Isu Suksesi Memanas, GKR Mangkubumi Kian Dijagokan Jadi Sultanah Pertama Yogyakarta

Genvoice.id | 29 Oct 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Isu suksesi di Keraton Yogyakarta kembali menghangat setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X menyinggung pentingnya partisipasi perempuan dalam regenerasi kepemimpinan. Pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dardias, menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa GKR Mangkubumi, putri sulung Sultan, tengah dipersiapkan untuk menjadi penerus takhta.

"Menurut saya, regenerasi yang dimaksud Sultan adalah suksesi," ujar Bayu, Senin (27/10). Ia menjelaskan bahwa sejak Sabda Raja 2015, Sultan HB X sudah konsisten menyiapkan GKR Mangkubumi sebagai calon penerus. "Beliau memang ingin putrinya maju. Saat saya wawancara tahun 2015, beliau berkata 'laku lakon'-artinya siapa yang dipasrahi tanggung jawab," tambahnya.

Sultan HB X naik takhta pada 7 Maret 1989 menggantikan ayahandanya, Sri Sultan HB IX, yang wafat setahun sebelumnya. Karena tidak memiliki putra laki-laki, wacana suksesi perempuan pun mencuat, membuka kemungkinan GKR Mangkubumi menjadi sultanah pertama dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta.

Pernyataan Sultan dalam Forum Sambung Rasa Kebangsaan di Keraton Yogyakarta, Minggu (26/10), disebut Bayu sebagai bentuk penegasan ulang dari pesan yang sudah ia sampaikan satu dekade lalu lewat Sabda Raja dan Sabda Tama. Kini, dengan perubahan hukum, jalan bagi perempuan kian terbuka.

Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya menghapus kata "istri" dalam Pasal 18 ayat (1) huruf m UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, yang sempat menimbulkan tafsir bahwa hanya laki-laki bisa menjadi Gubernur DIY. "Kalau dulu undang-undangnya membatasi, sekarang tidak lagi. Itu sinyal kuat kalau peluang perempuan-terutama GKR Mangkubumi-semakin besar," kata Bayu.

Secara de facto, GKR Mangkubumi bersama saudari-saudarinya disebut telah menjalankan banyak fungsi kepemimpinan di Keraton. Mereka memprakarsai sejumlah pembaruan, seperti renovasi Museum Kereta Wahanarata, pendirian Yogyakarta Royal Orchestra (YRO), dan modernisasi tata naskah paprentahan. "Dalam beberapa tahun terakhir, peran putri-putri Sultan sangat besar dalam revitalisasi budaya dan administrasi Keraton," tutur Bayu.

Meski begitu, langkah GKR Mangkubumi menuju takhta masih menghadapi tantangan. Ia perlu menyesuaikan gelar sesuai aturan dalam UU Keistimewaan DIY, serta menghadapi sebagian pangeran yang masih mempertahankan sistem patriarkal. Namun Bayu menilai, pengaruh kuat Sultan HB X dan dukungan publik yang luas menjadi modal besar bagi GKR Mangkubumi.

"Isu ini memang ramai di tingkat elit, tapi masyarakat Yogyakarta cenderung menerima. Mereka melihat GKR Mangkubumi sudah aktif, cakap, dan layak meneruskan jejak ayahandanya," pungkas Bayu.