Darah Tumpah di Muktamar PPP! Adu Jotos Pecah di Tengah Sengketa Kursi Ketua

Genvoice.id | 29 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Situasi panas mewarnai pelaksanaan Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digelar di Jakarta Utara. Ketua Umum PPP, Muhammad Mardiono, mengungkapkan bahwa bentrok antar kader yang terjadi usai pembukaan muktamar menyebabkan sejumlah kader partai mengalami luka-luka hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

"Ada beberapa kader kami yang saat ini sedang ada di rumah sakit, yang mengalami cedera di bagian kepala, kemudian di bagian bibir, dan lain sebagainya," ungkap Mardiono.

Ia menyayangkan terjadinya keributan di forum tertinggi partai tersebut, apalagi sampai menimbulkan korban. Sejak awal muktamar dibuka, menurutnya sudah terlihat gelagat yang mengarah pada kegaduhan, hingga akhirnya benar-benar meledak menjadi bentrok fisik antar kubu yang berbeda pandangan politik.

Kericuhan disebut terjadi antara pihak yang mendukung kepemimpinan Mardiono untuk kembali melanjutkan masa jabatannya, dengan pihak yang ingin muktamar melahirkan ketua umum baru. Ketegangan memuncak saat peserta keluar dari ruang sidang. Adu argumen dan teriakan berubah menjadi aksi saling dorong hingga baku hantam.

Mardiono menegaskan bahwa partainya tidak akan tinggal diam terhadap peristiwa ini. Ia menyebut akan menempuh jalur hukum, karena menurutnya proses demokrasi di dalam partai tidak seharusnya dinodai dengan tindakan anarkistis dan inkonstitusional.

"Tentu ini nanti akan kita lanjutkan dengan proses hukum," tegasnya.

Kericuhan di tubuh partai berlambang ka'bah ini menambah panjang daftar dinamika internal PPP dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, Mardiono menegaskan bahwa partai tetap berkomitmen menyelesaikan masalah secara konstitusional dan tidak akan membiarkan tindakan kekerasan menjadi norma baru dalam proses politik internal.

Muktamar X yang seharusnya menjadi ajang konsolidasi dan regenerasi justru berubah menjadi ajang adu kekuatan politik yang berujung pada luka fisik dan citra partai yang tercoreng. Masyarakat kini menanti langkah tegas partai dalam menyelesaikan konflik ini, termasuk memastikan transparansi proses hukum terhadap pelaku kericuhan.