Kinerja Ekspor Melemah, Kualitas Surplus Neraca Perdagangan Memburuk

Kinerja Ekspor Melemah, Kualitas Surplus Neraca Perdagangan Memburuk
- (Dok. istimewa).

JAKARTA - Penguatan sektor produktif dan ekspor bernilai tambah menjadi kunci untuk menjaga ketahanan perdagangan di tengah tekanan struktural. Tanpa pergeseran kebijakan ke arah peningkatan kapasitas produksi dan daya saing industri, surplus perdagangan berisiko semakin rapuh dan tidak berkelanjutan.

Daya saing perdagangan Indonesia menghadapi tekanan struktural akibat melemahnya kinerja ekspor yang berlangsung bersamaan dengan peningkatan impor, meskipun neraca dagang masih mencatat surplus untuk ke-67 kali berturut-turut pada November 2025. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kualitas surplus neraca perdagangan Indonesia turun.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, menyoroti melemahnya kinerja ekspor Indonesia yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya impor, mencerminkan rendahnya daya saing perdagangan nasional. Menurut Bhima, kualitas neraca dagang memburuk karena ekspor masih bertumpu pada komoditas dan produk olahan primer, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global.

"Ekspor Indonesia makin terganggu karena daya saing rendah dan bergantung pada naik turun harga komoditas," ungkap Bhima kepada Koran Jakarta, Senin (5/1).

Kondisi ini, lanjutnya, berbeda dengan negara seperti Vietnam yang telah mengandalkan ekspor bernilai tambah tinggi, seperti semikonduktor dan perangkat elektronik. Akibatnya, ekspor Indonesia semakin tertekan karena struktur yang kurang kompetitif dan ketergantungan berlebih pada siklus komoditas.

Untuk mendorong peningkatan ekspor pada 2026, Bhima menilai pemerintah perlu memperkuat industri midstream guna menutup celah hilirisasi di tahap menengah. Dia mencontohkan pengolahan nikel tak berhenti pada bahan setengah jadi, melainkan diarahkan hingga produk bernilai tambah tinggi seperti baterai penyimpan energi terbarukan atau stainless steel siap ekspor.

Karenanya, Bhima menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak, termasuk kerja sama internasional di luar Tiongkok, guna mendorong transfer pengetahuan. Dukungan riset dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dinilai krusial agar strategi hilirisasi mampu meningkatkan daya saing ekspor secara berkelanjutan.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 surplus sebesar 2,66 miliar dollar AS, dengan rincian ekspor senilai 22,52 miliar dollar AS dan impor 19,86 miliar dollar AS. "Untuk ekspor produk nasional pada November 2025 turun 6,60 persen secara tahunan (year on year/ yoy), sementara impor mengalami kenaikan yakni 0,46 persen yoy," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta, awal pekan ini.

Kendala Struktural

Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Ermatry Hariani menegaskan peningkatan daya saing menjadi syarat utama Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Namun, persoalan struktural yang sudah lama seperti, kualitas produk, SDM, dan tingginya biaya ekonomi, hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah perlu melakukan pembenahan menyeluruh dengan memprioritaskan transformasi SDM melalui percepatan program vokasi yang relevan, kolaboratif antara pemerintah dan swasta, serta perluasan akses teknologi digital. Secara paralel, perbaikan iklim investasi menuntut ketegasan dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi guna menekan biaya ekonomi.

"Setelah fondasi tersebut terbentuk, penguatan hilirisasi dinilai dapat menjadi penggerak lanjutan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekonomi nasional," ujarnya. ers/SB/YK/E-10

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE