Untuk Pertama Kalinya, Indonesia Tak Lolos Fase Grup Thomas Cup 2026

Genvoice.id | 29 Apr 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Untuk pertama kalinya, tim putra Indonesia harus menelan pil pahit setelah tersingkir di fase grup usai kalah telak 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D yang berlangsung di Horsens, Denmark.

Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk biasa. Ini menjadi catatan paling kelam dalam sejarah bulu tangkis Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak debut pada 1958, Indonesia gagal melaju ke fase gugur.

Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai raksasa bulu tangkis dunia dengan koleksi 14 gelar juara Piala Thomas. Bahkan dalam catatan sebelumnya, pencapaian terburuk Indonesia hanya mentok di perempat final pada 2012. Namun kini, sejarah itu harus runtuh.

Padahal, langkah Indonesia sempat terlihat meyakinkan di awal turnamen. Jonatan Christie dan rekan-rekan sukses menyapu bersih Aljazair dengan skor 5-0 dan menumbangkan Thailand 3-2 dalam laga ketat.

Sayangnya, kekalahan dari Prancis di laga terakhir menjadi penentu nasib. Dalam persaingan ketat Grup D, Indonesia harus puas finis di posisi ketiga, kalah selisih dari Thailand dan Prancis yang sama-sama mengoleksi poin serupa.

Thailand keluar sebagai juara grup, sementara Prancis melaju sebagai runner-up. Sistem perhitungan selisih kemenangan menjadi faktor yang menjegal langkah Indonesia.

Dalam laga krusial melawan Prancis, Indonesia sebenarnya punya peluang, tetapi justru gagal total di empat partai awal.

Jonatan Christie harus mengakui keunggulan Christo Popov dalam dua gim langsung. Alwi Farhan menyusul kalah dari Alex Lanier. Anthony Sinisuka Ginting sempat memberi perlawanan sengit, tetapi akhirnya tumbang dalam laga tiga gim dramatis melawan Toma Junior Popov.

Harapan terakhir pupus saat pasangan ganda Sabar Karyaman Gutama dan Mohammad Reza Pahlevi Isfahani juga gagal menyumbang poin setelah kalah dari Eloi Adam dan Leo Rossi.

Satu-satunya kemenangan Indonesia baru hadir di partai penutup lewat pasangan Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri. Mereka sukses mengalahkan duet Popov bersaudara, tetapi kemenangan itu sudah terlambat untuk mengubah keadaan.

Hasil di Horsens ini menjadi tamparan keras bagi bulu tangkis Indonesia. Tradisi panjang yang selama ini dijaga akhirnya terputus, sekaligus menjadi alarm serius untuk evaluasi besar-besaran ke depan.