Pakar Ingatkan Ekonomi Jakarta Jangan Hanya Andalkan Konsumsi, Investasi Harus Jadi Prioritas

Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar perekonomian Jakarta. Para ekonom menilai investasi dan sektor produktif harus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan dan tidak mudah melambat.

Pakar Ingatkan Ekonomi Jakarta Jangan Hanya Andalkan Konsumsi, Investasi Harus Jadi Prioritas
Ekonomi Jakarta Dinilai Belum Kuat karena Masih Bergantung pada Konsumsi. - (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Struktur perekonomian Jakarta dinilai masih terlalu bergantung pada belanja masyarakat atau konsumsi rumah tangga. Kondisi tersebut memang mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, namun dinilai belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan yang berkelanjutan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan investasi dan sektor-sektor produktif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar perekonomian ibu kota sepanjang 2025 dengan kontribusi mencapai 62,80 persen. Di posisi berikutnya terdapat Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 33,79 persen, disusul konsumsi pemerintah sebesar 13,20 persen.

Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 9,33 persen, kemudian transportasi dan pergudangan sebesar 8,69 persen, serta jasa lainnyayang meningkat 8,46 persen.

Konsumsi Dinilai Belum Cukup Menjamin Pertumbuhan Jangka Panjang

Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, menilai dominasi konsumsi rumah tangga memang mampu menopang ekonomi dalam jangka pendek. Namun, ia mengingatkan bahwa ketahanan pertumbuhan akan melemah apabila peningkatan konsumsi lebih banyak dipicu oleh kenaikan harga dibandingkan meningkatnya aktivitas ekonomi riil.

Menurutnya, penguatan sektor produktif harus menjadi prioritas agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada daya beli masyarakat yang dapat berubah sewaktu-waktu.

"Investasi seharusnya menjadi motor pertumbuhan berikutnya. Pemerintah perlu menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga pelaku usaha terdorong melakukan ekspansi. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga," ujarnya.

Investasi Dianggap Kunci Menjaga Daya Saing Ekonomi

Iyuk menilai peningkatan investasi memiliki peran penting dalam memperluas kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan produktivitas industri.

Apabila investasi terus tumbuh, struktur ekonomi akan menjadi lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh ketika daya beli masyarakat mengalami perlambatan.

Persoalan Kota Ikut Menghambat Produktivitas

Selain struktur ekonomi, berbagai persoalan perkotaan juga dinilai memengaruhi daya saing Jakarta.

Kemacetan yang membuat pekerja menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan, jaringan transportasi publik yang belum sepenuhnya terintegrasi di kawasan Jabodetabek, banjir musiman, hingga layanan air bersih yang belum merata disebut turut meningkatkan biaya ekonomi bagi masyarakat maupun dunia usaha.

Menurut Iyuk, efisiensi sebuah kota merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi.

Ketika masyarakat kehilangan banyak waktu akibat kemacetan, biaya logistik meningkat, kualitas lingkungan menurun, dan layanan dasar belum optimal, produktivitas ekonomi pun ikut terdampak.

Karena itu, pembangunan infrastruktur perkotaan seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang yang mampu meningkatkan efisiensi ekonomi, bukan sekadar proyek pembangunan fisik.

Konsumsi Berbasis Impor Perlu Diwaspadai

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditopang konsumsi rumah tangga perlu dicermati, terutama jika barang yang dikonsumsi sebagian besar berasal dari impor.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat peningkatan konsumsi tidak memberikan dampak maksimal terhadap sektor produksi dalam negeri.

Jika masyarakat lebih banyak membeli produk impor, nilai tambah ekonomi justru dinikmati negara lain, sementara industri domestik tidak memperoleh manfaat yang signifikan.

Pertumbuhan Perlu Ditopang Dunia Usaha

Pandangan serupa disampaikan Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya, YB Suhartoko.

Ia menilai pertumbuhan ekonomi yang hanya bertumpu pada konsumsi rumah tangga berpotensi sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Menurutnya, kemampuan masyarakat untuk terus berbelanja sangat bergantung pada kondisi dunia usaha yang menghasilkan lapangan pekerjaan, investasi, serta pendapatan bagi tenaga kerja dan pemilik modal.

Karena itu, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi membutuhkan keseimbangan antara konsumsi, investasi, dan ekspansi sektor produktif.

Dengan struktur ekonomi yang lebih beragam, Jakarta dinilai akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang, sekaligus menjaga daya saing sebagai pusat bisnis dan ekonomi nasional.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE