Nah Lho! Tanpa Signifikansi Peningkatan Produktivitas, Indonesia Berisiko Tua Sebelum Kaya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Farah Heliantina, menegaskan pentingnya penyelarasan transisi energi dalam kerangka strategi ekonomi nasional.
"Transisi energi bukan sekadar agenda iklim, melainkan strategi integral ekonomi nasional. Energi adalah fondasi untuk menopang pertumbuhan tinggi, dan tanpa peningkatan produktivitas yang signifikan Indonesia berisiko tua sebelum kaya," sebut Farah, Rabu (29/4).
Studi INDEF Green Transition Initiative (INDEF GTI) bersama Systemiq menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan yang diselaraskan dengan kebutuhan kawasan industri dan kawasan ekonomi prioritas, berpotensi menciptakan permintaan listrik sebesar 24-30 Terrawatt (TWh), setara dengan 8-13 Giga Watt (GW) kapasitas surya, serta memobilisasi investasi hingga 13-18 miliar dollar Amerika Serikat (AS).
Estimasi itu baru mencakup delapan kawasan ekonomi khusus yang menjadi fokus kajian sehingga skalanya berpotensi jauh lebih besar jika diperluas.
Dalam diskusi publik bertajuk "Reframing Renewable Energy for Economic Growth: Renewable Energy Zones (REZs) as an Enabling Instrument " juga menegaskan bahwa di tengah gejolak harga energi global akibat ketegangan geopolitik, ketahanan energi Indonesia tidak dapat lagi bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga transisi energi bersih perlu didorong sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti menekankan, kalau energi terbarukan bukan hanya isu pasokan energi, tetapi bagian dari strategi untuk membuka sumber pertumbuhan baru dan memperluas basis ekonomi Indonesia.
Dalam pemanfaatan energi hijau, Esther menekankan agar disesuaikan dengan potensi daerah. "Jika memang sumber energi yang paling efektif surya, ya surya dimaksimalkan. Jangan dipaksakan jenis energi yang tidak sesuai potensi lokal," katanya.
Dengan konsep Renewable Energy Zones (REZs), Esther berharap kebutuhan listrik bisa matching dengan kebutuhan industri di kawasan tersebut. Artinya, pasokan energi hijau dirancang sesuai profil permintaan dan karakteristik kawasan.
Konsep REZs dinilai sebagai instrumen untuk memastikan transisi energi bersih tidak hanya mengejar target iklim, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan menahan laju deindustrialisasi.
Sementara itu, Direktur INDEF GTI, Imaduddin Abdullah, menekankan bahwa percepatan target PLTS 100 GW dalam tiga tahun bergantung pada dua hal utama, yaitu kepastian penyerap listrik dan kemampuan menyalurkan listrik ke kawasan industri sebagai pusat permintaan.
Ia menegaskan bahwa tantangannya bukan hanya membangun pembangkit, tetapi memastikan suplai energi bersih terhubung dengan permintaan industri.
"Pendekatan REZs menjadi penting karena mengintegrasikan lokasi sumber energi, jaringan, kebutuhan industri, dan investasi sejak awal, sehingga transisi energi tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi," sebut Imaduddin.
Jembatani Kesenjangan
Direktur Systemiq, Batari Saraswati, menyampaikan bahwa pendekatan REZs dapat menjembatani kesenjangan antara pengembangan energi terbarukan dan kebutuhan industri, khususnya melalui kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri.
Selama ini jelasnya, perencanaan pembangkit, jaringan, dan permintaan industri masih berjalan terpisah. Dengan REZs seluruh komponen tersebut dirancang secara terintegrasi sejak awal, mulai dari potensi energi, kesiapan jaringan, lokasi industri, hingga kepastian permintaan dan investasi.
"Pendekatan REZs pada kawasan KEK prioritas diperkirakan dapat menciptakan permintaan listrik sebesar 24-30 TWh, setara dengan 8-13 GW kapasitas surya, serta memobilisasi investasi hingga 13-18 miliar dollar AS," kata Batari.ers/E-9