Kasus Jessica Mahasiswi Undana yang Viral, Dosen Penguji Akhirnya Ungkap Alasan Minta Ganti Penguji

Pihak dosen penguji melalui kuasa hukum menjelaskan alasan pergantian penguji menjelang sidang skripsi Jessica Sofia Tunardjo.

Kasus Jessica Mahasiswi Undana yang Viral, Dosen Penguji Akhirnya Ungkap Alasan Minta Ganti Penguji
Dosen penguji Jessica Sofia Tunardjo memberikan klarifikasi terkait permintaan pergantian penguji sebelum sidang skripsi. Sementara itu, Undana memastikan hak akademik Jessica tetap terlindungi. - (Dok. Instagram).

JAKARTA, GENVOICE.ID- Kasus mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jessica Sofia Tunardjo, yang diduga mengalami tekanan psikologis usai polemik sidang skripsi akhirnya mendapat tanggapan dari pihak dosen penguji. Melalui kuasa hukumnya, dosen penguji Jessica memberikan klarifikasi terkait alasan permintaan pergantian penguji menjelang pelaksanaan ujian skripsi.

Sebelumnya, nama Jessica ramai diperbincangkan setelah sebuah video yang memperlihatkan dirinya dalam kondisi tertekan beredar di media sosial. Mahasiswi Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana itu disebut mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental setelah proses sidang skripsinya beberapa kali mengalami penundaan.

Saat ini, Jessica masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Wirasakti Kupang. Kasus tersebut juga mendapat perhatian dari pihak kampus hingga Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI.

Dosen Penguji Jelaskan Alasan Meminta Pergantian Penguji

Melalui kuasa hukumnya, Rudy Tonubesi, pihak dosen penguji meminta Undana segera menyelesaikan proses klarifikasi agar informasi yang berkembang di masyarakat tidak menimbulkan kesalahpahaman. Ia menilai perlu ada penjelasan berdasarkan fakta agar seluruh pihak mendapatkan perlakuan yang adil.

Menurut Rudy, komunikasi antara kliennya dengan pihak terkait hanya terjadi satu kali dalam waktu yang cukup singkat. Ia menyebut dosen penguji belum menerima dokumen hasil penulisan Jessica hingga batas waktu yang disebutkan.

"Pada tanggal 28, beliau belum pernah membaca sama sekali hasil penulisan mahasiswa yang harus diuji," ujar Rudy dalam keterangannya.

Karena belum mengetahui isi karya ilmiah yang akan diuji, dosen tersebut merasa belum memiliki cukup informasi untuk menjalankan tugas sebagai penguji. Atas kondisi tersebut, ia kemudian menyampaikan opsi pergantian penguji apabila ujian tetap dilaksanakan sesuai jadwal.

Soroti Proses Penunjukan Dosen Penguji Skripsi

Selain menjelaskan alasan pergantian penguji, Rudy juga menyoroti mekanisme akademik dalam proses penunjukan dosen penguji. Menurutnya, komunikasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing seharusnya menjadi tahap awal sebelum melibatkan dosen penguji.

Ia menjelaskan bahwa setelah mahasiswa dan pembimbing menyepakati kesiapan skripsi, barulah dosen penguji dihubungi untuk meminta kesediaan melakukan pengujian. Menurutnya, posisi dosen penguji bukan menerima perintah, melainkan dimintai kesediaan untuk menjalankan tugas akademik.

Pihak kuasa hukum berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan oleh pihak universitas sehingga tidak ada pihak yang dirugikan akibat informasi yang belum sepenuhnya terverifikasi.

Rektor Undana Pastikan Jessica Tetap Mendapat Hak Akademik

Di tengah polemik yang terjadi, Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale bersama jajaran kampus telah mengunjungi Jessica di rumah sakit. Dalam kesempatan tersebut, pihak universitas memberikan dukungan agar Jessica dapat fokus menjalani pemulihan kondisi kesehatan.

Rektor Undana juga mengungkapkan bahwa Mendiktisaintek Brian Yuliarto telah berkomunikasi langsung dengan Jessica melalui panggilan video. Dalam komunikasi tersebut, pemerintah menyampaikan dukungan agar Jessica dapat menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh gelar sarjana.

Pihak kampus menegaskan bahwa hak akademik Jessica tetap akan dipenuhi setelah kondisi kesehatannya membaik. Universitas juga berkomitmen mengawal proses penyelesaian skripsi agar berjalan sesuai prosedur.

Undana Lakukan Investigasi dan Evaluasi Sistem Akademik

Sementara itu, pihak Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana masih melakukan pendalaman terkait kejadian tersebut. Dekan FKM Undana Prof. Apris A. Adu menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dosen pembimbing dan dosen penguji.

Namun, proses klarifikasi belum sepenuhnya selesai karena salah satu dosen penguji disebut sedang mengalami kondisi berduka akibat kehilangan anggota keluarga. Fakultas memberikan waktu agar proses klarifikasi dapat dilakukan dengan lebih baik.

Selain melakukan investigasi, pihak kampus juga memberikan pendampingan kepada Jessica. FKM Undana menyatakan siap memberikan dukungan psikologis agar Jessica dapat kembali menjalani aktivitas akademik setelah pulih.

Undana Tegaskan Tidak Toleransi Pelanggaran Etika di Kampus

Wakil Rektor IV Undana, Prof. Philiphi de Rozari, menegaskan bahwa kampus masih melakukan investigasi untuk mengetahui fakta sebenarnya dari peristiwa tersebut. Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum proses pemeriksaan selesai.

Undana juga menegaskan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran maupun kekerasan di lingkungan akademik. Hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Kasus Jessica menjadi perhatian karena berkaitan dengan proses akademik mahasiswa tingkat akhir. Pihak kampus berharap seluruh pihak dapat menunggu hasil pemeriksaan resmi sembari memberikan dukungan terhadap proses pemulihan Jessica.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE