Tertinggi, Industri Pengolahan Logam Dasar Tumbuh 15,71 persen

Genvoice.id | 30 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, salah satu yang pendorong terjadinya ketimpangan pertumbuhan memang terjadi dari sisi sektor yang berkaitan dengan hilirisasi dan juga impor mesin.

"Sektor industri pengolahan logam dasar menjadi sektor dengan pertumbuhan sektoral tertinggi dengan angka 15,71 persen," katanya, Minggu (29/3).

Kemudian, katanya, sektor mesin dan perlengkapan juga semu karena ada importasi mesin besar-besaran di tahun 2025 yang menyebabkan pertumbuhan industri mesin dan perlengkapan meningkat pesar.

Hal itu terkonfirmasi dari PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) mesin yang juga meningkat tajam, serta impor mesin. Di sisi lain, kontribusi kedua sektor tersebut juga minim. Bahkan untuk industri mesin dan perlengkapan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) di bawah 1 persen. Akibatnya, daya dorong industri juga tidak akan optimal sehingga penyerapan tenaga kerja juga akan terbatas.

Industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen secara tahunan tahun lalu di mana industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen. Sementara industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 13,98 persen.

Subsektor lain yang menunjukkan performa stabil adalah industri kimia, farmasi, obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan listrik.

Lembaga riset NEXT Indonesia Center menyatakan meskipun industri pengolahan tumbuh impresif, sektor padat karya masih menghadapi tekanan besar dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (29/3) menyoroti ketimpangan antar subsektor.

Ia menyebut, adanya sunrise industry yang tumbuh pesat, seperti logam dasar dan mesin, namun sunset industry seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, serta karet dan plastik justru tertinggal. Industri karet dan plastik bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,07 persen pada 2025.

Menurut dia, kondisi itu patut diwaspadai karena sektor padat karya merupakan penyerap tenaga kerja signifikan.

"Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi," paparnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total pekerja di sektor industri pengolahan mencapai 20,3 juta orang pada Agustus 2025, atau berkontribusi 13,86 persen terhadap total tenaga kerja nasional. Jumlah tersebut tumbuh 1,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi investasi, realisasi di sektor industri pengolahan mencapai 780,9 triliun rupiah pada 2025, naik dari 721,3 triliun rupiah pada 2024. Namun, kontribusi terhadap total investasi nasional justru turun dari 42,08 persen pada 2024 menjadi 40,44 persen pada 2025.

Penurunan itu jelas Christiantoko dipicu oleh stagnasi Penanaman Modal Asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN).

Christiantoko menekankan perlunya kebijakan reindustrialisasi yang menyasar revitalisasi sektor padat karya, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan distribusi investasi agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan. ers/E-9