Ayo! Ciptakan Iklim Investasi Sehat Agar Target 100 GW PLTS Tercapai Tepat Waktu
JAKARTA, GENVOICE.ID - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan, investasi energi surya global mengalami percepatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Percepatan itu berkorelasi langsung dengan peningkatan kapasitas terpasang PLTS di berbagai negara.
Ia menjelaskan, pada periode 2021-2025 investasi solar mendominasi investasi energi terbarukan. Investasi tersebut tumbuh 22 persen per tahun, sementara kapasitas PLTS tumbuh 41 persen pada periode yang sama atau sekitar dua kali lipat.
Menurut Fabby, lonjakan itu dipicu turunnya harga sel dan modul surya hingga 30 persen dalam periode yang sama. "Dari sini kita bisa lihat bahwa hari ini setiap dollar yang diinvestasikan dapat membeli kapasitas PLTS yang lebih besar, dibandingkan periode sebelum 2021," katanya.
Fabby menambahkan, sejak kenaikan tajam harga energi fosil pada 2022, pertumbuhan PLTS menjadi eksplosif di berbagai negara, termasuk Pakistan dan India.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa pemasangan PLTS menjadi strategi negara dan konsumen listrik untuk mengatasi kenaikan harga energi fosil yang menyebabkan harga listrik menjadi sangat mahal di negara-negara tersebut," katanya.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma menyarankan pemerintah untuk merespons tren itu dengan kebijakan yang adaptif dan menyusun cetak biru yang realistis untuk mengejar target 100 GW PLTS.
Menurutnya, pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang sehat agar target Presiden membangun 100 GW PLTS dalam tiga tahun bisa tercapai.
"Target ini membutuhkan jutaan panel surya dan lahan yang sangat luas. Proyek ini tentu membutuhkan penyederhanaan regulasi dan investasi yang tidak sedikit," kata Surya.
Paling Agresif
Laporan World Energy Investment 2026 dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis pada Kamis (28/5) menunjukkan investasi proyek tenaga surya global pada 2026 diperkirakan mencapai 365 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar 6.500 triliun rupiah lebih.
Nilai investasi itu makin mengukuhkan energi surya sebagai sektor investasi paling agresif dalam energi global di tengah ketidakpastian geopolitik dan krisis energi dunia.
Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya.
Sementara itu, investasi tenaga angin (bayu) diperkirakan mencapai 200 miliar dollar AS atau sekitar 3.569 triliun rupiah dan hydropower mencapai 75 miliar dollar AS atau sekitar 1.338 triliun rupiah.
IEA sendiri menyebut investasi 665 miliar dollar AS atau sekitar 11.868 triliun rupiah tahun ini mengalir ke proyek energi terbarukan secara global. Meski total investasi energi terbarukan secara keseluruhan mengalami penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya, energi hijau masih mendominasi sekitar 70 persen belanja pembangkit listrik dunia.
Penurunan investasi tahunan itu bukan disebabkan melemahnya minat pasar, melainkan karena biaya teknologi yang semakin murah, terutama panel surya. Biaya panel surya turun drastis IEA mencatat biaya investasi untuk membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga surya turun drastis dalam satu dekade terakhir.
Pembangunan untuk kapasitas PLTS 1 gigawatt (GW) pada 2015 membutuhkan investasi sekitar 3 miliar dollar AS atau 53,5 triliun rupiah. Sedangkan, pada 2025, kebutuhan investasi rata-rata turun menjadi sekitar 700 juta dollar AS atau 12,49 triliun rupiah per GW.
Penurunan biaya itu didorong oleh jatuhnya harga modul surya dan peningkatan skala produksi global. Dalam Negeri IEA juga mencatat inovasi teknologi telah memangkas biaya energi surya hingga sekitar 80 persen dalam periode 2015-2026. Penurunan serupa juga terjadi pada baterai penyimpanan energi dan kendaraan listrik.
Turunnya biaya investasi membuat kapasitas PLTS global melonjak tajam. Dalam laporan itu, IEA menunjukkan tambahan kapasitas tenaga surya tahunan meningkat hampir 10 kali lipat sejak 2015. Konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global menjadi salah satu faktor yang mempercepat penggunaan energi surya di berbagai negara.
IEA menyebut negara-negara pengimpor energi kini mulai mencari sumber energi domestik yang lebih aman dan stabil untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. "Perubahan persepsi tentang risiko dan keandalan diperkirakan akan memicu minat baru pada berbagai sumber energi yang tersedia di dalam negeri," kata IEA. ers/E-9