Rantis Rimueng atau Barracuda? Ini Fakta-Fakta Mobil Brimob yang Melindas Ojol hingga Tewas

Genvoice.id | 29 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Insiden tragis kembali mengguncang Jakarta pada Kamis malam (28/8). Seorang driver ojek online bernama Affan Kurniawan (21 tahun) tewas setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob yang diketahui jenisnya adalah Barracuda di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Peristiwa itu tak hanya mengundang duka mendalam, tetapi juga mempertanyakan penggunaan kendaraan lapis baja berat di tengah demonstrasi yang melibatkan warga sipil.

Mengutip dari Suara, Jumat (29/8), dua jenis rantis Brimob yang sering terlihat dalam operasi keamanan adalah Rimueng dan Barracuda. Keduanya sama-sama berukuran besar dengan perlindungan baja tebal, tetapi memiliki spesifikasi teknis yang berbeda.

Rimueng - Harimau Karya Anak Bangsa

Rimueng merupakan produk dalam negeri sekaligus simbol kebanggaan industri pertahanan nasional. Kendaraan ini memiliki bobot sekitar 14 ton dan dirancang untuk menahan tembakan senjata ringan. Selain itu, Rimueng mampu mengangkut hingga 12 personel bersenjata lengkap. Mesin diesel yang dipakainya membuat kendaraan ini tangguh melintas di medan perkotaan maupun pedalaman. Salah satu fitur keamanannya adalah ban run flat tire yang memungkinkan tetap bergerak meskipun bannya bocor atau tertembak.

Barracuda - Benteng Berjalan Impor dari Jerman

Berbeda dengan Rimueng, Barracuda adalah kendaraan Brimob yang berasal dari Jerman. Lapisan bajanya memiliki ketebalan sekitar 8 milimeter sehingga mampu menahan peluru kaliber 7,62 milimeter maupun serpihan granat. Barracuda dibangun di atas sasis truk Unimog seri 5000 yang terkenal tangguh. Kendaraan ini menggunakan mesin diesel Mercedes-Benz OM 924 LA berkapasitas 3.730 cc dengan tenaga mencapai 218 hp. Sistem penggerak empat roda membuatnya sanggup melaju hingga kecepatan maksimal sekitar 100 kilometer per jam. Selain itu, Barracuda juga dapat dipasangi senapan mesin berat di bagian atap.

Mana yang Lebih Unggul?

Rimueng menonjol sebagai simbol kemandirian dan fleksibilitas dalam berbagai operasi, sedangkan Barracuda hadir sebagai kendaraan berat dengan proteksi lebih tinggi serta kemampuan tempur yang lebih lengkap. Namun, insiden tewasnya Affan Kurniawan menjadi pengingat bahwa penggunaan kendaraan sekelas ini di jalan umum dan dalam demonstrasi sipil menuntut tanggung jawab yang besar.

Tragedi tersebut memberikan pelajaran pahit bahwa kekuatan besar, baik dalam bentuk mesin maupun kendaraan militer, harus selalu diiringi kontrol, edukasi, dan pertimbangan etis yang matang. Apalagi ketika berhadapan dengan masyarakat sipil yang sama sekali tidak bersenjata.