Ratusan Kayu Hanyut di Sumatera Bikin Geger! Pakar IPB: Itu Kayu Baru, Kayu Lama, atau Sisa Land Clearing?

Ratusan Kayu Hanyut di Sumatera Bikin Geger! Pakar IPB: Itu Kayu Baru, Kayu Lama, atau Sisa Land Clearing?
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Potongan video tentang tumpukan kayu gelondongan yang terseret banjir di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sempat bikin warganet berdebat panjang.

Banyak yang langsung curiga: ini pasti ulah pembalakan liar. Tapi apakah benar semuanya hasil tebangan ilegal?

Ahli Kebijakan Hutan IPB University, Prof Dodik Ridho Nurochmat, akhirnya ikut turun tangan membaca fenomena ini. Analisisnya membuat perbincangan publik semakin menarik.

Menurut Dodik, kayu-kayu yang terlihat berserakan itu tidak mungkin berasal dari satu sumber saja. Dari potongan visual yang beredar, ia menilai material kayu itu bisa berasal dari campuran aktivitas lama dan baru: mulai dari penebangan, pohon tumbang alami, sampai sisa pembersihan lahan yang tidak dibereskan.

"Bisa dari penebangan lama atau pembersihan lahan yang tidak tuntas. Jika terbawa arus, kayu itu akan mengambang. Tapi bisa juga dari penebangan baru. Untuk itu harus ada investigasi," ujarnya, dikutip dari IPB University.

Dodik belum bisa memastikan apakah kayu tersebut semuanya kayu baru atau justru kayu lama yang tertimbun dan lepas saat debit air naik drastis. Banjir bandang dan longsor yang datang bersamaan bisa menyeret apa pun yang ada di jalurnya, termasuk pohon tumbang yang sebelumnya berdiri di lereng terjal.

Dodik juga menjelaskan cara membedakan kayu hasil tebangan dengan kayu yang tumbang alami. Menurutnya, kayu hasil tebang selalu punya bekas gergaji yang jelas. Sementara kayu tumbang tidak akan memperlihatkan pola potongan rapi. Tapi ia menekankan, menilai hanya dari foto dan video itu sulit.

"Dari gambar terlihat potongan kayu berukuran kecil dan besar. Tapi tidak bisa dilihat secara detail apakah potongannya rapi atau akibat tumbang alami," katanya.

Meski begitu, Dodik menekankan bahwa akar persoalannya lebih besar dari sekadar kayu yang hanyut. Ia menyebut longsor dan banjir besar di wilayah Sumatera dipicu kombinasi faktor alam dan manusia. Cuaca ekstrem, kondisi geografis pegunungan, dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia membuat kawasan hulu semakin rentan.

Ia mengingatkan bahwa tata kelola lingkungan harus diperbaiki, mulai dari kepatuhan pada AMDAL, Kajian Lingkungan Hidup Strategis, hingga penegakan hukum yang tidak berhenti di sanksi, tetapi berlanjut pada pemulihan lingkungan.

Dodik juga menyoroti data penurunan tutupan hutan di Sumatera bagian utara. Ia menjelaskan bahwa kehilangan tutupan hutan bukan hanya deforestasi, tetapi juga degradasi. Namun di Indonesia, ketika tutupan hutan turun di bawah 30 persen, barulah disebut deforestasi. Penurunan ini, katanya, akan berpengaruh besar pada kemampuan lingkungan menahan air dan mencegah bencana.

Pada akhirnya, Dodik menutup analisanya dengan pesan yang cukup tegas: hutan harus dimanfaatkan, tapi jangan sampai dirusak. Ia mengingatkan bahwa masyarakat tetap bisa mendapatkan manfaat dari hutan asalkan prinsip keberlanjutan dijaga.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE