Disorot soal Kabinet Gemuk, Prabowo Bandingkan Indonesia dengan Timor Leste

Genvoice.id | 31 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi kritik terhadap Kabinet Merah Putih yang dinilai terlalu gemuk dan tidak efisien. Dalam pidatonya di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026), Prabowo membandingkan jumlah anggota kabinet Indonesia dengan susunan pemerintahan Timor Leste.

Prabowo mengatakan Timor Leste memiliki 28 menteri meski jumlah penduduknya sekitar satu juta jiwa. Menurutnya, jumlah tersebut bahkan lebih kecil dibandingkan populasi sejumlah kabupaten di Indonesia.

"Timor Leste yang jumlah penduduknya hanya 1 juta, lebih kecil dari banyak provinsi di Indonesia, lebih kecil dari banyak kabupaten di Indonesia," ujar Prabowo saat menyampaikan pidato dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Prabowo kemudian menyebut Kabupaten Bogor sebagai salah satu daerah yang menurutnya memiliki jumlah penduduk lebih besar dibandingkan Timor Leste. Ia juga menyinggung Banyuwangi yang memiliki populasi sekitar 1,1 juta jiwa.

"Mungkin Kabupaten Bogor jauh lebih besar dari Timor Leste. Banyuwangi, berapa jumlah penduduk Banyuwangi? Mereka hanya 1,1 juta, kabinetnya 28. Kabinetnya Timor Leste 28," kata Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo membahas kritik yang muncul terhadap komposisi Kabinet Merah Putih. Ia menilai ukuran pemerintahan perlu dilihat dalam konteks besarnya tanggung jawab yang harus dijalankan oleh Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar.

Prabowo Sebut Indonesia Butuh Koalisi Besar

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki skala pemerintahan yang jauh berbeda dibandingkan negara-negara dengan populasi kecil. Ia menyebut jumlah penduduk Indonesia akan segera mencapai 300 juta jiwa dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia.

Menurut Prabowo, kondisi tersebut membuat pemerintahan membutuhkan dukungan politik yang luas. Ia menjelaskan bahwa koalisi diperlukan untuk menghimpun kekuatan politik agar pemerintahan dapat berjalan secara efektif.

"Kita besar sekali. Karena demokrasi, saya harus berkoalisi, berkoalisi itu untuk memimpin dan memerintah dan mengurus negara yang sebentar lagi 300 juta orang. Negara keempat terbesar di dunia," ujar Prabowo.

Ia juga menilai keterlibatan banyak partai dalam pemerintahan saat ini masih berada dalam batas yang efisien. Prabowo menyebut terdapat delapan partai yang berada dalam koalisi pemerintahan.

"Tidak mungkin negara sebesar ini dipimpin hanya satu partai. Kita ini sekarang delapan partai sudah luar biasa efisiennya," lanjutnya.

Prabowo Singgung Stabilitas Pemerintahan

Prabowo turut mengaitkan komposisi politik dengan stabilitas pemerintahan. Menurut dia, sistem pemerintahan membutuhkan kesinambungan agar program-program negara dapat berjalan tanpa terlalu sering terganggu oleh pergantian pemimpin.

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara maju yang mengalami pergantian kepala pemerintahan dalam waktu relatif singkat.

"Kita lihat di Jepang, walaupun hanya 2 partai besar, tapi dalam 5-6 tahun berapa kali ganti Perdana Menteri. Di Inggris dalam 5 tahun mungkin 7-8 kali Perdana Menteri," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, stabilitas dan ketenangan menjadi faktor penting dalam menjalankan pemerintahan, terutama bagi negara dengan wilayah dan jumlah penduduk sebesar Indonesia.

"Bagaimanapun pemerintahan membutuhkan stabilitas, ketenangan," ujarnya.

Sebagai informasi, Kabinet Merah Putih yang dibentuk Prabowo mulai menjalankan pemerintahan setelah pelantikan pada Oktober 2024. Saat itu, kabinet tersebut beranggotakan 109 menteri, wakil menteri, dan kepala badan.