Real Madrid Berhasil Kalahkan Manchester City dengan Epic Comeback yang Menegangkan!

M
M Ihsan
Penulis
Sport
Real Madrid Berhasil Kalahkan Manchester City dengan Epic Comeback yang Menegangkan!
- (Dok. BBC International).

JAKARTA, GENVOICE.ID -Manchester City memulai laga dengan penuh percaya diri, bahkan mengibarkan spanduk besar yang mengejek Real Madrid dan Vinicius Junior atas kemarahan mereka terhadap kemenangan Rodri dalam Ballon d'Or tahun lalu, namun, dengan mental juara yang dimiliki Real Madrid, justru membuat Manchester City tersungkur.

Dilansir dari BBC Sport, terbentang jelas tulisan "Stop Crying Your Heart Out," yang diambil dari lagu Oasis, disertai dengan gambar Rodri mencium trofi prestisius itu, hal tersebut merupakan sebuah sindiran tajam terhadap Real Madrid yang memboikot acara penghargaan tersebut sebagai bentuk protes.

Namun, mengejek tim paling berpengalaman dan kejam dalam sejarah Liga Champions adalah perjudian berisiko tinggi. Dan Manchester City harus membayar mahal untuk itu.

Pada akhirnya, justru para pemain dan penggemar City yang meneteskan air mata setelah peluit akhir berbunyi. Real Madrid kembali menunjukkan mental juara mereka dengan kemenangan dramatis 3-2, membalikkan keadaan hanya dalam beberapa menit terakhir dan membawa keunggulan berharga ke leg kedua.

iklan gulaku

Real Madrid tidak pernah kehilangan keyakinan, sementara Manchester City kembali menunjukkan kurangnya kepercayaan diri di momen-momen krusial. The Citizens unggul 2-1 hingga menit ke-86, tetapi mereka gagal mempertahankan keunggulan saat Brahim Diaz menyamakan kedudukan dengan empat menit tersisa.

City kembali menunjukkan kebiasaan buruk musim ini, yaitu kehilangan keunggulan di saat-saat genting. Ini adalah kali kelima mereka membuang keunggulan dalam satu musim Liga Champions. City telah kebobolan delapan gol dalam 16 menit terakhir dalam lima pertandingan terakhir mereka di kompetisi ini, suatu rekor terburuk di antara semua tim.

Masalah utama mereka adalah kurangnya stabilitas dan kondisi fisik yang tidak optimal. Beberapa pemain kunci kelelahan, beberapa bahkan tidak fit sepenuhnya, termasuk Rodri, yang hanya bisa menyaksikan dari pinggir lapangan. Absennya gelandang andalan ini terasa sangat besar, terutama dalam memberikan ketenangan dan keseimbangan di lini tengah.

Kehilangan Jack Grealish di menit ke-30 semakin menambah beban bagi City. Grealish bermain dengan semangat tinggi seolah ingin membuktikan sesuatu kepada Pep Guardiola, tetapi cedera memaksanya keluar lebih awal.

Real Madrid, dengan ketenangan dan pengalaman mereka, bisa mencium ketegangan di kubu City. Dan seperti yang sering terjadi, Los Blancos menghukum kesalahan lawan tanpa ampun. Gol kemenangan Jude Bellingham di masa injury time tampak seperti sesuatu yang sudah ditakdirkan.

Dalam situasi panik, kiper Ederson yang keluar dari sarangnya menjadi celah besar bagi Madrid. Vinicius Junior, yang sempat diejek sebelum laga, memberikan jawaban terbaik dengan memberikan assist yang memudahkan Bellingham mencetak gol kemenangan. Perayaan kemenangan Real Madrid pun menjadi pemandangan yang menyakitkan bagi pendukung City.

Madrid kembali menunjukkan bahwa melawan mereka, pertandingan belum selesai sampai peluit akhir berbunyi. City hanya memimpin selama 90 detik dalam laga ini, tetapi sayangnya bagi mereka, itu adalah 90 detik pertama, bukan yang terakhir.

Dengan kekalahan ini, City harus menghadapi tantangan besar di Santiago Bernabeu. Mengingat tren performa mereka yang tidak stabil dan kecenderungan untuk runtuh di momen krusial, mereka membutuhkan keajaiban untuk bisa membalikkan keadaan. Sayangnya, keajaiban di Liga Champions biasanya berpihak kepada tim yang mengenakan seragam putih.

Selain kekalahan, tanda-tanda bahwa era keemasan Manchester City mulai mencapai titik puncak semakin jelas terlihat. Para pemain kunci seperti Kevin De Bruyne (33 tahun) dan Bernardo Silva (30 tahun) mulai terlihat kelelahan dan kehilangan pengaruh di lapangan. Ederson, yang selama ini dikenal sebagai penjaga gawang yang tangguh, kini tampak rentan.

John Stones berusaha memberikan perlindungan di lini belakang, tetapi ancaman Madrid terlalu besar dengan kombinasi Vinicius Junior, Rodrygo, Kylian Mbappe, serta Bellingham yang menjadi momok bagi lini pertahanan City.

Pep Guardiola sendiri tampak frustrasi di pinggir lapangan. Dalam wawancaranya setelah pertandingan, ia mengakui bahwa City musim ini tidak cukup stabil.

"Kami mengambil keputusan buruk di saat-saat krusial. Itu sudah terjadi berkali-kali musim ini. Saya tahu betapa bagusnya Real Madrid. Kami mencoba menyerang terlalu cepat di babak kedua. Ini bukan hanya tentang tim, tetapi tentang semua orang, termasuk saya," ujar Guardiola.

"Saya sudah berada di sini selama bertahun-tahun dan kami selalu menjadi mesin yang luar biasa setiap tiga hari. Tapi musim ini berbeda. Kami tidak cukup stabil. Saya tidak bisa memberikan ketenangan yang dibutuhkan tim dalam situasi seperti ini. Ini adalah kenyataan yang harus kami hadapi."

Kini, Guardiola menghadapi dua tantangan besar sekaligus, mengalahkan Real Madrid di Bernabeu dan menghidupkan kembali kejayaan Manchester City yang mulai meredup. Apakah ia mampu melakukannya? Atau justru ini menjadi pertanda akhir dari era kejayaan City? Jawabannya akan terungkap di leg kedua yang akan menjadi ujian terbesar bagi The Citizens.

  • Tag:
  • Real Madrid
  • Manchester City
  • Sepak Bola
  • Sport

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today