Kenapa Belanda Kalah dengan Maroko? Ternyata Ini Alasannya!

Kenapa Belanda Kalah dengan Maroko? Ternyata Ini Alasannya!
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kekalahan Belanda dari Maroko di Piala Dunia 2026 memang terlihat sederhana di atas kertas dengan skor 1-1 lalu kalah adu penalti.

Tapi, kalau ditarik lebih dalam, ceritanya jauh lebih kompleks dari sekadar "kurang beruntung". Itu karena Belanda sempat unggul lebih dulu lewat gol Cody Gakpo.

Namun, kemenangan yang sudah di depan mata buyar setelah Maroko menyamakan kedudukan di menit akhir lewat sundulan Issa Diop. Laga pun berlanjut ke extra time dan akhirnya ditentukan lewat adu penalti, di mana Maroko menang 3-2.

1. Taktik Koeman Jadi Sorotan Utama

Salah satu faktor terbesar kekalahan Belanda adalah keputusan taktik pelatih Ronald Koeman.

Di tengah pertandingan, Koeman mengubah pendekatan tim menjadi lebih defensif. Alih-alih mempertahankan dominasi, Belanda justru terlihat kehilangan arah permainan. Banyak pengamat bahkan menyebut perubahan ini sebagai titik balik kekalahan.

Akibatnya, Belanda yang sebelumnya mengontrol permainan malah memberi ruang bagi Maroko untuk bangkit, terutama di menit-menit akhir.

2. Lini Belakang yang Rapuh Sejak Awal

https://images.openai.com/static-rsc-4/lwwGxUjjqbjNWQUdv5ag6upeSvgwtuhBmtAjyfXN5yYAiBlGlZx3y9fkmcoa16vxvD0vewm_XjfCYszxrXAAQWj0IqY1u_Ty0g7CcTr0Ra37SNvQ7Bea9Qcp3Mmv4z6-TGZC7_vs_2Y_8xvolgCiv3_-HIOUUc5fibUzu9RK4wGnv1H_zeet41m5K5QZl-l4?purpose=fullsize

Meski tampil tajam di fase grup, pertahanan Belanda sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal turnamen.

Mereka kebobolan cukup banyak untuk ukuran tim besar, bahkan tidak pernah mencatat clean sheet di fase grup. Pola ini akhirnya benar-benar dimanfaatkan Maroko.

Maroko sendiri punya gaya bermain yang sangat cocok untuk menghukum kelemahan ini: bertahan disiplin lalu menyerang cepat lewat counter attack.

3. Mental dan Eksekusi Penalti Jadi Masalah Klasik

Saat laga harus ditentukan lewat penalti, masalah lama Belanda kembali muncul.

Beberapa eksekutor gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Ada yang meleset, ada yang terlalu mudah dibaca kiper. Bahkan legenda Belanda sendiri mengkritik gaya penalti para pemain yang dianggap kurang matang.

Di sisi lain, kiper Maroko, Yassine Bounou, tampil luar biasa dan menjadi penentu kemenangan dengan penyelamatan krusial.

4. Maroko Memang Bukan Tim Sembarangan

https://images.openai.com/static-rsc-4/vMgubUjnSc6-sN80CmIffoUAWRnzZr0U1NZtLuDt4bVk4yYKW4d-iQmtz0NhIemid5dBaqF-d7jKhbG5vVMk2rjOOGvanXjVdjCkTEwKw0SBkj72ranMNblxcEnnZeWAzTnc7KPT8sWbgJyK7VsaAz-SUxUVy2imjWiYe31d6eqw4d66VicY8hcHFmNusFl_?purpose=fullsize

Perlu diakui, ini bukan sekadar Belanda yang bermain buruk. Maroko memang tampil sangat solid.

Mereka datang ke turnamen dengan status tim kuat, bahkan sebelumnya sudah menunjukkan kualitas dengan menahan Brasil dan tampil konsisten di fase grup.

Kombinasi disiplin, kecepatan, dan mental kuat membuat mereka mampu bertahan hingga akhir lalu menghukum kesalahan lawan.

5. Kutukan Lama Belanda di Piala Dunia

Ada satu fakta menarik sekaligus menyakitkan bagi Belanda.

Mereka kembali tersingkir lewat adu penalti, dan ini bukan pertama kalinya. Bahkan, dalam beberapa edisi terakhir, Belanda berulang kali gagal di fase gugur tanpa kalah di waktu normal.

Artinya, masalah mereka bukan hanya teknis, tapi juga mental di momen krusial.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE