Misteri Kematian Diplomat Muda Arya Daru Terkuak: Tak Ada Unsur Pidana, Ini Fakta Lengkapnya!

Genvoice.id | 31 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan alias ADP, akhirnya terjawab. Polda Metro Jaya resmi menyatakan bahwa pria berusia 39 tahun ini meninggal tanpa ada unsur pidana. Fakta-fakta hasil penyelidikan yang dirilis pada Selasa (29/7/2025) mengungkap banyak hal mengejutkan yang bikin publik penasaran.

Menurut Kombes Pol Wira Satya dari Ditreskrimum Polda Metro Jaya, hasil autopsi menyimpulkan Arya tewas karena gangguan oksigen alias mati lemas.

"Dari pemeriksaan toksikologi, tidak ditemukan zat yang dapat menyebabkan gangguan pertukaran oksigen. Tidak ditemukan penyakit apa pun. Maka sebab mati karena gangguan pertukaran oksigen pada saluran napas atas yang menyebabkan mati lemas," tegasnya.

Tim dokter forensik dari RSCM menyatakan, terdapat memar di wajah, leher, dan lengan Arya. Namun, itu diduga akibat Arya memanjat tembok rooftop lantai 12 gedung Kemlu. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau luka yang menunjukkan penganiayaan.

Dari hasil toksikologi, tubuh Arya ditemukan mengandung CTM dan parasetamol, kombinasi obat flu biasa. Tidak ada zat berbahaya lain. Puslabfor juga memastikan tak ditemukan jejak biologis orang lain di kamar kos Arya, termasuk darah, sperma, atau DNA asing.

Yang bikin makin pilu, ternyata Arya pernah mengirim email ke badan amal soal keinginan bunuh diri. Riwayat burnout dan tekanan mental berat pun muncul. Ia sempat konsultasi layanan kesehatan mental secara daring di tahun 2013 dan 2021. Tekanan dari pekerjaan sebagai diplomat perlindungan WNI disebut menjadi salah satu pemicu mental breakdown-nya.

Polisi juga merinci gerak-gerik terakhir Arya, mulai dari ke kantor, belanja di GI (Grand Indonesia), hingga naik ke rooftop dan pulang ke kos. CCTV jadi bukti kuat bahwa Arya bergerak sendirian tanpa ada hal yang mencurigakan.

Barang bukti seperti tas, belanjaan, kondom, dan pelumas ditemukan di kamar serta rooftop. Namun polisi belum bisa menyimpulkan motivasi Arya mengakhiri hidup.

Pihak kepolisian juga masih menyatakan bahwa kasus ini belum ditutup sepenuhnya. "Sementara, kami tetap akan menerima masukan apabila ada informasi, kami tetap tampung. Sementara belum (di SP3)," jelas Wira.

Lebih lanjut lagi, keluarga besar Arya menyampaikan harapan agar penyelidikan terus dilakukan secara profesional dan terbuka. Mereka juga mengajak masyarakat untuk mengawal prosesnya dengan empati tanpa perlu menghakimi.

Kematian Arya Daru menjadi pengingat betapa pentingnya kesehatan mental, bahkan bagi orang sekuat diplomat sekalipun. Polisi menyimpulkan tak ada tanda pidana, namun keluarga berharap penyelidikan tetap dilanjutkan secara mendalam.

Bagi siapa pun yang mengalami tekanan hidup, ingat, kamu tidak sendiri. Segera cari bantuan profesional, karena hidupmu sangatlah berharga.