Catat Rekor, Arus Perdagangan Dunia 2025 Tumbuh 2 Kali Lipat Ketimbang 2024

Genvoice.id | 30 Dec 2025

KUALA LUMPUR/TAIPEI - Arus perdagangan dunia 2025 mencetak rekor lantaran untuk pertama kalinya akan melampaui 35 triliun dollar AS dengan pertumbuhan 7 persen, seperti dikutip dari The Straits Times, Senin (29/12).

Tentu ini sebuah kejutan karena capaian tersebut dua kali lipat laju pertumbuhan pada 2024 berdasarkan data dari UN Trade and Development (UNCTAD), Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempromosikan perdagangan di negara-negara berkembang.

Apalagi, ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan tarif "Hari Pembebasan" terhadap negara-negara lain di dunia pada April lalu, banyak pakar memprediksi suramnya masa depan perdagangan global.

Untuk perdagangan barang, yang menjadi sasaran utama pemerintah Trump alih-alih jasa-di mana AS justru menikmati surplus besar dengan sebagian besar mitra dagangnya-pertumbuhan diproyeksikan mencapai 6 persen, tiga kali lipat dibandingkan 2024.

Meski terlibat perang dagang dengan AS, Tiongkok melaporkan surplus perdagangan sebesar 1 triliun dollar AS dalam 11 bulan pertama 2025-menjadi negara pertama yang mencapai angka tersebut dalam satu tahun. Sementara itu, Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia menjadi pihak yang paling diuntungkan dari lonjakan permintaan semikonduktor yang didorong oleh ledakan kecerdasan buatan (AI).

Dalam kasus Tiongkok, pengirimannya ke AS pada periode Januari hingga November anjlok 18,9 persen dibandingkan 2024 akibat meningkatnya ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi tersebut. Namun, ekspor Tiongkok ke pasar lain lebih dari cukup untuk menutupi penurunan itu, dengan Uni Eropa membeli 8,2 persen lebih banyak barang dari Tiongkok, sementara penjualan ke Asean dan Afrika masing-masing melonjak 13,7 persen dan 26,3 persen.

Pertumbuhan ekspor Taiwan yang mencetak rekor, khususnya, mendorong pulau tersebut merevisi tajam proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2025 menjadi 7,37 persen-tertinggi dalam 15 tahun berkat permintaan AI yang sangat kuat.

"Kami menilai ledakan ekspor ini masih akan berlanjut… semua indikasi menunjukkan permintaan terhadap barang-barang terkait AI akan tetap kuat dalam satu tahun ke depan," ujar Jason Tuvey, wakil kepala ekonom pasar negara berkembang dari Capital Economics yang berbasis di London.

Korea Selatan juga diperkirakan akan melampaui 700 miliar dollar AS nilai ekspor tahunan untuk pertama kalinya, terutama berkat kuatnya sektor semikonduktor.

Produk Teknologi

Meski demikian, masih ada keraguan apakah permintaan di luar sektor teknologi akan tetap bertahan pada 2026, mengingat proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global dari lembaga-lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Data UNCTAD menunjukkan momentum yang melambat pada kuartal keempat, dengan laju pertumbuhan kurang dari setengah capaian kuartal ketiga yang mencatat pertumbuhan 2,5 persen secara kuartalan.

Lembaga tersebut menilai bahwa praktik front-loading, terutama pada produk-produk terkait teknologi-akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan AS yang mendorong sebagian besar lonjakan perdagangan pada awal 2025.

"Pada 2026, pertumbuhan perdagangan global diperkirakan akan lebih moderat karena perlambatan ekonomi dunia, fragmentasi geopolitik, ketidakpastian kebijakan yang berlanjut, serta meningkatnya kerentanan yang menekan aktivitas perdagangan. Selain itu, kenaikan biaya perdagangan turut membentuk prospek yang penuh kehati-hatian," ujar UNCTAD dalam pembaruan laporan Desembernya. SB/ST/and