8 Film Dokumenter tentang Tragedi 1965 dari Berbagai Sudut Pandang

Genvoice.id | 30 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setiap 30 September, pembahasan mengenai peristiwa 1965 kembali muncul di ruang publik. Selama bertahun-tahun, film "Pengkhianatan G30S/PKI" menjadi salah satu tayangan yang paling dikenal ketika membicarakan periode tersebut.

Namun, kisah 1965 juga pernah direkam melalui berbagai sudut pandang lain. Sejumlah film dokumenter menghadirkan cerita para penyintas, eksil politik, keluarga korban, mantan tahanan politik, hingga orang-orang yang mengaku terlibat dalam kekerasan setelah 1965.

Film-film tersebut tidak hanya membahas peristiwa politiknya, tetapi juga memperlihatkan dampak panjang yang dirasakan orang-orang yang hidup setelah periode tersebut.

Berikut delapan film dokumenter yang dapat menjadi pilihan untuk melihat sejarah 1965 dari perspektif yang beragam.

1. "Eksil"

"Eksil" merupakan film dokumenter karya Lola Amaria yang dirilis pada 2022. Film ini mengikuti kisah mahasiswa dan intelektual Indonesia yang berada di luar negeri ketika terjadi pergolakan politik pada 1965 dan kemudian tidak dapat kembali ke Tanah Air.

Kisah para eksil memperlihatkan dampak politik 1965 dari sisi orang-orang yang kehilangan kesempatan untuk pulang dan menjalani kehidupan sebagai warga negara Indonesia di luar negeri.

Film ini memadukan wawancara dengan para eksil, arsip sejarah, serta rekonstruksi animasi. "Eksil" juga meraih penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2023.

2. "You and I"

Film dokumenter "You and I" karya Fanny Chotimah menghadirkan cerita personal dari dua perempuan, Kaminah dan Kusdalini.

Keduanya bertemu ketika menjadi tahanan politik dan kemudian mempertahankan persahabatan selama lebih dari 50 tahun. Film yang dirilis pada 2020 ini tidak berfokus pada kronologi politik 1965, melainkan kehidupan keduanya ketika telah berusia lanjut.

Persahabatan, kesepian, ingatan terhadap masa lalu, serta stigma sebagai mantan tahanan politik menjadi bagian dari cerita yang dihadirkan dalam film.

"You and I" meraih penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2020.

3. "Shadow Play: Indonesia's Years of Living Dangerously"

"Shadow Play: Indonesia's Years of Living Dangerously" merupakan dokumenter karya Chris Hilton yang membahas situasi politik Indonesia pada 1965 dan perubahan kekuasaan yang terjadi setelahnya.

Film ini menggunakan sejumlah dokumen serta wawancara dengan berbagai tokoh untuk merekonstruksi situasi politik pada masa tersebut. Pembahasannya juga ditempatkan dalam konteks Perang Dingin, termasuk hubungan dengan kekuatan Barat dan kampanye antikomunis setelah 1965.

Dokumenter ini dapat menjadi pilihan bagi penonton yang ingin melihat peristiwa 1965 dalam konteks politik internasional yang lebih luas.

4. "Senyap" ("The Look of Silence")

Joshua Oppenheimer kembali membahas kekerasan 1965 melalui sudut pandang keluarga korban dalam "Senyap" atau "The Look of Silence".

Film ini mengikuti Adi Rukun, seorang optometris yang kakaknya, Ramli, menjadi korban pembunuhan dalam kekerasan 1965. Adi kemudian bertemu dengan sejumlah orang yang mengaku terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari film ketika Adi berusaha memahami apa yang terjadi kepada kakaknya sekaligus menghadapi orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

"Senyap" dapat dilihat bersama "Jagal" karena kedua film karya Oppenheimer tersebut menghadirkan perspektif yang berbeda mengenai kekerasan 1965.

5. "Jagal" ("The Act of Killing")

"Jagal" merupakan film dokumenter Joshua Oppenheimer yang dirilis pada 2012. Dokumenter ini menyoroti sejumlah orang yang mengaku terlibat dalam pembunuhan terhadap mereka yang dituduh terkait dengan PKI di Sumatra Utara.

Alih-alih menempatkan korban sebagai pusat cerita, film ini memberikan ruang kepada para pelaku untuk menceritakan kembali tindakan mereka.

Para pelaku bahkan diminta merekonstruksi kembali pembunuhan yang mereka ceritakan menggunakan gaya sinema pilihan masing-masing. Pendekatan tersebut membuat film ini memperlihatkan bagaimana para pelaku memandang kembali tindakan yang mereka lakukan puluhan tahun sebelumnya.

6. "Tanpa Pelurusan Sejarah, Kami Tetap Merasa Tidak Aman"

Dokumenter BBC ini melihat dampak peristiwa 1965 dari perspektif generasi setelahnya. Ceritanya tidak hanya membahas apa yang terjadi pada 1965, tetapi juga bagaimana stigma dan ketakutan dapat terus memengaruhi keluarga korban.

Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Tatiana Lukman, putri tokoh pimpinan PKI MH Lukman. Kisah keluarganya menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana latar belakang politik orang tua dapat berdampak terhadap kehidupan anak dan generasi berikutnya.

Dokumenter ini memperlihatkan bahwa dampak sebuah peristiwa sejarah dapat berlangsung jauh setelah orang-orang yang mengalaminya secara langsung tidak lagi berada di tengah peristiwa tersebut.

7. "Saya Membunuh Terlalu Banyak Orang"

Dokumenter BBC lainnya mempertemukan kesaksian dari dua sisi pengalaman yang berbeda. Salah satunya berasal dari penyintas yang selamat setelah dibuang ke jurang, sementara kesaksian lainnya datang dari seorang mantan anggota kelompok paramiliter yang mengaku terlibat dalam pembantaian orang-orang yang dituduh terkait dengan PKI.

Pertemuan kedua kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana satu periode sejarah dapat meninggalkan pengalaman yang sangat berbeda bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Dokumenter ini juga memberikan gambaran mengenai bagaimana kekerasan 1965 dikenang oleh orang yang menjadi korban maupun mereka yang mengaku pernah terlibat dalam kekerasan tersebut.

8. "Plantungan"

"Plantungan" karya Putu Oka Sukanta membawa kisah 1965 ke pengalaman perempuan yang menjadi tahanan politik.

Film ini mengisahkan perempuan-perempuan yang pernah ditahan di Kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah, termasuk mereka yang dikaitkan dengan Gerwani. Kesaksian para mantan tahanan menjadi bagian utama dokumenter untuk menggambarkan kehidupan mereka selama berada di kamp tersebut.

Plantungan sebelumnya merupakan tempat penampungan penderita lepra sebelum kemudian digunakan sebagai kamp bagi tahanan politik perempuan pada masa Orde Baru.

Melalui pengalaman para perempuan tersebut, film ini juga menunjukkan bahwa persoalan penahanan dan stigma dapat terus memengaruhi kehidupan seseorang bahkan setelah masa penahanan berakhir.