Google Luncurkan Fitur 'AI Mode' di Inggris, Pencarian Tak Lagi Sama! Publisher dan Pelaku Bisnis Waswas
JAKARTA, GENVOICE.ID - Mesin pencari paling populer di dunia, Google, mulai meluncurkan fitur pencarian terbaru berbasis kecerdasan buatan (AI) di Inggris. Fitur yang disebut "AI Mode" ini digadang-gadang akan mengubah cara orang mencari informasi di internet, dan sekaligus mengancam model bisnis tradisional berbasis lalu lintas web.
Berbeda dari tampilan hasil pencarian klasik yang menampilkan daftar tautan berwarna biru ke berbagai situs, AI Mode menyajikan jawaban langsung dalam gaya percakapan, dengan jumlah tautan yang jauh lebih sedikit.
Meskipun tidak menggantikan mesin pencari Google versi lama, fitur baru ini hadir sebagai opsi yang bisa dipilih pengguna melalui tab khusus atau langsung di kotak pencarian.
Menurut Hema Budaraju, manajer produk pencarian Google, fitur ini hadir untuk merespons perubahan cara pengguna melakukan pencarian.
"Dulu, jika menumpahkan kopi di karpet, orang akan mengetik 'bersihkan noda karpet'. Sekarang, mereka menulis, 'Saya menumpahkan kopi di karpet Berber, dan butuh pembersih yang aman untuk hewan peliharaan'," jelasnya.
Google mengklaim, fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengajukan pertanyaan yang lebih alami dan kompleks, dan AI akan merespons langsung tanpa harus mengarahkan ke banyak situs.
Namun, model ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama bagi media, penerbit, dan pelaku usaha yang sangat bergantung pada lalu lintas dari hasil pencarian Google.
The Daily Mail melaporkan bahwa jumlah klik dari hasil pencarian Google turun hingga 50% sejak fitur AI Overview diperkenalkan di Amerika Serikat, baik di desktop maupun perangkat mobile.
Organisasi seperti Foxglove menyebut, AI membuat pengguna tidak lagi mengeklik tautan berita asli, yang menyebabkan pendapatan iklan media digital tergerus drastis.
"Apa yang dilakukan ringkasan AI ini adalah membuat mata pengguna tetap di halaman Google," ujar Rosa Curling, direktur Foxglove.
Sebuah studi dari Pew Research Center bahkan menunjukkan bahwa pengguna hanya mengeklik 1 tautan dari setiap 100 pencarian jika ada AI Summary di bagian atas. Namun Google membantah keakuratan metodologi studi tersebut.
Google belum memutuskan bagaimana sistem iklan berbayar akan bekerja di AI Mode. Selama ini, perusahaan memperoleh pendapatan besar dari penempatan tautan berbayar di hasil pencarian. Namun dalam AI Mode, struktur tersebut bisa terhapus seluruhnya karena jawaban dikurasi langsung oleh AI.
"Kami belum memfinalisasi bagaimana iklan akan muncul di AI Mode," kata Budaraju.
AI Mode dibangun menggunakan platform Gemini AI milik Google, dan sudah tersedia di AS, India, dan kini Inggris. Namun, fitur ini tidak tersedia di Uni Eropa karena regulasi yang ketat.
Google mengklaim sudah menghasilkan lebih dari 2 miliar ringkasan AI setiap hari dalam lebih dari 40 bahasa.
Namun, peningkatan penggunaan AI ini juga memunculkan kekhawatiran baru soal dampak lingkungan, karena pemrosesan AI memerlukan pusat data besar yang boros energi dan air bersih.
"Kami tetap berkomitmen terhadap keberlanjutan. Google dan Search terus mencari cara paling efisien dan ramah lingkungan untuk menjalankan teknologi kami," kata Budaraju.
Dengan AI Mode yang kini mulai hadir di pasar global, Google membuka babak baru dalam interaksi manusia dengan internet. Namun seiring manfaatnya, muncul tantangan serius bagi publisher, bisnis kecil, dan keberlangsungan ekosistem digital yang bergantung pada trafik pencarian.