Trump Perintahkan Pentagon Lakukan Uji Nuklir, Tantang Rusia dan China di Tengah Ketegangan Global
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan internasional setelah memerintahkan Pentagon untuk segera memulai kembali pengujian senjata nuklir, menegaskan bahwa langkah itu dilakukan untuk "menyamai" aktivitas serupa yang disebut dilakukan oleh Rusia dan China.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu (29/10), Trump menulis, "Karena program pengujian negara-negara lain, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji senjata nuklir kita secara setara. Proses itu akan dimulai segera." Pernyataan tersebut muncul hanya satu jam sebelum pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan, yang bertujuan untuk membahas potensi gencatan dagang antara kedua negara.
Jika benar dilakukan, ini akan menjadi uji coba nuklir pertama AS sejak 1992, saat pengujian terakhir bernama "Divider" dilakukan di Nevada. Sejak saat itu, Amerika hanya menggelar simulasi dan eksperimen non-ledakan untuk memastikan kesiapan arsenal nuklirnya, sementara Rusia dan China juga tidak tercatat melakukan uji coba nuklir penuh sejak era yang sama.
Langkah Trump muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan keberhasilan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik-yang diklaim mampu membawa hulu ledak nuklir dan menjadi bagian dari upaya mempertahankan keamanan nasional Rusia. Tidak lama kemudian, Putin juga menyebut negaranya berhasil menguji torpedo nuklir Poseidon, senjata bawah laut super yang diyakini mampu memicu tsunami radioaktif besar.
Trump menanggapi pengumuman Putin dengan menyebut tindakan tersebut "tidak pantas," namun tidak menghalanginya untuk mengambil langkah serupa. Ia bahkan menegaskan secara keliru bahwa Amerika memiliki jumlah senjata nuklir terbanyak di dunia. Berdasarkan data International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN), Rusia memiliki sekitar 5.580 hulu ledak nuklir, sedangkan AS memiliki 5.044.
Keputusan Trump langsung menuai kritik keras di dalam negeri. Anggota Kongres dari Nevada, Dina Titus, menolak keras rencana tersebut dan menulis di platform X (Twitter), "Sama sekali tidak. Saya akan segera mengajukan rancangan undang-undang untuk menghentikan ini."
Meski Trump mengklaim langkahnya bertujuan menjaga keseimbangan kekuatan global, banyak pihak menilai keputusan itu justru berpotensi memicu babak baru perlombaan senjata nuklir. Sementara itu, hubungan diplomatik AS dengan Rusia dan China sudah memburuk akibat perang di Ukraina dan persaingan ekonomi global, membuat keputusan ini berisiko memperburuk situasi internasional yang sudah tegang.
Trump sebelumnya juga dikenal mendorong kebijakan militer agresif. Pada 2016, ia pernah menulis di media sosial bahwa "Amerika Serikat harus memperkuat dan memperluas kemampuan nuklirnya sampai dunia sadar akan bahaya senjata nuklir." Kini, dengan instruksinya yang baru, dunia tampaknya kembali dihadapkan pada bayangan era Perang Dingin yang belum benar-benar berakhir.