Belajar dari Tokyo, Ini PR Besar Jakarta Jika Ingin Raih Predikat Kota Global Sejati

Kontras Status Kota Global dan Realita Benang Kusut Problematika Jakarta

Belajar dari Tokyo, Ini PR Besar Jakarta Jika Ingin Raih Predikat Kota Global Sejati
Transportasi umum kota Jakarta. - (Dok. Pinterest).

JAKARTA, GENVOICE.ID -Ambisi Jakarta untuk bertransformasi menjadi kota global kian gencar disuarakan seiring dengan berbagai apresiasi di kancah internasional.

Namun, status mentereng tersebut dirasa masih kontras dengan realitas harian yang dihadapi masyarakat urban. Jakarta masih dibayangi oleh krisis laten seperti kemacetan parah, polusi udara yang mencekik, ancaman banjir, hingga minimnya fasilitas dasar.

Untuk benar-benar sejajar dengan metropolitan dunia seperti Tokyo, di mana 80 persen warganya mengandalkan angkutan umum, Jakarta harus menyelesaikan benang kusut integrasi transportasi Jabodetabek dan menekan dominasi belasan juta kendaraan pribadi di jalanan.

7 Fakta dan Tantangan Krusial Jakarta Menuju Kota Global

Untuk melihat sejauh mana kesiapan Jakarta dalam menyamai standar kota global, berikut adalah tujuh persoalan mendasar di lapangan yang masih menjadi sorotan publik:

1. Waktu Produktif Habis di Jalan

Kemacetan akut membuat sebagian besar pekerja di Jakarta dan kota penyangga (Bodetabek) harus menghabiskan waktu hingga tiga jam setiap hari hanya untuk komuter pergi-pulang kerja. Fenomena ini tidak hanya menurunkan produktivitas ekonomi, tetapi juga menggerus kualitas hidup dan waktu istirahat warga.

2. Kepadatan Jalan yang Belum Terurai

Meskipun berbagai proyek infrastruktur masif terus dikejar, volume kendaraan bermotor bertumbuh jauh lebih cepat dibanding kapasitas jalan. Pola pergerakan masyarakat urban dinilai belum bergeser secara signifikan dari kendaraan pribadi ke moda transportasi massal.

3. Terjebak dalam Krisis Polusi Udara Global

Berdasarkan data terbaru Air Quality Index (AQI), Indonesia menempati peringkat kelima dalam daftar negara dengan polusi udara terburuk sedunia. Jakarta pun kerap kali mencatatkan kualitas udara kategori buruk (tidak sehat) yang mengancam kesehatan pernapasan dan jantung warga dalam jangka panjang.

4. Konektivitas Angkutan Umum Belum Menjangkau Sub-Urban

Ekspansi moda modern seperti MRT, LRT, KRL Commuter Line, dan Transjakarta terus berjalan. Sayangnya, sistem jaringan ini dinilai belum sepenuhnya terintegrasi secara makro hingga ke pelosok Jabodetabek. Akibatnya, jutaan warga urban terpaksa tetap menggunakan kendaraan pribadi demi alasan praktis.

5. Ancaman Banjir dan Genangan Musiman

Masalah klasik banjir belum sepenuhnya tuntas. Ketika intensitas hujan meninggi, sistem drainase makro, alih fungsi lahan yang masif, serta keterbatasan daya tampung air membuat sejumlah kawasan strategis di ibu kota masih terendam genangan yang melumpuhkan aktivitas kota.

6. Ketimpangan Akses Air Bersih Perpipaan

Aspek sanitasi dasar masih timpang. Distribusi air minum perpipaan yang dikelola oleh PAM JAYA baru menyentuh 65 persen dari target total. Artinya, masih ada sekitar 35 persen warga Jakarta yang kesulitan mengakses air bersih perpipaan dan terpaksa bergantung pada sumur bor atau air tanah dangkal.

7. Dominasi Belasan Juta Kendaraan Pribadi

Lalu lintas Jakarta saat ini dikepung oleh lebih dari 12 juta kendaraan bermotor, yang didominasi oleh sekitar 9,1 juta sepeda motor dan 520 ribu unit truk. Sementara itu, tingkat keterisian angkutan umum hanya mencatat sekitar 39 juta perjalanan per bulan (atau rata-rata 1,3 juta perjalanan per hari), angka yang sangat timpang jika dibandingkan dengan total 22,4 juta pergerakan mobilitas harian di Jakarta.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang Tergerus

Selain ketujuh masalah di atas, ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta masih jauh dari ideal. Laju pembangunan gedung pencakar langit dan proyek semenisasi infrastruktur kerap kali mengorbankan kawasan resapan hijau. Meskipun Pemprov DKI aktif melakukan revitalisasi taman-taman kota, kuantitas RTH dinilai masih memerlukan perluasan yang signifikan guna membantu mereduksi polusi dan banjir.

Belajar dari Manajemen Transportasi Massal Tokyo

Jakarta perlu berkaca pada kawasan metropolitan Tokyo, Jepang. Sebagai salah satu megapolitan terbesar di dunia dengan populasi mencapai 37 juta jiwa, Tokyo berhasil menciptakan sistem mobilitas yang luar biasa efisien.

  • Integrasi Total: Jaringan kereta bawah tanah (subway), kereta komuter, dan bus terkoneksi tanpa celah hingga ke wilayah satelit.

  • Ketergantungan Rendah pada Mobil Pribadi: Sebanyak 80 persen warga Tokyo memilih menggunakan transportasi publik untuk mobilitas harian. Hal ini membuktikan bahwa populasi yang padat bukan alasan logis bagi kemacetan kronis, asalkan didukung oleh transportasi massal yang andal, tepat waktu, nyaman, dan mudah diakses.

Transformasi Jakarta menuju kota global tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan estetika kota ataupun deretan piagam penghargaan internasional.

Indikator kesuksesan sejati sebuah kota metropolitan adalah kesejahteraan dan kenyamanan warganya secara merata. Menyamai sistem transportasi Tokyo memang membutuhkan waktu dan komitmen politik yang besar, namun langkah tersebut mutlak dilakukan.

Dengan mempercepat integrasi moda transportasi Jabodetabek, menekan emisi gas buang, serta memprioritaskan pemenuhan layanan dasar seperti air bersih dan penanganan banjir, Jakarta baru bisa benar-benar berdiri tegak sebagai kota global yang humanis dan berkelanjutan.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE