Gabung Kampanye ‘No Music for Genocide’, Paramore Tarik Lagunya dari Spotify Israel
JAKARTA, Genvoice.id - Band rock alternatif asal Amerika Serikat, Paramore, baru-baru ini resmi bergabung dengan kampanye No Music for Genocide, dengan menarik katalog musik mereka dari layanan streaming di wilayah Israel. Langkah ini merupakan bagian dari aksi solidaritas terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza dan penolakan terhadap normalisasi melalui budaya.
Kampanye No Music for Genocide sendiri diluncurkan pada September 2025 dengan tujuan mendorong artis dan label untuk melakukan geo-blocking terhadap karya mereka agar tidak dapat diakses oleh pengguna di Israel. Aksi semacam ini diharapkan bisa menjadi bentuk tekanan budaya atas kebijakan militer Israel yang dalam banyak laporan dituding melakukan pelanggaran HAM serius terhadap warga Palestina.
Dalam pengumuman yang muncul di kanal resmi mereka, Paramore menyebutkan bahwa bergabung dalam kampanye ini adalah bentuk solidaritas mereka pada penderitaan warga Palestina.
Meskipun belum ada pernyataan panjang lebar dari semua anggota band, pihak mereka menegaskan bahwa langkah ini tidak berarti mereka bermusuhan dengan masyarakat Israel secara umum, melainkan kritis terhadap tindakan negara dan kebijakan yang dianggap melanggar nilai kemanusiaan.
Sebelumnya, Paramore memang pernah menyatakan dukungan terhadap kemanusiaan di Gaza, seperti mengajak penggemar berdonasi melalui organisasi kemanusiaan dan merilis barang dagangan yang hasilnya disumbangkan kepada korban konflik.
Masuknya mereka dalam kampanye ini menegaskan bahwa sikap mereka tidak hanya simbolik tetapi juga konkret terhadap penyalahgunaan budaya sebagai alat pemakluman aksi militer.
Paramore bukanlah satu-satunya artis yang bergabung dalam gerakan ini. Sejak awal kampanye, lebih dari 400 artis dan label telah terlibat dalam aksi serupa dan menarik katalog musik mereka dari akses Israel, termasuk band besar seperti Massive Attack dan Fontaines D.C.
Meskipun niat mereka mendapat dukungan luas, aksi semacam geo-blocking tidak semuanya berjalan sempurna. Masalah teknis seperti lisensi global, distribusi ulang konten, dan perbedaan kebijakan platform bisa membuat sebagian musik tetap muncul di wilayah yang seharusnya diblokir.
Selain itu, ada kritik yang mengatakan bahwa aksi seperti ini lebih banyak bersifat simbolik dibandingkan berdampak nyata karena pasar musik Israel mungkin bukan pasar paling signifikan secara pendapatan bagi banyak artis internasional. Namun pendukung kampanye membalas bahwa dampak moral, citra, dan tekanan budaya juga punya nilai yang kuat di arena global.