

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud menjadi perhatian setelah menyampaikan bahwa kondisi kualitas udara di wilayahnya masih aman dan terkendali. Pernyataan tersebut disampaikan ketika kabut asap turut menjadi persoalan yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.

"Kualitas udara untuk Kalimantan Timur alhamdulillah masih semuanya aman terkendali, masih dalam kondisi yang aman, masih aman. MBG tetap jalan," ujar Rudy Mas'ud.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perbincangan karena pada periode yang sama terdapat laporan mengenai kegiatan belajar di sejumlah sekolah yang terdampak kabut asap. Kondisi itu membuat pernyataan mengenai kualitas udara ikut dikaitkan dengan dampak karhutla terhadap aktivitas masyarakat.

2. Agustiar Sabran: "Bercerai Kawin Lagi"

Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran juga menjadi perhatian setelah melontarkan candaan ketika membahas penyebab karhutla. Ia menyebut sebagian besar kebakaran terjadi akibat ulah manusia dan kemudian menggunakan kalimat "bercerai kawin lagi".

"Sebenarnya sama aja, takdir juga, tapi banyak ulah manusianya. Hampir 97% tuh akibat manusianya. Karena itu bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi," kata Agustiar.

Ucapan tersebut kemudian ramai di media sosial dan mendapat kritik dari sejumlah pihak. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Daniel Johan, menilai candaan tersebut tidak tepat disampaikan ketika masyarakat sedang menghadapi dampak bencana.

"Meskipun niatnya bercanda, tapi tidak pada tempatnya karena kondisi masyarakat yang sedang mengalami musibah," kata Daniel, sebagaimana dikutip detikNews.

3. H. Muhidin: Karhutla Disebut "Tidak Parah"

Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin juga mendapat perhatian setelah menyampaikan penilaian mengenai kondisi kebakaran saat melakukan peninjauan. Ia menyebut situasi di lokasi yang didatanginya tidak parah.

"Kita meninjau bersama-sama ternyata tidak parah. Heli pun tidak ada hari ini. Biasanya kalau parah heli itu ada menyiram, ini tidak ada. Artinya tidak parah," ujar Muhidin.

Pernyataan tersebut kemudian dipersoalkan karena tidak adanya helikopter pemadam ketika peninjauan tidak secara otomatis menunjukkan tingkat keparahan kebakaran. Dalam laporan yang menjadi rujukan, Muhidin juga menyampaikan permohonan maaf karena pemerintah daerah belum mampu membantu seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

4. Ria Norsan: Pertanyakan Keterlibatan Mahasiswa

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menjadi perhatian ketika berdialog dengan mahasiswa yang menyampaikan kritik terkait penanganan karhutla. Dalam kesempatan tersebut, Norsan mempertanyakan apakah mahasiswa turut turun langsung membantu memadamkan api di lapangan.

"Mahasiswa ada turun? Memadamkan api? Saya sudah 4 hari ini (turun), saya belum lihat mahasiswa turun di lapangan. Belum ada, 3-4 hari ini saya belum lihat," kata Ria Norsan.

Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan karena mahasiswa menyatakan telah ikut terlibat dalam kegiatan penanganan karhutla. Perbedaan pandangan tersebut membuat dialog antara kepala daerah dan mahasiswa ikut menjadi perhatian publik.

5. Zainal A. Paliwang: "Biarlah Saya Bodoh"

Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang memberikan respons terhadap kritik mengenai upaya pemadaman karhutla dan keterbatasan peralatan. Ia mengatakan pemerintah tetap berupaya membantu petugas di lapangan meski mendapat berbagai kritik dari masyarakat.

"Kita berupaya untuk membantu petugas, tapi ada juga yang bilang saya bodoh. Ya, biarlah saya bodoh, enggak apa-apa. Ya, biarlah saya bodoh. Yang bilang saya bodoh itu memang dia orang hebat. Dia itu orang pintar orang berpendidikan. Ya, tidak apa-apa, biar Allah yang membalas," ujar Zainal.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari perdebatan publik mengenai komunikasi pemerintah daerah ketika menghadapi karhutla. Kritik terhadap keterbatasan peralatan dan tuntutan penanganan yang lebih konkret terus muncul seiring kebakaran yang berdampak terhadap masyarakat.

Empati dan Komunikasi Pejabat Jadi Perhatian

Rangkaian pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi publik pejabat menjadi bagian penting ketika pemerintah menghadapi bencana. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi kebakaran, dampak kabut asap, serta langkah konkret yang dilakukan untuk menangani persoalan tersebut.

Kritik terhadap pernyataan seorang pejabat tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan kinerja pemerintah daerah. Namun, cara menyampaikan informasi dan merespons keluhan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi publik di tengah situasi bencana.

Di tengah persoalan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan, masyarakat membutuhkan keterbukaan informasi dan penjelasan mengenai langkah penanganan. Empati terhadap warga terdampak serta koordinasi antara pemerintah dan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE