Kru Film 'No Other Land' Tewas Ditembak di West Bank, Sutradara Israel Ungkap Bukti di Media Sosial
JAKARTA, GENVOICE.ID - Awdah Hathaleen, aktivis Palestina yang tampil dalam film dokumenter pemenang Oscar No Other Land, dilaporkan tewas ditembak dalam insiden kekerasan yang terjadi di Tepi Barat pada 28 Juli 2025.
Kabar duka ini disampaikan oleh Yuval Abraham, salah satu sutradara film tersebut asal Israel, melalui akun X (dulu Twitter). Dalam unggahannya, Abraham menuding pemukim Israel bernama Yinon Levi sebagai pelaku penembakan terhadap Hathaleen-yang juga dikenal dengan nama Odeh Hadalin-di wilayah komunitas Masafer Yatta, tempat film tersebut direkam.
"Seorang pemukim Israel baru saja menembak Odah Hadalin di bagian paru-paru. Ia adalah aktivis luar biasa yang membantu kami membuat No Other Land. Warga mengidentifikasi Levi sebagai pelaku. Ini videonya, menembak secara membabi buta," tulis Abraham sambil menyertakan rekaman yang menunjukkan seorang pria bersenjata dalam konfrontasi dengan warga Palestina.
Sutradara lainnya, Basel Adra, yang juga berasal dari Palestina, menegaskan bahwa dalam video tersebut terlihat momen saat Levi menembakkan peluru yang merenggut nyawa Hathaleen. "Hari ini, pengadilan apartheid memutuskan membebaskan Levi dengan tahanan rumah. Ia telah dikenai sanksi oleh sembilan negara-sekarang tinggal delapan karena Trump mencabutnya," tulis Adra.
The Hollywood Reporter mengonfirmasi bahwa insiden penembakan terjadi pada tanggal 28 Juli. Levi sempat ditahan namun kini menjalani tahanan rumah. Ia sebelumnya telah dikenai sanksi finansial dan larangan perjalanan oleh Uni Eropa sejak April 2024 atas dugaan pelanggaran HAM berat. Pemerintahan Biden juga sempat menjatuhkan sanksi padanya pada awal 2024, namun dicabut oleh pemerintahan Trump pada Januari 2025.
Film No Other Land sendiri merupakan karya kolaboratif antara pembuat film Palestina dan Israel, yang mendokumentasikan penghancuran wilayah Masafer Yatta di Tepi Barat oleh militer Israel. Film ini mendapat sambutan hangat saat tayang perdana di Festival Film Berlin, terutama karena menyoroti hubungan personal antara para sutradaranya di tengah konflik yang terus membara.
Tragisnya, insiden ini bukan yang pertama menimpa tim produksi film tersebut. Pada Maret lalu, salah satu sutradara lainnya, Hamdan Ballal, dilaporkan mengalami luka dan ditahan dalam sebuah bentrokan di Tepi Barat.
Kematian Awdah Hathaleen semakin mempertegas ketegangan yang terus meningkat di wilayah pendudukan, serta risiko nyata yang dihadapi oleh para aktivis dan dokumenteris yang berani bersuara melalui karya mereka.