Bagaimana Nasib Italia Setelah Terkena Kutukan Piala Dunia?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Timnas Italia kembali berdiri di persimpangan krusial. Raksasa sepak bola dunia itu akan menghadapi Bosnia and Herzegovina national team dalam final play-off kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa yang digelar di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB.
Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Pemenang laga ini akan langsung mengamankan tiket ke putaran final di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun bagi Italia, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar kelolosan.
Setelah terakhir tampil di Piala Dunia FIFA 2014, La Nazionale kini berusaha mengakhiri penantian panjang selama 12 tahun. Sebuah periode yang terasa janggal bagi negara dengan sejarah empat gelar juara dunia.
Bayang-bayang kegagalan masa lalu masih menghantui. Italia tersingkir dari play-off menuju Piala Dunia FIFA 2018 usai kalah dari Swedia, lalu kembali terpukul ketika dikalahkan Makedonia Utara dalam perebutan tiket ke Piala Dunia FIFA 2022. Dua kegagalan beruntun itu meninggalkan luka mendalam, sekaligus tekanan besar bagi generasi pemain saat ini.
Kondisi tersebut menciptakan atmosfer tegang di sekitar tim. Banyak pihak menilai bahwa lawan terbesar Italia bukan hanya Bosnia, melainkan rasa takut akan kegagalan itu sendiri. Trauma dari dua play-off sebelumnya masih membekas dan bisa menjadi penghambat jika tidak dikelola dengan baik.
Di bawah arahan Gennaro Gattuso, Italia mencoba bangkit. Mereka melangkah ke final play-off setelah mengalahkan Irlandia Utara 2-0, lewat gol Sandro Tonali dan Moise Kean. Kemenangan itu menjaga harapan tetap hidup, meski perjalanan menuju titik ini tidak sepenuhnya mulus.
Italia sebenarnya tampil cukup konsisten di fase grup, tetapi dua kekalahan dari Norwegia memaksa mereka kembali melewati jalur play-off untuk ketiga kalinya secara beruntun. Kini, Gattuso menghadapi tantangan terbesar sejak mengambil alih tim nasional pada 2025. Ia bahkan menggambarkan laga ini sebagai "Everest" yang harus didaki timnya.
Namun, Bosnia bukan lawan yang bisa diremehkan. Tim tuan rumah datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Wales lewat drama adu penalti. Selain itu, atmosfer di Zenica dikenal panas dan intimidatif, yang bisa menjadi tekanan tambahan bagi tim tamu.
Dengan semua faktor tersebut, pertandingan ini menjadi lebih dari sekadar duel taktik. Ini adalah pertarungan mental, keberanian, dan harga diri. Italia membawa beban sejarah besar, sementara Bosnia memiliki ambisi untuk menciptakan cerita baru.
Segalanya dipertaruhkan di Zenica. Jika menang, Italia akhirnya bisa mengakhiri penantian panjang dan kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia. Namun jika kembali gagal, luka lama akan semakin dalam dan bayang-bayang krisis akan semakin sulit dihindari.