Trump Siap Hentikan Operasi ke Iran, Selat Hormuz Masih Jadi Taruhan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran meski situasi di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.
Laporan yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, Trump bersama para penasihatnya menilai upaya membuka jalur pelayaran strategis tersebut secara penuh berisiko memperpanjang konflik di luar rencana awal.
Operasi militer yang semula diperkirakan berlangsung selama empat hingga enam pekan kini mulai dievaluasi ulang. Washington disebut memilih untuk mengalihkan fokus pada tujuan yang lebih terbatas, yakni menekan kemampuan militer Iran, khususnya kekuatan angkatan laut dan persenjataan rudalnya.
Selain itu, pemerintah AS juga berupaya meredakan ketegangan yang terus meningkat sambil mendorong Teheran agar kembali membuka arus perdagangan internasional di kawasan tersebut.
Jika pendekatan ini tidak membuahkan hasil, Amerika Serikat dikabarkan akan mengajak sekutu-sekutunya, terutama negara-negara di Eropa dan kawasan Teluk Persia, untuk mengambil peran lebih besar dalam mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, opsi militer tambahan masih tetap berada di meja pertimbangan. Namun, langkah tersebut tidak menjadi prioritas utama dalam strategi yang sedang disusun saat ini.
Ketegangan antara AS dan Iran sendiri meningkat sejak akhir Februari lalu, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer milik AS di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik ini berdampak langsung pada aktivitas di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke berbagai belahan dunia. Gangguan di wilayah ini turut memengaruhi pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Situasi tersebut membuat langkah Washington dalam menentukan arah kebijakan berikutnya menjadi sorotan, mengingat dampaknya yang luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.