Tragis! Wanita 31 Tahun Meninggal Usai Kurangi Dosis Obat, Sempat Konsultasi dengan ChatGPT
JAKARTA, GENVOICE.ID - Seorang wanita berusia 31 tahun bernama Bowen Wan meninggal dunia di Seattle, Amerika Serikat, pada Februari 2026 akibat komplikasi epilepsi. Sebelum meninggal, perempuan asal China tersebut diketahui sempat berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai cara mengurangi dosis obat yang selama ini dikonsumsinya.
Kasus ini menjadi perhatian setelah keluarga Bowen menemukan riwayat percakapan putrinya dengan chatbot tersebut. Mereka menduga respons ChatGPT turut mendorong Bowen mengurangi dosis obat tanpa pengawasan tenaga medis.
Menurut cerita ayahnya, Qun Wan, Bowen sempat mengalami kejang ketika sedang berbicara melalui telepon. Saat itu, ia tiba-tiba berhenti berbicara sehingga sang ayah menduga putrinya mengalami serangan epilepsi yang berlangsung lebih lama dari biasanya.
Setelah tersadar, Bowen mengatakan akan menceritakan kondisinya lebih lanjut setelah beristirahat. Namun, beberapa hari kemudian, ia tidak lagi menjawab panggilan telepon dari keluarganya yang tinggal di China.
Orang tuanya kemudian meminta bantuan seseorang untuk memeriksa keadaan Bowen di apartemennya. Melalui panggilan video, Qun Wan dan istrinya menyaksikan saat teman putrinya menemukan perempuan tersebut telah meninggal dunia.
Penyebab resmi kematian Bowen disebut sebagai komplikasi epilepsi. Padahal, menurut keluarga, kondisi tersebut telah berhasil dikendalikan selama lebih dari 10 tahun.
Awal Mula Bowen Menggunakan ChatGPT
Pada 2023, Bowen mulai menggunakan ChatGPT untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Ia awalnya memanfaatkan chatbot tersebut untuk meminta saran mengenai hubungan asmara serta membantu memahami persoalan asuransi dan tunjangan disabilitas.
Namun, intensitas penggunaan ChatGPT disebut meningkat drastis pada 2025. Berdasarkan keterangan keluarga, Bowen rata-rata mengirimkan sekitar 1.500 pesan setiap minggu kepada chatbot tersebut.
Pada periode yang sama, Bowen juga semakin jarang berkomunikasi dengan kedua orang tuanya. Keluarga kemudian menemukan bahwa putrinya kerap membicarakan persoalan kesehatan dan penggunaan obat melalui percakapan dengan ChatGPT.
Qun Wan mengatakan putrinya pernah mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Keputusan tersebut diduga berkaitan dengan efek samping obat atau anggapan bahwa pengobatan yang dijalani tidak memberikan hasil sesuai harapan.
ChatGPT Diduga Memberi Saran Pengurangan Dosis Obat
Dalam riwayat percakapannya, Bowen diketahui pernah meminta saran mengenai kemungkinan mengubah dosis obat antidepresan. Ia bahkan menyusun pesan untuk disampaikan kepada dokter guna meminta perubahan dosis pengobatan.
Namun, menurut gugatan yang diajukan keluarganya, chatbot tersebut justru diduga mendorong Bowen mengurangi dosis obat sendiri tanpa memberi tahu dokter. Keluarga juga menyebut respons chatbot beberapa kali memuji keputusan Bowen yang tidak melibatkan tenaga medis.
Pada Januari 2026, Bowen kembali membicarakan rencana pengurangan dosis obat epilepsi. Ia ingin menurunkan konsumsi obat dari 400 miligram menjadi 300 miligram per hari, kemudian menjadi 200 miligram.
ChatGPT awalnya menyarankan Bowen untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah dosis obat. Akan tetapi, berdasarkan isi gugatan, chatbot tersebut kemudian justru memberikan respons yang dinilai mendukung keputusan Bowen untuk mengurangi dosis secara mandiri.
Dokter epilepsi Bowen, Nicholas Poolos, mengatakan dirinya tidak akan merekomendasikan pengurangan dosis obat untuk pasien dengan kondisi seperti yang dialami Bowen. Menurutnya, menghentikan pengobatan yang terbukti efektif tanpa pertimbangan medis bukanlah tindakan yang dapat disarankan.
"Itu akan menjadi malapraktik jika saya menyuruh Anda berhenti minum obat padahal jelas-jelas obat itu efektif," katanya.
Qun Wan kemudian menemukan bahwa ChatGPT diduga telah menyusun rencana pengurangan dosis obat Bowen dari 400 miligram hingga nol dalam hitungan minggu. Rencana tersebut menjadi salah satu bagian yang dipersoalkan keluarga dalam gugatan terhadap OpenAI.
Bowen Sempat Mengalami Kebingungan Sebelum Meninggal
Seiring dengan penurunan dosis obat, Bowen dilaporkan mulai mengalami sejumlah gejala yang mengkhawatirkan. Ia disebut mengalami kebingungan hingga tidak mengingat bagaimana dirinya bisa sampai ke tempat tidur.
Dalam percakapan dengan ChatGPT, Bowen disebut telah mengungkapkan kekhawatirannya sebanyak 158 kali. Namun, berdasarkan dokumen gugatan, chatbot tersebut justru menggambarkan kondisi yang dialaminya sebagai tanda bahwa otaknya sedang berada dalam low-power mode atau mode hemat energi.
"Kamu sama sekali tidak perlu khawatir," demikian respons chatbot yang tercantum dalam riwayat percakapan tersebut.
Keluarga menilai respons itu membuat Bowen tidak mendapatkan dorongan yang memadai untuk segera mencari pertolongan medis. Mereka juga mempertanyakan mengapa chatbot diduga tetap memberikan dukungan terhadap pengurangan dosis meskipun Bowen berkali-kali menyampaikan keluhan.
Keluarga Gugat OpenAI dan Sam Altman
Pada Selasa (27/10/2026), keluarga Bowen mengajukan gugatan kematian akibat kelalaian atau wrongful deathterhadap OpenAI, perusahaan pembuat ChatGPT, serta CEO-nya, Sam Altman. Dalam gugatan tersebut, pihak keluarga menilai keputusan yang diambil putrinya berkaitan dengan respons chatbot selama percakapan berlangsung.
"Bowen Wan harus kehilangan nyawanya akibat keputusan yang diambil oleh [OpenAI]," tulis pengacara keluarga dalam dokumen gugatan tersebut.
Keluarga berharap gugatan itu dapat meminta pertanggungjawaban atas dugaan peran teknologi kecerdasan buatan dalam keputusan kesehatan yang berisiko. Meski demikian, tuduhan dalam gugatan tersebut masih merupakan klaim pihak keluarga dan belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan hukum.
Kasus Bowen menjadi pengingat bahwa informasi dari chatbot kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan arahan dokter. Terlebih untuk penyakit seperti epilepsi, perubahan dosis atau penghentian obat perlu dibicarakan dengan tenaga medis yang memahami kondisi pasien.
Pengguna obat resep sebaiknya tidak mengubah dosis, mengurangi frekuensi konsumsi, atau menghentikan pengobatan hanya berdasarkan saran dari chatbot maupun sumber informasi daring. Jika mengalami efek samping atau merasa pengobatan tidak bekerja dengan baik, langkah yang lebih aman adalah segera berkonsultasi dengan dokter.